Kapolda Saat Melantik Para Siswa SPN


Anak Petani, Nelayan dan Pedagang Mendominasi

7 Bulan Dididik, SPN Karombasan ‘Lahirkan’ 269 Bripda Muda

 

Laporan : Rhendi UMAR

KORPS Bhayangkara se-Tanah Air bersyukur. Ratusan brigadir baru kembali dilahirkan SPN Karombasan. Untuk maju hingga titik akhir ini, bukan hal yang gampang. Karena, sederet proses pendidikan dan pembentukan harus dilalui. Sekira 7 bulan atau 1400 jam pelajaran wajib dituntaskan.

Senin (6/3), awan sukacita meninggi di atas langit Sekolah Polisi Negara (SPN) Karombasan Manado. Hari itu menjadi momentum bersejarah untuk 269 Brigadir Polisi Dua (Bripda) bersama keluarga. Setelah melewati perjuangan berat, masa yudisium akhirnya dijalani. Itu sebagai titik awal sebuah tugas mulia sebagai pengayom masyarakat, akan segera dimulai. Yudisium yang digelar di Graha CHR Dotulong SPN Karombasan, dipimpin Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulut Irjen Pol  Bambang Waskito didampingi Karo SDM Polda Sulut Kombes Pol Ruslan Aspan, Kepala SPN Karombasan Manado Kombes Pol Henny Posumah serta dihadiri seluruh Pejabat Utama Polda Sulut.

Kepala SPN saat memaparkan profil siswa, menguraikan, pendidikan pembentukan telah dilaksanakan selama 7 bulan melalui tahapan pembentukan dasar bhayangkara serta pembekalan profesi kepolisian. Jadi, pembulatan dengan jumlah mata pelajaran mencapai 1400 jam pelajaran.

“Jumlah siswa yang dididik di SPN Karombasan sebanyak 269 orang dan dinyatakan lulus semua, dengan perincian, pengiriman Polda Sulut 191 orang, Polda Gorontalo 72 orang, Polda Sulsel 2 orang, Polda Maluku 2 orang dan Polda Maluku Utara 2 orang,” rinci Posumah.

Menariknya, Mantan Kapolres Minahasa ini mengakui,  mayoritas pekerjaan dari orang tua siswa merupakan petani, nelayan dan pedagang, yaitu sebanyak 104 orang. Disusul anak anggota Polri 32 orang, pensiunan Polri/TNI 10 orang, swasta 34 orang, wira usaha 60 orang dan PNS 38 orang.

“Dari hasil pendidikan yang ditandai dengan penyerahan ijasah yang diserahkan pada acara yudisium tersebut, 3 orang siswa dinyatakan memperoleh nilai tertinggi, yaitu Arkelaus G. Mumek dengan nilai 79,91, Andre Pangpang nilai 79,18 dan Zul Ikram nilai 78,81,” tukas Posumah.

Sementara itu, Kapolda Waskito saat memberikan sambutan mengatakan, yudisium merupakan pengukuhan pendidikan pembentukan Bintara Polri yang dianggap telah memenuhi syarat kelulusan pada suatu program pendidikan dan pelatihan yang telah ditetapkan dalam kurikulum Lemdiklat Polri ataupun peraturan lainnya. Jelas dia, pelaksanaan yudisium menjadi indikator bahwa para siswa telah menyelesaikan pendidikan dan latihan, sehingga berhak menyandang pangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda). “Harus terus belajar dan berlatih guna meningkatkan kemampuan,” tegas Kapolda.

Masih Waskito, siswa harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar perorangan yang setidaknya meliputi kepolisian tugas umum, intelejen dasar dan deteksi dini, negosiasi, komunikasi sosial, pemecahan masalah sosial dan berbicara efektif.

Ia pun berharap para Bripda muda ini dapat menjadi teladan di tengah-tengah masyarakat, disiplin dan berupaya terus menigkatkan kinerja serta memiliki intergritas mulia di tengah-tengah pergolakan dunia yang semakin ketat, sehingga dalam menjalankan pengabdian di tengah-tengah masyarakat dapat secara profesional dan terpercaya. “Pengabdian terbaik para siswa telah ditunggu oleh keluarga, masyarakat dan negara, jangan pernah berhenti belajar dan berlatih. Ilmu pengetahuan dan keterampilan tidak hanya diperoleh dari tenaga pendidik, tetapi belajar dan memaknai dari segala persoalan yang ada di lingkungan sekitar,” pungkas Mantan Kapolda Jabar itu.(*)

 

Komentar