Amien Rais dan Jokowi

Amien Rais Kembali Serang Jokowi

Jakarta, MS

Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais kembali 'menyerang' Presiden Jokowi. Kali ini dia menyebut kegagalan gagasan ekonomi Jokowi sampai Nawacita.
"Jadi menurut saya, Jokowinomics itu memang belum berhasil. Kalau saya katakan gagal, masih ada 8 bulan lagi sampai pilpres, siapa tahu ada keajaiban, sukses," kata Amien dalam sambutannya di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (4/7).
Soal Jokowinomics, pada 2017 Muhammadiyah pernah mengundang Presiden Jokowi untuk hadir di acara tanwir di Ambon. Kala itu Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir menyatakan pihaknya ingin mendengar gagasan ekonomi Jokowi yang mungkin bisa disebut sebagai 'Jokowinomics'.
Kembali ke 'serangan' Amien Rais, yang juga mantan Ketum Muhammadiyah, dia juga menyebut adanya diskriminasi dalam demokrasi saat ini. Meski tak menyebutkan detail kasus yang dimaksud, Amien menilai ada diskriminasi di dunia hukum.
"Lihat apa yang tidak tebang pilih di negeri kita ini? Lihat hukum, yang kecil dikejar-kejar, yang gede mana mungkin," kata Amien.
Jokowi mengusung jargon 'Revolusi Mental' dalam kampanyenya pada 2014. Amien Rais mempertanyakan realisasi visi tersebut.
"Nawacita jadi Nawasengsara, kemudian Revolusi Mental itu sampai ke mana? Yang direvolusi mental yang kayak apa?" kata Amien.
Nawacita merupakan sembilan program prioritas yang terdapat dalam visi dan misi Jokowi-Jusuf Kalla saat Pilpres 2014. Kesembilan program itu kemudian terejawantah dalam kebijakan pemerintahan Jokowi-JK periode 2014-2019.
Kritik ini dilontarkan Amien Rais saat menggambarkan kondisi negara yang menurutnya tidak membaik. Dia menyebut pemimpin bangsa seakan-akan menyodorkan demokrasi, tapi kenyataannya diskriminatif.
"Bahkan dengan firmed saya mengatakan, KPK saja itu merupakan lembaga obstruction of justice. Yang puluhan triliun pasti lewat, tapi yang OTT seratus juta, dua ratus dikejar," ujar Amien.
Setelah melontarkan sederet 'serangan', Amien mengatakan 'cukup' untuk Jokowi. Tak hanya Muhammadiyah, kalangan Nahdlatul Ulama pun diajaknya. "Jadi Muhammadiyah, nahdliyin, dan kita yang paham masalah itu harus mengatakan enough is enough," kata Amien Rais.
Amien mengatakan enough is enough sembari mengangkat kisah Nabi Yusuf. Ia mengajak tokoh yang bisa memberikan solusi untuk muncul.
"Saya kira is now or never, jadi saya kira yang merasa insyaallah bisa, berkumpullah, menyatukan kekuatan, kemudian satu lagi saya katakan yang saya hadapi ini bukan pak ini dan pak itu, di belakangnya ini, itu ada 'dajjal ekonomi', 'dajjal intelijen', itu yang menyebabkan kelihatannya gagah," pungkas Amien.
Serangan Amien ditanggapi dengan sindiran halus oleh Partai Hanura. Salah satu elit partai pengusung Jokowi di Pilpres 2019 mendatang menyebut Amien tak memahami visi-misi Jokowi, karena itu dirinya tidak bisa melihat keberhasilan Nawacita Jokowi.
"Apakah Amien Rais ngerti visi-misi Jokowi? Kayaknya nggak tuh, karena matanya rabun, nggak bisa melihat semua itu sedang berlangsung," kata Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir kepada wartawan, Rabu kemarin.
Inas menilai kritik 'Nawasengsara' yang dilontarkan Amien didasarkan pada rasa kecemburuan Amien. Amien, kata Inas, cemburu terhadap keberhasilan pemerintahan Jokowi-JK. "Ya dia merasa sengsara dengan kemajuan Indonesia di tangan Jokowi," ujarnya.
Inas juga menilai kritik-kritik yang selama ini dilontarkan Amien Rais kepada pemerintah bukanlah sebuah manuver politik. Kritik itu hanyalah bentuk serangan membabi buta Amien Rais.
"Kalau manuver itu pakai perhitungan yang matang, tapi kalau Amien Rais kan nggak bisa berhitung dengan matang, yang ada sih main hantam kromo," kata Inas. "Buktinya, cita-citanya pengin jadi presiden nggak pernah terwujud, malah nyungsep di selokan," imbuhnya.(dtc)

 


Komentar