Kepala BI Sulut Soekowardojo (memakai batik) direktur A. Yusnang, Gunawan dan Buwono.

BI Apresiasi Pemprov Sulut Atasi Kontraksi Ekonomi 2016


Pergantian gubernur membawa berkah bagi warga Sulut. Transisi pemerintahan yang kerap berdampak gejolak perekonomian justru membawa angin segar bagi warga Nyiur Melambai. Kontraksi ekonomi  sukses diatasi Gubernur Olly Dondokambey dan jajaran ditahun pertama pemerintahan. Kontraksi ekonomi adalah adalah satu fase di mana siklus bisnis berada dalam ekonomi yang menurun.

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulut menyebut perekonomian Sulut tahun 2016 menunjukkan kinerja yang membaik. Laju pertumbuhan ekonomi Sulut tahun 2016 sebesar 6,0%-6,4% yoy dibandingkan 6,12% yoy pada tahun 2015. Pertumbuhan itu lebih tinggi dari prakiraan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2016 sebesar 5,0%-5,4% yoy. “Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh kuat, dan investasi, serta ekspor yang relatif membaik, meskipun masih tercatat kontraksi,” kata Kepala BI Perwakilan Sulut, Soekowardojo.

Mantan deputy direktur BI Jawa Barat ini menambahkan pada 2016 konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh tinggi, meskipun melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Konsumsi rumah tangga masih tumbuh kuat menopang pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tahun 2016 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu pendorong yaitu kenaikan UMP Sulut dari Rp2.150.000 menjadi Rp2.400.000 yang juga didukung oleh tingkat inflasi yang terkendali (2015: 5,56% yoy, 2016: 0,35% yoy) dan penurunan harga BBM khususnya Premium pada 1 April 2016 (dari Rp6.950/ltr menjadi Rp6.450/ltr ).

Sumber pendapatan masyarakat dari sektor pertanian juga membaik pada tahun 2016 seiring dengan perbaikan cuaca pasca El Nino tahun 2015. “Pemerintah juga ikut mendorong peningkatan sektor pertanian melalui program pencetakan sawah di beberapa kabupaten dan penyaluran berbagai bantuan alsintan kepada petani. Adapun sektor pertanian merupakan sektor utama Sulut dengan pangsa ekonomi terbesar dan menyerap tenaga kerja terbesar di Sulut,” kata Soekowardojo yang didampingi deputy direktur A. Yusnang, Gunawan dan Buwono.

Perkembangan investasi tahun 2016 tumbuh menopang perekonomian Sulut. Perbaikan investasi tercermin pada peningkatan volume impor mesin-mesin dan besi serta baja seiring dengan mulai meningkatnya minat swasta untuk melakukan ekspansi. Peningkatan investasi juga tercermin dari peningkatan penjualan semen di Sulut sampai dengan triwulan III 2016 sebesar 10% yoy, meningkat dari posisi akhir tahun 2015 yang tercatat tumbuh 1,5% yoy. Berdasarkan data BKPM Sulut, investasi sepanjang tahun 2016 (Januari s.d. Oktober) mencapai Rp3,7 triliun, lebih tinggi dari tahun 2015 (Rp2,5 triliun).

Meskipun diperkirakan masih mengalami konstraksi, ekspor Sulut membaik pada tahun 2016. Perbaikan ekspor didukung oleh sisi internal dan eksternal. “Dari sisi internal, perbaikan ekspor didorong oleh peningkatan produksi komoditas perkebunan seiring dengan perbaikan cuaca pasca El Nino 2015 sehingga pasokan bahan baku industri juga meningkat. Dari sisi eksternal, harga beberapa komoditas primer pada semester II 2016 mulai menunjukkan perbaikan, salah satunya CNO dan CPO yang merupakan komoditas ekspor utama Sulut. Perkembangan harga ini diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan ekspor komoditas CNO dan CPO tumbuh lebih tinggi,” ujarnya seraya menyebut kinerja ekspor hingga November 2016 membaik, meskipun masih kontraksi.(emon)

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado