Noprianto Simorangkir

Berkas Korupsi Embung Bergulir ke Kejaksaan

Tondano, MS
Roda perkara dugaan korupsi pembangunan Embung di Desa Wasian, Kakas, kembali berputar. Usai ditangani tim penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Minahasa, kasus yang menyeret tiga orang tersangka itu kini dalam kendali penyidikan pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Minahasa.
"Pekan lalu berkas perkaranya sudah kami limpahkan kembali ke pihak Kejaksaan untuk diteliti lebih lanjut," ujar Kanit Tipikor Polres Minahasa, Bripka Zulfikri Darwis, Rabu (30/5).
Berkas perkara dugaan korupsi Embung Wasian ini sebelumnya sudah sempat dilimpahkan ke pihak Kejari Minahasa 2017 silam namun dikembalikan oleh jaksa penyidik karena dianggap belum memenuhi unsur materil dan formil untuk diproses lebih jauh. "Apa yang diminta oleh jaksa penyidik itu kami upayakan dipenuhi, salah satunya hasil audit kerugian negara dari BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan). Memang butuh waktu yang tidak singkat sebab ada beberapa proses yang harus dilalui. Jadi kalau ada yang sempat berpikir bahwa kasus ini sengaja mengendap itu tidak benar. Berkas perkaranya saat ini sudah kami limpahkan," tandas jebolan Eka Bhakti SPN Karombasan angkatan 2000 itu.
Ditanya berapa besaran kerugian negara sebagaimana hasil audit BPKP, Darwis menyebut hasilnya sama dengan audit investigasi yang dilakukan tim penyidik Polres Mihahasa. "Total kerugian negara ada sekitar Rp200-an juta," imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Kejari Minahasa Saptana Setyabudi melalui Kasi Intelejen Noprianto Sihombing membenarkan jika berkas perkara tersebut kini sudah diterima pihaknya. "Iya, saat ini masih sedang dalam penelitian oleh jaksa. Setahu saya ada tiga berkas perkara dengan tiga tersangka berbeda yang dilimpahkan, tapi dalam konteks kasus yang sama yaitu dugaan korupsi Embung Wasian. Atau dengan kata lain berkasnya di split tiga perkara," katanya.
"Tapi intinya kita akan periksa dulu apakah unsur materil dan formil sudah terpenuhi atau tidak. Kalau sudah rampung maka proses selanjutnya adalah penyerahan tersangka dan barang bukti dari polisi ke jaksa. Tapi kalau belum lengkap maka kita kembalikan lagi. Prosedurnya memang seperti itu," jelas Noprianto.
Dia pun berjanji akan memberikan informasi kepada wartawan tentang bagaimana hasil pemeriksaan berkas perkara tersebut secepatnya. "Kita upayakan minggu depan berkasnya sudah selesai diperiksa, baru saya sampaikan seperti apa hasilnya, apakah akan tahap 1 atau P-19. Kita tunggu saja sampai pemeriksaan selesai dilakukan," ujarnya.
Diketahui, Embung adalah semacam waduk buatan untuk penampungan air hujan. Fasilitas yang penngerjaannya digarap Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa itu dibuat untuk kebutuhan irigasi pertanian khususnya saat musim kemarau panjang.
Sejauh ini polisi telah menemukan kejanggalan pada proyek pembangunan Embung di tiga lokasi berbeda. Selain di Desa Wasian, ada pula di Kelurahan Ranowangko, Tondano dan proyek Embung di Desa Tondegesan, Kawangkoan, yang terendus bermasalah.
Sebelumnya, polisi telah menetapkan tiga oknum sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi Embung Wasian. Dua diantaranya merupakan oknum pejabat di Minahasa, yakni RM selaku mantan Kepala Dinas Pertanian Minahasa merangkap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan JT sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). Sementara tersangka lainnya berinisial TM, oknum pimpinan sebuah perusahaan kontraktor yang ditunjuk sebagai pelaksana pekerjaan proyek Embung di Desa Wasian. (jackson kewas)


Komentar