Aplikasi Patra

Aplikasi Patra, ‘Nafas’ Baru Pedagang Tradisional

Laporan: Joy WATANIA

TEROBOSAN baru untuk pedagang tradisional, lahir di Kota Bitung. Melalui Dinas Perdagangan, Pemerintah Kota Bitung menciptakan aplikasi khusus untuk menjual produk para pedagang tradisional. Nama aplikasi itu, Patra, diambil dari singkatan Pasar Tradisional.

Aplikasi berbasis android pada telepon selular (ponsel) ini akan diluncurkan di pertengahan November 2017. Menurut Kepala Dinas (Kadis) Perdagangan Kota Bitung, Beny Lontoh, program tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya saing pedagang tradisional menghadapi gencarnya ekspansi pasar modern yang telah merambah ke kampung-kampung.

”Menjamurnya pasar modern, dalam beberapa tahun terakhir mendesak pangsa pasar tradisional. Kami prihatin dengan kondisi ini, sehingga negara harus hadir di sini. Dan Dinas Perdagangan Kota Bitung sebagai perpanjangan tangan pemerintah membuat terobosan, dengan Patra online dalam rangka mengangkat fungsi pasar tradisional,” papar Lontoh.

Menurut Lontoh, para pedagang tradisional secara umum harus mengikuti tren teknologi dan tidak alergi dengan perkembangan teknologi informasi. Karena perdagangan online melalui aplikasi, media sosial dan web saat ini, banyak menjadi pilihan para konsumen.

Dinas Perdagangan Kota Bitung, dalam program Patra online, menjadi operator dan fasilitator untuk membantu memasarkan barang-barang pedagang tradisional. Harga bahan pokok sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah. Untuk tahap awal aplikasi Patra menyediakan 14 bahan pokok. “Operator Patra menggilir pedagang sesuai antrian, sehingga tidak ada persaingan harga dan memenuhi asas keadilan,” tambah Lontoh.

Sedangkan untuk mengantarkan barang langsung ke konsumen, aplikasi Patra menggunakan jasa ojek yang telah mendaftar, dengan harga terjangkau, sesuai jarak pedagang dengan rumah konsumen.

Untuk tahap awal, konsumen dibagi dua zonasi, yakni Pasar Induk Pinasungkulan, Kelurahan Sagerat dan Pasar Winenet. Untuk Pasar Sagerat akan melayani area Kecamatan Ranowulu, Matuari dan Girian. Sedangkan Pasar Winenet  melayani konsumen di Kecamatan Aertembaga, Maesa dan Madidir.

“Pada tahun 2018 kami baru akan melayani konsumen di Kecamatan Lembeh Utara dan Lembeh Selatan. Kami harus mengkonsolidasikan dulu para pedagang di Pasar Papusungan, serta operator jasa telekomunikasi. Karena program ini harus dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Kota Bitung, tak terkecuali masyarakat Pulau Lembeh,” tegas Lontoh.

Untuk menjadi konsumen Patra, warga Kota Bitung dapat mengunduh aplikasi tersebut di playstore, dan mengisi aplikasi sesuai kartu identitas Kartu Tanda Penduduk (KTP). Operator Patra, kata Lontoh, akan memungut jasa operasional sebesar 3 % dari harga barang. Dari jumlah tersebut, 1 %  untuk membayar jasa provider internet (telkomsel), 1 % untuk operasional dan maitenance program, serta  1 % untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD). ”Konsumen dapat belanja secara cash atau transfer. Jika ada konsumen yang melakukan penipuan, akan di-blacklist dan dilaporkan ke Polisi. Hal ini kami lakukan agar aplikasi ini tidak digunakan untuk main-main,” terang Lontoh.

Sejumlah pedagang Pasar Pinasungkulan Sagerat, antusias menyambut aplikasi Patra. Karena Pasar yang telah ditetapkan sebagai Pasar Induk oleh Pemerintah Daerah Kota Bitung tersebut, hingga kini masih sepi dari pembeli. “Terobosan ini sangat bagus bagi kami, menyikapi sepinya Pasar Sagerat. Mudah-mudahan dengan program ini para pedagang yang menjalankan usaha di tempat lain akan kembali menempati kios-kios yang kini kosong,” kata Iskandar Soleman, pedagang mie di pasar tersebut.

Diungkapkan Lontoh, Aplikasi Patra telah ditawar oleh salah seorang pengusaha retail Jakarta, sebesar Rp 2 Miliar. Padahal program tersebut masih dalam tahap development. Sejumlah pemerintah daerah juga akan memakai program Patra, untuk menghidupkan pedagang tradisional.

“Dinas Perdagangan Kota Denpasar, Provinsi Bali, jauh-jauh hari menegaskan kepada kami akan memakai program Patra Online. Dan kami sebagai operator dan fasilitator Patra Online terbuka dan menyiapkan aplikasi tersebut untuk dapat dipakai di seluruh Indonesia. Sehingga kami membuat program terobosan ini, dari Bitung untuk Indonesia,” ujar Lontoh.(*)

 


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.