1 Lucky Aldrin Senduk 2. Jeffry Robby Korengkeng 3. Jeany Mumek 4. Robby Longkutoy 5. Imelda Novita Rewah

Berburu Tiket PDIP di Pilkada Minahasa


Figur Internal dan Eksternal Adu Manuver

 

Tondano, MS

Konstelasi politik jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Minahasa terus meninggi. Drama perebutan 'kendaraan' jadi suguhan menarik. Fenomena lazim di iven pesta demokrasi ini tersaji pula di tubuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

 

Siapa pemilik panggung PDIP di Pilkada Minahasa 2018 hingga kini memang masih menjadi teka teki. Partai besutan Megawati Soekarno Putri terkesan tak ingin tergesa-gesa dalam menetapkan kandidat yang akan diusung.

 

Tak ayal, kondisi itu memantik geliat para peminat PDIP untuk berburu 'tiket' menuju ke arena pertarungan. Persaingan paling ketat tersaji di bursa papan dua. Figur internal maupun eksternal terus berjibaku merebut simpati penentu kebijakan.

 

Di internal 'Banteng', sederet kader 'Moncong Putih' seperti Jeany Mumek, Robby Longkutoy dan Lucky Aldrin Senduk disebut-sebut punya peluang besar untuk direstui sebagai calon usungan.

 

Sementara dua nama di kubu eksternal, Imelda Novita Rewah (INR) dan Jeffry Robby Korengkeng (JRK), tak kalah kencang berkibar. Keduanya juga diyakini punya peluang yang cukup besar untuk mendampingi petahana, Jantje Wowiling Sajow (JWS), yang santer disebut sebagai kandidat tunggal peraih 'tiket' papan satu PDIP.

 

Munculnya figur-figur dengan latar belakang berbeda ini ikut memunculkan dua versi dukungan, baik pendukung bagi figur internal maupun pendukung figur eksternal.

 

Alfa Pusung, salah satu simpatisan PDIP dari Dapil IV menyebut jika figur internal lebih cocok untuk mengisi papan dua. Dia menilai, kemunculan sederet kader Banteng yang bersosialisasi membuktikan bahwa PDIP tidak miskin kader potensial untuk iven Pilkada, khususnya di Minahasa.

 

"Jika Pilkada Minahasa kali ini mengabaikan kader untuk diusung, maka stigma masyarakat bahwa PDIP miskin kader potensial akan semakin bermunculan. Ini harus diantisipasi, caranya dengan mengutus kader internal sebagai calon usungan," tanggapnya.

 

Diantara para figur internal PDIP, Pusung melihat sosok Lucky Aldrin Senduk sebagai salah satu yang pantas. Banyak faktor yang membuat Senduk patut diperhitungkan untuk berkompetisi di arena Pilkada. Diantaranya, Senduk saat ini dipercayakan memegang jabatan strategis sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Dewan Pengurus Daerah (DPD) PDIP Sulawesi Utara (Sulut).

 

"Itu membuktikan bahwa beliau punya kapasitas yang mumpuni di internal PDIP," ujarnya.

 

Disatu sisi, Senduk disebut memiliki basis masa yang cukup signifikan untuk menopang perolehan dukungan suara pada Pilkada 27 Juni 2018 mendatang. Apalagi secara organisatoris di luar partai, kader Moncong Putih itu juga dipercayakan sebagai Panglima Legio Christi (Lc) serta Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Sulut.

 

"Jadi selain mesin partai, tentu ini akan jadi modal besar jika beliau dipercayakan menjadi calon papan dua PDIP nanti," tanggapnya.

 

Hal yang sama diutarakan Jemmy Mongkol. Kader internal menurut dia lebih cocok untuk mengisi bursa papan dua PDIP. Namun berbeda dengan Pusung, Mongkol lebih menjagokan sosok Robby Longkutoy.

 

"Saya kira pak Robby sangat layak dan pantas maju dalam Pilkada Minahasa. Selain sebagai kader tulen PDIP, dari berbagai sisi beliau sangat pantas diusung dan diperhitungkan oleh PDIP dalam pesta demokrasi tahun 2018 mendatang,” sebutnya.

 

“Untuk masalah kemampuan dan dukungan tak perlu diragukan lagi, karena beliau (Robby Longkutoy) sudah malang melintang di dunia birkorasi, bahkan pernah menjabat wakil bupati di Yahukimo, Jayapura," tambahnya.

 

Pandangan berbeda diungkap, Theo Juno. Bagi dia, kader atau non kader bukan jadi tolak ukur. Yang terpenting bagimana melihat kapasitas suatu figur yang akan mampu memenangkan Pilkada itu.

 

"Apa gunanya mendorong figur internal tapi pada akhirnya menuai kekalahan, jadi bukan soal latar belakang kader atau non kader yang penting tapi lebih kepada elektabilitas suatu figur dan popularitasnya di mata masyarakat," paparnya.

 

Theo sendiri lebih condong menjagokan sosok Jeffry Robby Korengkeng (JRK). Sebab menurut dia, JRK yang kini menjabat Sekretaris Daerah Minahasa telah dikenal luas oleh masyarakat dan punya bassis dukungan yang jelas.

 

"Kalau bicara pengalaman dalam dunia birpkrat tak perlu diragukan lagi, karena beliau sudah malang melintang dan pernah memegang sejumlah jabatan strategis di pemerintahan. Makanya saya rasa beliau sosok yang paling tepat untuk disandingkan dengan petahana JWS," tanggapnya.

 

Terlepas dari munculnya pro dan kontra dukungan kader internal dan eksternal, sejumlah militan 'Moncong Putih' memilih untuk menunggu keputusan partai.

 

Ronny Sumilat, salah satu kader Banteng Minahasa dari Dapil IV mengatakan bahwa untuk papan dua diberi kewenangan sepenuhnya kepada DPD PDIP Sulawesi Utara.

 

"Siapapun yang diakomodir nanti sebagai usingan partai di papan dua, sebagai kader partai tentu kita harus loyal. Jadi intinya serahkan saja sepenuhnya ke pak Olly (Olly Dondokambey, red), sebab beliau yang dipercayakan ibu Mega untuk menetukan siapa calon usungan PDIP di Pilkada Minahasa," lugas Sumilat.

 

Namun untuk figur papan satu, menurut dia JWS selaku ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PDIP yang berstatus petahana harus harga mati untuk diusung.

 

"Kalau papan dua siapa saja bisa, tergantung pertimbangan DPD, tapi untuk papan satu JWS harus harga mati sebab beliau selain petahana juga telah berkontribusi bagi partai, seperti memenangkan Pilbup 2012, Pileg 2014 hingga Pilgub Sulut 2015 silam," kuncinya. (jackson kewas)

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado