Foto: Hein Arina

ARINA NAKHODAI GMIM, SEGUDANG PR MENANTI

Manado, MS

 

Pergumulan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), berbuah manis. Pesta iman pemilihan pucuk pimpinan organisasi gereja terbesar di Sulawesi Utara (Sulut), yang dihelat di Grand Kawanua Convention Centre (GKCC) Kairagi Manado, Rabu (21/3) kemarin, berjalan damai dan lancar. Pdt DR Hein Arina, terpilih sebagai Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM periode 2018-2022 lewat proses pemilihan yang berlangsung demokratis.

Dalam proses pemilihan yang diikuti 1702 pemilih dari 1751 peserta yang memiliki hak pilih, Arina berhasil mendapat 1110 suara (65 persen) disusul Pdt DR Hendry Runtuwene 466 (27 persen) suara dan Pdt Petra Rembang 96 suara (6 persen).  Apresiasi dan ucapan selamat bersahut-sahutan. Utamanya dari warga GMIM. Baik dari peserta dan warga GMIM di lokasi pelaksanaan, proses serta dinamika di pemilihan orang nomor satu di GMIM itu, sangat menyedot perhatian besar dari masyarakat Nyiur Melambai, khususnya dari warga GMIM dalam beberapa hari terakhir ini. Pun begitu, tak sedikit asa, harapan,  dan pesan yang dikumandangkan oleh para warga maupun tokoh GMIM untuk Ketua Sinode terpilih serta BPMS yang akan terpilih.

Seperti yang diungkap Ketua Komisi Pria/Kaum Bapa (P/KB) Wilayah Tomohon Satu, Pnt Jimmy Feidie Eman. “Pertama tentu, selamat atas terpilihnya Pdt Hein Arina sebagai Ketua BPMS GMIM. Kita berharap Ketua terpilih beserta BPMS yang terpilih dan dipercayakan Tuhan dalam periode pelayanan 2018-2022, akan terus disadarkan sebagai hamba dan pelayan Yesus Kristus serta akan akan memimpin GMIM sebagai arak-arakan untuk memuliakan nama Tuhan,” harap Walikota Tomohon.

BPMS terpilih juga diharapkan mampu merangkul semua anggota jemaat untuk bersama-sama membangun GMIM serta negara dan bangsa Indonesia. “Selain menjalankan tugas pelayanan, kiranya BPMS yang terpilih menjadi teladan di jemaat maupun sesama umat beragama,” tandas Ketua P/KB Jemaat GMIM Maranatha Paslaten, Rabu (21/3) malam.

Senada disampaikan Ketua P/KB Sinode GMIM periode 2014-2018, Pnt Stefa BAN Liow.  BPMS yang ditunjuk Tuhan dalam pesta iman untuk selalu mengedepankan tugas dan panggilan gereja untuk melayani.  Sebab, sebagai gereja bangsa, GMIM harus senantiasa memperkokoh jati diri, integritas dan citranya di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. “Gereja juga berperan dalam pembangunan,” ajak Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) itu.

BPMS GMIM juga didorong untuk meningkatkan sinergitas dengan eksekutif, yudikatif dan legislatif sebagai suatu kelembagaan, sekaligus menyampaikan suara kenabian demi keadilan dan kebenaran. "Tidak kalah pentingnya membangun arak-arakan oikumenis, mencegah dan menanggulangi kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan serta penyakit sosial masyarakat," imbuh Ketua P/KB Wilayah Tomohon IV.

DORONG REKONSILIASI UKIT DAN PROBLEMATIK LAINNYA

Harapan perbaikan dan pembenahan dari sederet problematik di tubuh GMIM juga ditaruh di pundak Ketua BPMS terpilih, Pdt Hein Arina bersama BPMS terpilih. Seluruh BPMS terpilih, ditantang untuk menyelesaikan segala pergumulan di tubuh GMIM.

“Kita berharap BPMS terpilih, akan mampu membawa GMIM menjadi gereja yang kudus, am dan rasuli,” harap Ketua Remaja Wilayah Langowan IV, Pnt Irwany Maki.

“Juga mampu menjalankan upaya rekonsiliasi UKIT yang selama ini menjadi salah satu persoalan di tubuh GMIM yang belum kunjung selesai,” sambung bekas Wakil Ketua Pemuda Sinode GMIM itu.

Tak hanya itu, BPMS juga diminta untuk dapat berperan dalam menghadapi revolusi industri. “Itu tentu perlu mengoptimalkan pembinaan bagi warga gereja terkait perkembangan iptek, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan,” ujar Wakil Sekretaris Remaja Sinode GMIM terpilih, Periode 2018-2022 tersebut.

Yang tak kalah pentingnya lagi, BPMS yang baru dituntut untuk bisa  menterjemahkan sekaligus merealisasikan keputusan-keputusan yang ditetapkan dalam  Sidang Majelis Sinode GMIM. “Didalamnya termasuk penataan pengelolaan aset, pembangunan mission center dan penegakan kode etik pendeta pendeta GMIM,” tandasnya.

Serupa dilontarkan Pnt Jeffry Pay, Pelayan Khusus (Pelsus) Jemaat GMIM Sion Noongan, Wilayah Langowan Kelelondey. “Pertama tentu kita bersyukur, proses pemilihan Ketua Sinode bisa berjalan lancar. Ada sedikit riak-riak, tapi itu hal yang lumrah dalam berdemokrasi di tubuh GMIM,” ujar salah satu peserta sidang sinode GMIM ke 79 itu.

“Sebagai warga jemaat, tentu kita berharap kedepan akan ada perbaikan dalam pelayanan di lingkup GMIM. Mulai dari proses pelayanan, penggembalaan, tata gereja, pemutasian pendeta, termasuk masalah di UKIT. Itu harapan dari mayoritas jemaat, supaya segala persoalan-persoalan di GMIM itu dapat secepatnya terselesaikan. Dan itu jadi tugas dari BPMS yang baru,” sambung wartawan senior itu.

Tak hanya itu, BPMS yang baru juga didorong untuk mengedepankan soal transparansi anggaran, mulai dari tingkat kolom, jemaat, wilayah hingga sinode. “Supaya diakonia dari jemaat itu dapat dimanfaatkan dan dipertanggung-jawabkan secara baik,” lugasnya.

BPMS juga didorong untuk meningkatkan kerjasama dan sinergitas dengan semua lembaga pemerintah, swasta serta antar umat beragama di Sulut maupun di tingkat nasional serta internasional. “Sebagai organisasi gereja terbesar di Sulut, GMIM harus jadi pengayom, dan menjadi berkat bagi seluruh golongan dan agama di Sulut,” papar Pay.

Ia juga berharap Ketua BPMS terpilih akan mampu bekerjasama dengans seluruh BPMS terpilih serta dapat merangkul seluruh stakeholder GMIM. “Termasuk yang tidak memilih mereka di sidang.  Harus saling merangkul, agar pelayanan kepada jemaat benar-benar terarah dan sesuai dengan tugas panggilan gereja untuk melayani berdasarkan kasih Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja,” pungkasnya.

PARA PENDETA IKUT MENARUH HARAPAN

Tak hanya warga awam, pendeta-pendeta GMIM juga ikut menaruh harapan yang sama kepada Ketua BPMS terpilih, Pdt Dr Hein Arina dan pengurus BPMS periode 2018-2022. Para hamba Tuhan yang ikut memilih serta akan menjalankan pelayanan di GMIM, berharap agar BPMS terpilih akan menegakkan setiap aturan organisasi gereja.

“Supaya organisasi gereja kita dapat berjalan baik dan teratur. Dan GMIM bisa lebih menegaskan jati dirinya sebagai gereja reformed yang injili,” lugas  Ketua BPMJ GMIM Yordan Tawaang Barat, Pdt Wanly Ch Karundeng STeol.

Ia pula berharap Ketua Sinode yang baru dapat melanjutkan rekonsiliasi UKIT. "Karena itu sudah merupakan amanat SMS 2010 dan 2014. Tapi sampai sekarang belum terselesaikan," imbuhnya sembari menghaturkan selamat atas terpilihnya Arina sebagai Ketua BMPS GMIM beserta pengurus BPMS lainnya.

Sementara Ketua Jemaat GMIM Getsemani Lansot, Wilayah Tomohon III, Pdt Wowor Turang STh, berharap Ketua Sinode terpilih bersama pengurus BPMS yang terpilih akan lebih banyak menyentuh kebutuhan mendasar dalam pelayanan di jemaat. “Karena saat ini, jemaat sangat membutuhkan seorang pemimpin yang selalu melihat harapan warga GMIM. Rajin mengunjungi jemaat, apalagi yang ditempat-tempat terpencil,” ungkapnya.

Sosok itu dinilai ada pada Arina.  "Kami sangat terkesan dengan ketua terpilih (Arina, red). Sebab  beliau sudah pernah melayani sampai di Wilayah Tombatu Selatan yang terpencil dengan menggunakan sepeda motor. Itu harus tetap dipertahankan untuk melayani jemaat di daerah-daerah terpencil,” bebernya.

“Jadilah pemimpin yang benar-benar merakyat, merangkul jemaat hingga di pedalaman. Jangan cuma memusatkan pelayanan di kota-kota saja. Karena semua jemaat membutuhkan pelayanan yang sama dari para pemimpinnya," tandas Wowor.

ARINA SIAP MENUNAIKAN PANGGILAN PELAYANAN

Rasa syukur terpancar di wajah Pdt DR Hein Arina, kala dirinya dipercayakan untuk menjadi nakhoda Sinode GMIM periode 2018-2022 dalam pemilihan lewat e-voting yang berlangsung hampir 6 jam di GKCC Kairagi Manado, Rabu kemarin.

Usai diumumkan sebagai Ketua Sinode GMIM terpilih dengan perolehan suara 1110 atau 65 persen, lagu berjudul haleluya berkumandang di gedung yang dihadiri ribuan peserta itu. Arina yang sedari awal digadang-gadang menjadi kandidat kuat untuk menjadi pucuk pimpinan GMIM itu, menyatakan hidupnya dipakai Tuhan untuk melaksanakan panggilan pelayanan.

“Hidup ini adalah anugerah Tuhan. Jadi harus dipakai untuk melayani panggilanNya,” ujar Arina sebelum terpilih. “Kalau saya dipercayakan untuk menjadi Ketua Sinode, tentu semua program yang diputuskan dalam SMS (Sidang Majelis Sinode, red), akan saya jalankan bersama BPMS terpilih dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab. Baik tanggung jawab kepada jemaat, terlebih kepada Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja,” lugasnya.  

Sementara Sekretaris Panitia pemilihan di semua aras Sinode GMIM, Pdt Teddy Liu mengatakan, proses pemilihan BPMS khususnya Ketua Sinode telah berjalan sesuai dengan aturan dan mekanisme yang berlaku. Itu akan dilanjutkan dengan pemilihan pengurus BPMS lainnya. “Sekarang ini sementara lanjut dengan pemilihan pengurus BPMS, selain Ketua. Itu semua mengacu dari tata gereja dan petunjuk pelaksanaan (juklak). Nantinya setiap BPMS terpilih harus menandatangani berita acara tentang kesediaaan untuk menjadi BPMS,” singkatnya.

Hingga berita ini diturunkan, proses pemilihan pengurus BPMS, mulai dari para wakil ketua, sekretaris umum, para wakil sekretaris dan wakil sekretaris, bendahara dan asisten bendahara masih tengah berlangsung.

MESKI E-VOTING SEMPAT ERROR, OLLY SUKSES PIMPIN SIDANG

Proses pemilihan Ketua BPMS GMIM yang menggunakan sistem e-voting, sempat terganjal. Itu menyusul adanya gangguan dalam sistem, sehingga sidang pemilihan yang dipimpin, Ketua Panitia Sidang Majelis Sinode GMIM ke-79, Olly Dondokambey, harus di skors.

Setelah sistem e-voting siap digunakan, proses pemilihan dilakukan kembali.  Olly, nampak mampu menuntun proses pemilihan secara efektif namun tetap aspiratif. Kepiawaian Olly dalam memimpin sidang membuat situasi pemilihan yang serius terlihat mencair, penuh suasana kekeluargaan dan berlangsung demokratis.

"Terimakasih telah mempercayakan saya jadi ketua panitia pemilihan. Pemilihan dengan e voting ini sangat terjamin kerahasiaannya. Semua database tersimpan di server. Tidak ada yang tahu siapa yang dipilih peserta kecuali peserta itu sendiri," kata Olly, yang disambut aplaus meriah oleh para peserta sidang.

Selain itu, untuk memastikan kelancaran proses pemilihan, Olly pun beranjak dari tempat duduknya untuk melakukan pengecekan langsung perangkat penunjang pemilihan termasuk kesiapan pembatas jalur yang dilalui peserta.

Usai mendengar arahan Olly, seluruh peserta secara tertib berjalan ke bilik untuk menggunakan hal pilihnya.  Pemilihan diawali dengan memilih Ketua BPMS GMIM. Wakil Bupati Minahasa Selatan Frangky Wongkar menjadi peserta pertama yang menggunakan hak suaranya.

Pemilihan BPMS GMIM juga menoreh sejarah karena pertama kalinya menggunakan sistem e voting. Sistem ini terjamin kerahasiaannya dan mencegah kesalahan pada proses pemilihan. Bahkan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, yang membuka SMS Sinode GMIM, mengapresiasi terobosan yang dilakukan GMIM untuk menggunakan e-voting dalam pemilihan BPMS.

Saat memasukan proses penghitungan suara pemilihan Ketua BPMS GMIM, Olly menggunakan kode akses untuk membuka database hasil pemilihan. Hasilnya Pdt DR Hein Arina meraih 1110 suara, Pdt DR  Hendry Runtuwene 466 suara dan Pdt Petra Rembang 96 suara. Dengan capaian yang mencapai 65 persen dukungan suara, Arina terpilih menjadi Ketua Sinode GMIM.

Hasil itu diumumkan secara terbuka kepada peserta. Usai pengumuman hasil pemilihan, seluruh panitia dan peserta menyanyikan secara koor lagu pujian Haleluya. Itu dilanjutkan dengan berjabatan tangan serta foto bersama dengan ketua terpilih. Setelah itu diteruskan dengan pemilihan pengurus BPMS lainnya.

Sidang pemilihan BPMS itu dihadiri Wakil Gubernur Sulut Drs Steven OE Kandouw, Ketua BPMS GMIM Periode 2014-2018, Pdt DR HWB Sumakul, sejumlah bupati dan walikota serta para pejabat Pemprov Sulut.(tim ms)


Komentar