Vonni Panambunan/Rio Mandagi

Bupati VAP dan Eks Kapolresta Diperiksa Sebagai Saksi

Terkait Kasus Dugaan Korupsi Pemecah Ombak

 

Manado, MS

Aib dugaan korupsi pemecah ombak di Minahasa Utara (Minut), menyeruak ke publik. Tabir penyingkapan tersangka lain, yang turut menikmati uang Rp8 miliar, mulai terurai.

Para saksi yang diperiksa penyidik Korps Adhiyaksa Sulawesi Utara (Sulut) pun bisa menyusul dua tersangka yang sudah ditetapkan lebih dahulu.

Kejutan itu dipastikan terjadi manakala dalam fakta persidangan nanti ditemukan ada keterlibatan saksi yang ikut mengerat uang negara tersebut.

Dari sederet saksi yang akan hadir di persidangan, nama Bupati Minut Vonni Aneke Panambunan (VAP) dan eks Kapolresta Manado Komisaris Besar (Kombes) Polisi Rio Permana Mandagi, dipastikan akan ikut terseret. Data itu tersaji dalam berita acara pemeriksaan (BAP) penyidik.

Pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) melalui Kepala Seksi Penyidikan (Kasidik) Lukman Efendi didampingi Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Yonni E Malaka ikut membenarkan hal tersebut.

"Iya, mereka (Bupati VAP dan Rio Permana) harus menjadi saksi. Kan sudah diambil BAP jadi harus memberikan kesaksian di persidangan nanti, "singkat Efendi, Kamis (9/11).

Diketahui dalam perkara korupsi pemecah ombak, Kejati telah menahan dua orang tersangka, yakni mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minut yang kini menjabat Kepala Dinas Kesehatan, RT alias Rosa dan SHS alias Steven selaku pejabat pembuat komitmen (PPK).

Kepala Kajati Sulut, Mangihut Sinaga saat diwawancarai awak media menjelaskan, dari hasil penyidikan serta pemeriksaan yang dilakukan terhadap tersangka, pihaknya berpendapat bahwa telah memenuhi syarat-syarat penahanan yang diatur dalam KUHAP.

"Sesuai dengan aturan, dua alat bukti sudah cukup menjadikan mereka tersangka. Maka dilakukan penahanan supaya mempercepat proses dan menghindari penghilangan barang bukti," jelas Sinaga di halaman Kejati Sulut sebelumnya.

"Penahanan dilakukan untuk selama 20  hari yaitu terhitung sejak hari ini sampai dengan tanggal 25 November 2017 di Lapas Kelas IIa Malendeng Manado," tegas Sinaga.

Lebih lanjut ia membeberkan, dalam perkara ini para tersangka koruptor diduga telah menyalahgunakan wewenang  proyek pemecah ombak dan penimbunan pantai di desa Likupang Kabupaten Minahasa Utara.

Alhasil, penyidik pun menjerat keduanya dengan pasal 2 ayat 1 jo pasal 3 jo, pasal 18 Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah oleh UU No. 20 tahun 2001.

Sinaga pun tak menutup kemungkinan masih memburu aktor koruptor lain yang diduga turut menikmati uang puluhan miliaran ini.

"Ya, kemungkinan masih ada tersangka lain tidak tertutup kemungkinan. Tergantung perkembangan dan kooperatif dari pada mereka berdua ini selaku PPK dan pengguna anggaran," ungkapnya.

Senada disampaikan Kasidik Lukman Efendi didampingi Kasipenkum Yonnie E Malaka, kala dikonfirmasi di ruangan Kasipenkum. Ia pun menjelaskan bahwa hasil audit BPKP telah turun sejak bulan Oktober 2017.

Ia membeberkan, jika sejauh ini pihaknya telah memeriksa banyak saksi. Namun ia tak menyebut berapa jumlah saksi yang ‘dikulitinya’ itu. "Pokoknya banyak yang telah kami periksa dalam perkara ini, " jelasnya.

Ia pun mengungkapkan jika pihaknya sudah memeriksa eks Kapolresta Manado Kombes Pol Rio Permana Mandagi. "Ya, sudah. Kami telah periksa Pak Rio, kapasitasnya sebagai saksi,” tandasnya.

Mantan Kasipidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Kotamobagu ini sedikit membocorkan kepada awak media, dalam perkara ini akan ada sesuatu yang heboh bakal terungkap.

"Pokoknya saya tak bisa jelaskan di sini. Nantilah di persidangan, itu semua akan jelas dibuka. Secepatnya kami akan lakukan pemberkasan dan dilimpahkan ke pengadilan," pungkasnya. (rhendi umar)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado