Suasana rakor di KPU Sulut

‘Bandar Narkoba’ Dalam Syarat Caleg Dipertanyakan

Mantapkan Pileg, KPU Sulut Rakor Bersama Stakeholder

Manado, MS

Regulasi baru untuk syarat pencalonan legislatif tahun 2019, menimbulkan polemik. Salah satu yang dipertanyakan tentang ungkapan ‘mantan bandar narkoba’ dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 20 Tahun 2018.

Pertanyaan itu menyembul saat rapat koordinasi (rakor) pencalonan Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi dan Kabupaten kota dalam pemilihan umum 2019 yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (3/7), di ruang rapat kantor KPU Sulut. Pihak Pengadilan Negeri Manado menjelaskan, kalau di dalam nomenklatur tidak ada istilah ‘Bandar Narkoba’. “Kami sudah menanyakan kepada pihak pengadilan tentang istilah ‘bandar narkoba’ yang digunakan di PKPU. Mereka menjelaskan ternyata, itu tidak sesuai dengan nomenklatur,” terang Komisioner KPU Sulut, Yessy Momongan, usai kegiatan.
Ia menjelaskan, sesuai nomenklatur hanya ada dua yang dituliskan yaitu pengedar dan pemakai narkoba. Tidak ada penyebutan Bandar Narkoba. “Itu yang selama ini diproses dalam sidang sehingga melahirkan putusan di pengadilan,” jelasnya.
Atas temuan dalam pembahasan ini, pihak KPU Sulut akan memberikan catatan untuk diteruskan nanti di pusat. Dalam rangka menyamakan persepsi terkait penyebutan itu. “Nanti kita akan buat rekomendasi di pusat bahwa ada temuan. Ada temuan terkait teknis, nanti di pusat kita akan infokan ini,” tuturnya.
Kemudian terkait Surat Keterangan Catatan Kriminal (SKCK), khusus DPR-RI dan DPD-RI, dibuat di kepolisian daerah (Polda). Sementara untuk DPRD provinsi dan kabupaten kota diproses sesuai domisili. “Soal tes narkoba, ada ketentuan ketika hari itu dia (bakal calon legislatif, red) tes maka berlaku sampai pada masa berakhir pendaftaran,” kuncinya.
Diketahui, dalam rakor tersebut dipimpin Ketua KPU Sulut Ardiles Mewoh dan dihadiri pula Anggota Komisioner Meidy Tinangon dan Salman Saelangi. (arfin tompodung)


Komentar