AROMA POLITISASI FATWA MUI SOAL AHOK MENGANGA


-Putusan Sikap Keagamaan MUI Dihadiri SBY

-Rizieq Shihab Jadi Saksi Ahli MUI

 

Jakarta, MS

Aroma politisasi dalam penerbitan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang memutuskan Basuki Tjahaja Purnama telah menistakan agama, terkait penyebutan Surat Al-Maidah ayat 51, kian menyembul ke permukaan.

Sederet kejanggalan atas keluarnya sikap keagamaan dari lembaga seyogianya membimbing, membina dan mengayomi umat muslimin di seluruh Indonesia itu, terkuak  dalam sidang lanjutan kasus Ahok,  yang digelar di auditorium Kementan, Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (31/1) kemarin.

Yang paling mencuat soal dugaan keterlibatan Presiden Indonesia ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam putusan fatwa MUI yang sukses menyeret Gubernur DKI Non Aktif itu ke ‘pesakitan’. Ketua Umum Partai Demokrat itu, malah disebut hadir saat sikap keagamaan MUI soal Ahok diputuskan pada 11 Oktober 2016 lalu.

Itu menyusul kedekatan ayahanda dari salah satu calon gubernur DKI, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan Ketua Umum MUI,  Ma'ruf Amin.  Maklum Ma’ruf, merupakan bekas anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) SBY.

Malah SBY disebut-sebut sempat menelepon Ma’ruf agar MUI segera membuat keputusan keagamaan terkait kasus Ahok.  Fakta memiriskan itu terungkap dalam kesaksian Ma’ruf yang hadir sebagai saksi dalam persidangan Ahok, Selasa kemarin, ketika dicecar pertanyaan oleh kuasa hukum dari mantan Bupati Belitung Timur.

Ma’ruf, tak menepis bila dirinya pernah menjadi Watimpres SBY dan membenarkan SBY hadir  tatkala MUI memutuskan sikap keagamaan tentang Ahok. “Ya, saya pernah Watimpres .  (Tahun) 2007-2014, (era) Pak SBY," ungkapnya menjawab pertanyaan Humphrey R Djemat salah seorang kuasa hukum Ahok.

Pun begitu, ia membenarkan SBY hadir saat sikap keagamaan MUI soal Ahok diputuskan pada 11 Oktober 2016, dalam kapasitas sebagai Majelis Dzikir Nurussalam. “Hadir tapi untuk silaturahmi. Tidak ikut rapat,” tepisnya.

Humprey pun menyebut sebelum pertemuan Ma'ruf dengan paslon Agus-Sylvi di kantor PBNU, Jakarta Pusat pada 7 Oktober 2016 atau usai kejadian Ahok mengutip surat Al Maidah di Pulau Pramuka, SBY terlebih dulu menelpon Ma'ruf.

 

"Pada hari Jumat terjadi pertemuan (di PBNU), Kamisnya ada telepon dari SBY pada pukul 10.16 WIB supaya diatur agar Agus-Sylvi diterima oleh PBNU. Apa itu benar?" tanya Humphrey. "Tidak ada," jawab Ma'ruf.

Menurut Humprey, pada telepon tersebut, SBY juga meminta Ma'ruf Amin sebagai Ketua MUI membuat sikap dan pendapat keagamaan yang menyatakan Ahok menghina Alquran dan ulama. "SBY juga minta agar MUI segera mengeluarkan fatwa MUI?" ujar Humphrey. "Tidak," tampik Ma’ruf lagi.

Mengaku memiliki bukti, Humphrey mengingatkan Ma'ruf agar tidak memberikan kesaksian palsu. "Anda yakin tidak? Saya punya buktinya. Saya ingatkan saudara agar tidak memberikan kesaksian palsu karena ada konsekuensi hukumnya," cecar Humphrey.

Ma'ruf kembali membantah. Hakim pun akhirnya menghentikan pertanyaan kuasa hukum Ahok.

Kuasa hukum Ahok juga menanyakan posisi imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab sebagai ahli di MUI. "Sekjen dan salah satu ketua (yang menandatangani Rizieq sebagai ahli). Bertemu (Rizieq) iya karena menganggap beliau menguasai. Tamatan Saudi, S2-S3 Malaysia," terang Ma'ruf.

Selain soal Habib Rizieq, pengacara Ahok menanyakan tentang Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) dan hubungannya dengan MUI. "Saya tahu (tentang GNPF-MUI). Tidak ada sangkut pautnya dengan MUI dan bukan bagian MUI. MUI meminta jangan membawa-bawa atribut MUI, di-publish itu pernyataan sudah ada," ujar Ma'ruf.

"Apakah GNPF mengawal fatwa lain atau hanya untuk kepentingan Basuki?" tanya kuasa hukum Ahok. "Seingat saya baru ini. Saya tidak tahu apakah karena Pak Basuki hanya belum diproses," jawab Ma'ruf.

AKUI TAK LIHAT VIDEO AHOK, MA’RUF: UCAPAN SAJA CUKUP

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin mengaku tidak melihat langsung video pidato Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menyebut Surat Al-Maidah ayat 51. Ma'ruf menyebut video Ahok itu dicek oleh tim MUI yang melakukan kajian.

Pertanyaan soal ditonton-tidaknya video Ahok saat berada di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, itu diajukan hakim anggota dalam persidangan lanjutan, Selasa (31//7).

"Secara resmi atau formil menandatangani apakah melihat di dalam video waktu terdakwa mengucapkan kata-kata seperti itu?" tanya hakim anggota kepada Ma'ruf, yang bersaksi dalam sidang lanjutan Ahok, Selasa kemarin. "Saya kira yang mengecek itu tim. Saya lihat tulisannya saja. Video tim," kata Ma'ruf.

Menurutnya, pernyataan Ahok soal Al-Maidah ayat 51 menjadi polemik hingga akhirnya MUI ikut tangan melakukan kajian serta mengeluarkan pernyataan sikap dan pendapat.

Kesimpulan dari kajian tim MUI itu, Ahok sudah melakukan penodaan agama karena menyebut Surat Al-Maidah saat kunjungan kerja ke Pulau Pramuka.  "Bahwa Bapak Basuki ini menghina Alquran dan ulama. Substansinya itu," tegas Ma'ruf.

Penodaan agama itu disebut dilakukan Ahok karena menggunakan Surat Al-Maidah saat berbicara soal pilihan pemimpin. "Dalam bentuk kata-kata, dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51. Kalau tidak salah begitu," sambungnya.

Ma'ruf pun menyebut tim pengkajiannya tidak menemui Ahok dengan alasan tim pengkaji hanya memverifikasi kebenaran diucapkannya surat Al Maidah ayat 51 di Pulau Pramuka.   Ia menyebut klarifikasi terhadap Ahok dianggap tidak perlu.

"Kami rasa tidak perlu. Kami berpegang pada prinsip niatnya apa, kami menghukum ucapan, adapun hatinya Allah SWT," kata Ma'ruf.

Menurutnya MUI lebih dulu melakukan rapat internal sebelum akhirnya membentuk tim pengkajian. Anggota tim yang mengkaji ucapan Ahok juga mendatangi lokasi kunjungan Ahok di Pulau Pramuka pada 27 September 2016.

"Ke Pulau Seribu, komisi pengkajian. Tidak mendatangi terdakwa karena dianggap cukup ucapannya saja. Alasannya kita sudah melakukan verifikasi ucapannya benar," terangnya.

Tim pengkajian dibentuk atas adanya desakan masyarakat yang resah dengan pernyataan Ahok yang menyinggung surat Al Maidah saat bicara soal pilihan pemimpin.  "(Ada) permintaan dari masyarakat ada yang lisan, ada yang tertulis. Supaya masalah ini ada pegangannya. Ada forum-forum, banyaklah saya lupa. Dari hasil investigasi di pulau pramuka sebenarnya mereka (warga, red) marah, cuma tidak menyatakan pendapatnya," paparnya.

Desakan yang masuk secara lisan dan tertulis serta hasil investigasi itu,  kemudian dibahas dalam rapat MUI.  "Kita melakukan penelitian, investigasi di lapangan dan menyimpulkan bahwa ucapannya itu mengandung penghinaan terhadap Alquran dan ulama," tegas Ma'ruf.

Kesimpulan terjadinya penodaan agama berdasarkan kalimat Ahok yang memposisikan Alquran sebagai alat untuk membohongi terkait kepemimpinan.  "Iya ada penghinaan, itu melecehkan. Dari memposisikan Alquran sebagai alat kebohongan. Dibahasakan bahwa terdakwa itu ada mengandung penodaan karena Alquran dipakai alat berbohong," terang Ma'ruf.

Ucapan Ahok menyebut surat Al Maidah ayat 51 tidak dinilai tepat karena penjelasan terhadap ayat-ayat Alquran merupakan ranah ulama. "Yang menjelaskan tentang Al Maidah itu para ulama," sebut dia.

Karena itu pernyataan Ahok juga disebut sebagai pelanggaran hukum. "Mengandung pelanggaran hukum. Ada penodaan, maka harus disampaikan ke penegak hukum," tegasnya.

Tidak hanya ditanya tentang pendapat dan sikap keagamaan soal Ahok, Ma'ruf juga dikonfirmasi mengenai adanya demonstrasi terhadap Ahok. Ma'ruf menegaskan MUI tidak berhubungan dengan adanya gerakan protes kelompok masyarakat. "Fakta timbul demo, apakah MUI menginstruksikan umat atau golongan?" tanya hakim anggota. "Tidak ada (kaitan, red), diproses saja secara hukum. Tidak ada hubungan dengan gerakan-gerakan itu," tutup Ma'ruf.

AHOK PROTES KETERANGAN KETUM MUI

Basuki Tjahaja Purnama keberatan dengan keterangan Ketum MUI Ma'ruf Amin dalam persidangan. Kesaksian Ma'ruf dianggap Ahok menyudutkan dirinya. "Saya keberatan saksi menuduh saya menghina ulama. Saya keberatan (warga, red) di Pulau Seribu takut protes, padahal saat itu mereka ketawa-tawa," lugas Ahok menanggapi kesaksian Ma'ruf Amin di auditorium Kementan, Jaksel Selasa  kemarin.

Ahok juga mempersoalkan pernyataan Ma'ruf bahwa MUI mendengarkan keterangan Habib Rizieq Syihab saat membahas persoalan ucapan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Posisi saksi ahli Rizieq yang dimaksud Ma'ruf adalah rapat empat komisi di MUI untuk menentukan pandangan soal sikap keagamaan MUI.  "Saya keberatan saksi menunjuk Rizieq Syihab sebagai saksi ahli, padahal dia jelas-jelas sentimen terhadap saya," tegas Ahok.

 

Soal ucapan saat bertemu dengan warga di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016, Ahok menegaskan tidak pernah menafsirkan Surat Al-Maidah ayat 51. Ahok mengatakan tidak ada niat menyinggung agama.

"Saya tidak pernah menafsirkan Al-Maidah 51. Saya keberatan, semua terserah pada hukum, padahal GNPF itu dipimpin Rizieq Syihab, yang memaksa penjarakan saya, ini jelas memakai MUI. Saudara membiarkan Rizieq Syihab melakukan itu kepada saya," tutur Ahok.

Dia juga mempertanyakan tidak adanya klarifikasi langsung soal ucapan Al-Maidah. "Terkait niat, Anda bilang niat hanya Allah yang tahu, tapi Anda tidak tahu niat saya. Anda sebagai saksi tidak objektif lagi karena mengarah pada dukungan paslon 1. Semua pelapor saya tidak pernah kuorum di rapatnya, jadi ini menzalimi saya," tegas Ahok.

Ahok mengatakan, Ma'ruf sudah mempermainkan haknya. "Percayalah, sebagai penutup, kalau Anda menzalimi saya, yang Anda lawan adalah Tuhan yang Mahakuasa, Maha Esa. Saya akan buktikan satu per satu dipermalukan. Terima kasih," ujar Ahok.

Ia pun mengatakan, pengacaranya memiliki bukti tentang adanya telepon dari SBY kepada Ma'ruf agar Ma'ruf bertemu dengan Agus-Sylviana.

Dalam kesempatan itu pengacara Ahok, meminta bukti pernyataan Ma’ruf soal adanya warga Pramuka yang marah terkait pidato Ahok tapi takut, Ma’ruf hanya menyebut itu hasil investigasi tim MUI

Pengacara juga meminta saksi untuk bisa membuktikan bahwa kalimat yang diucapkan terdakwa ada kata ulama. "Orang diartikan ulama, ulama adalah orang. Apakah orang itu pasti ulama?" tanya pengacara Ahok. "Tidak. Orang tidak pasti ulama. Tapi yang menjelaskan tentang Surat Al-Maidah ya ulama," jawab Ma'ruf.

Ma'ruf tetap mempertahankan kesaksiannya. Ia  juga keberatan disebut telah mendukung pasangan Agus-Sylviana. Menurut dia, pertemuannya dengan Agus-Sylviana bukan dalam rangka memberi dukungan. "Ya tetap pada keterangan saya, cuma saya keberatan dianggap mendukung pasangan nomor satu. Padahal, tidak ada kaitannya," tandas Ma'ruf.

Diketahui kesaksian Lurah Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Yuli Hardi  pada persidangan Selasa (24/1) menyebut tidak ada warga yang memprotes saat Ahok menyampaikan pidato kala berkunjung ke Pulau Pramuka. "Saat terdakwa menyinggung Surat Al-Maidah, apakah ada masyarakat yang protes?" tanya hakim. "Tidak ada," jawab Yuli Hardi dalam persidangan saat itu. Kunjungan Ahok juga di kepulauan seribu (30/1) disambut antusias oleh ribuan warga setempat. (dtc/kcm/lpc)

 

 

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado