AKBP Arya Perdana (Ist)

Aparat Diduga Ikut ‘Main’ Tambang Ratatotok


Ratahan, MS

Kisruh tambang rakyat di Ratatotok tak pernah berhenti. Penangkapan besar-besaran beberapa waktu lalu, tak menyurutkan aksi para pelanggar hukum itu. Baru-baru ini, kepolisian kembali meredam kekacauan di lokasi, dan menyita 20 karung batu yang mengandung emas.

Kendati korban jiwa akibat pertikaian terus berjatuhan, praktek tambang liar terus berjalan. Oknum aparat yang terus diganti untuk berjaga tak lepas dari godaan. Bahkan oknum aparat yang ditugaskan mengamankan lokasi, menerobos garis polisi. Larangan agar tak ada aktivitas di wilayah pertambangan seakan tak berguna meski perintah langsung datang dari atasan. Hanya warga buru tambang biasa yang menjadi korban dan diamankan.

Sementara yang menyuruh dan mengendalikan, bebas berkeliaran karena diduga ada kedekatan dengan aparat. Seorang penambang mengaku kecewa akan kinerja aparat. "Yang menyuruh penambang (bos, red), tidak diamankan karena memiliki banyak uang. Yang jadi korban adalah penambang yang disuruh masuk. Mereka ditangkap dan ditahan," katanya.

Ia bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa aparat yang berjaga justru membuka dan menyuruh penambang masuk. "Hasilnya dibagi dengan aparat yang berjaga dengan orang yang menyuruh. Kami hanya mendapat bagian kecil dari hasil, tapi kalau ada penangkapan kami yang diseraHkan," kata pria ini sambil berlinang air mata.

Ia mengaku seolah dibodohi oleh oknum yang tak bertanggung jawab. "Padahal nyawa kami taruhan saat dalam lobang. Kemarin, sempat ada yang hampir membakar lobang yang masih ada penambang di dalamnya," katanya.

Menurutnya, harus ada aparat yang jujur untuk menjaga tambang tersebut. "Selama ini sudah banyak yang diganti berjaga tapi semua mencari untung sendiri. Bahkan polisi yang buka garis polisi," akunya. Sebaiknya kata dia, tambang sengketa tersebut ditutup. "Diledakkan saja agar tak ada korban lagi dan tak ada yang menang sendiri," usulnya.

Lokasi tamambang yang sudah ditutup sejak Desember lalu itu, kembali beraktivitas. Aparat yang berjaga dilokasi itu terkesan hanya membiarkan. Kapolres Minsel Mitra, AKBP Arya Perdana, saat dikonfirmasi mengatakan, ada barang bukti yang diamankan. "Polres tidak pernah membuka lobang yang masih ada police line. Hanya saja ada yang coba-coba masuk. Mungki belum kapok dengan contoh beberapa orang yang kita proses," katanya.

"Kalau konflik antar penambang, dari dulu memang ada. Sebab mereka semua memperebutkan yang bukan haknya. Tadi (kemarin, red) kita dapat informasi ada penambangan, dan kita ke TKP, serta mengamankan 20 karung rep," sambungnya.

Dikatakan Perdana, aparat akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. "Nanti, kita periksa saksinya dulu sebelum menetapkan siapa tersangkanya. Hanya saja untuk memperkarakan secara hukum, diperlukan keterangan tersangka yang menyatakan siapa yang menyuruh mereka," paparnya.

Terkait kedekatan oknum warga dengan aparat yang menjadi aktor pembobolan policeline, juga dibenarkan Perdana. "Kalau dia (warga, red) dekat dengan aparat, mungkin iya. Karena dulu memang dekat," akunya.

Dijelaskan Perdana, selama ini, siapa saja yang menambang tetap diproses. "Anggota yang ikut nambang, juga saya proses kemarin. Dan jika masih ada aparat yang menambang, tetap akan saya proses. Di sana saya minta anggota saya dan TNI untuk berjaga supaya tidak ada yang masuk menambang," tegas Perdana.

Ia juga menegaskan bahwa isu yang menyatakan bahwa ada aparat yang mengendalikan, itu tidak benar. "Kalau ada yang berpendapat ada pihak-pihak yang dapat mengendalikan aparat, khususnya saya, saya nyatakan itu tidak benar. Sebab saya tidak pernah mau dikendalikan," timpalnya.

Apalagi menurutnya jika menerima sesuatu. "Sampai saat ini saya tidak pernah menerima apapun dari siapapun, terkait tambang Ratatotok ini. Jadi saya pastikan saya tidak kendalikan, termasuk untuk melakukan penangkapan para penambang," pungkas Perdana.(didi gara)

 

Komentar

Populer hari ini

Sponsors

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado