Suasana rapat pembahasan KUA-PPAS di DPRD Sulut, Rabu kemarin.

Banggar Deprov Kontra

Polemik Penanganan Eceng Gondok di Danau Tondano

 

Manado, MS

Polemik eceng gondok di Danau Tondano tak pernah berhenti. Kali ini, tumbuhan air itu jadi perguncingan hangat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Saling beda pendapat ikut tersaji tatkala Pemerintah Provisi Sulut menganggarkan pembelian mesin pengangkat tumbuhan gulma penghisap air tersebut.

Masalah ini tersaji dalam rapat pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Anggaran Pendapat Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2017 antara Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sulut dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Sulut, Rabu (9/8).

Anggota Banggar Dewan Provinsi (Deprov), Edwin Lontoh, mendukung rencana pengadaan mesin pengangkat eceng gondok tersebut dengan alasan lebih efektif dalam mengatasi permasalahan eceng gondok.

“Ini adalah good will perhatian Pemprov Sulut dalam hal ini gubernur dan wakil gubernur dalam rangka menuntaskan masalah eceng gondok di Minahasa. Kami sangat menyuport pengadaan mesin ini, “ujar Lontoh.

Lain halnya diungkapkan Wakil Ketua DPRD Sulut, Stevanus Vreeke Runtu. Ia mengusulkan, supaya anggaran pengadaan mesin pengangkat eceng gondok bisa dialihkan, menggaji masyarakat sekitar danau untuk mengangkat eceng gondok.

“Bukan persoalan menolak pembelian mesin eceng gondok ini tapi dari pada kontraktor yang diuntungkan lebih baik rakyat yang diuntungkan,” pungkas wakil rakyat Sulut daerah pemilihan Minahasa-Tomohon itu.

Diketahui, saat rapat tersebut, dianggarkan sekira Rp15 Miliar untuk pengadaan mesin pengangkat eceng gondok. Instansi terkait, Dinas Pekerjaan Umum (PU) telah melakukan study banding ke Danau Cirata Purwakarta, yang sudah berhasil menyelesaikan masalah eceng gondok hanya dengan satu mesin saja. Padahal luas Danau Cirata 2 kali lebih besar dari Danau Tondano. (arfin tompodung)

Banner Media Sulut

Komentar