Cabuli Pelajar SMA Hingga Hamil, Karyawan Swasta Dipolisikan

Manado, MS

Kisah romantis 2 sejoli akhirnya berujung pada terali besi. Selasa (15/5) kemarin, seorang pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) terpaksa harus mendatangi Markas Kepolisian Resor Kota (Mapolresta) Manado. Remaja putri berinisial FH (17) sebut saja Mawar warga disalah satu Kecamatan Tikala, ini datang didampingi orang tuanya untuk melaporkan pacarnya berinisial CP alias Christo (21) warga yang sama. Hal ini dilakukan Mawar dan keluarganya, karena ulah pacarnya yang telah menghamili dirinya. Akibat perbuatan lelaki yang bekerja sebagai karyawan swasta tersebut, kini Mawar telah berbadan dua.

Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Hubungan Masyarakat (Humas) Kepolisian Resor Kota (Polresta) Manado, AKP Roly Sahelangi membenarkan adanya laporan tersebut.

“Laporan sudah kami terima dan sekarang kasusnya masih dalam penyelidikan unit perlindungan perempuan dan anak (PPA), “ungkap Sahelangi.

Dia menjelaskan, modus yang dilakukan pelaku adalah dengan berjanji akan bertanggung jawab dan menikahi korban apabila terjadi sesuatu dengan korban.

“Karena bujuk rayu dari sang pacar, akhirnya keperawanan korban diberikan kepada pelaku,” jelas Sahelangi.

Diketahui sebelumnya, antara Mawar dan Christo adalah sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan pacaran belum lama. Keduanya berhubungan badan layaknya suami istri dirumah Christo pada saat kondisi rumah dalam keadaan sepi.

Hubungan badan ini dilakukan hingga berkali-kali setiap ada kesempatakan. Karena sering melayani syahwat sang pacar, korban yang duduk dibangku kelas tiga ini akhirnya hamil.

Terungkapnya kasus ini setelah orang tua korban melihat anaknya sering mual dan muntah. Karena curiga, orang tua korban menanyakannya, dan dijawab oleh anaknya, bahwa dirinya telah melakukan hubungan badan layaknya suami istri dengan pacarnya.

Mendengar penuturan polos anaknya, korban didampingi orangtuanya melaporkan kasus yang dialami putrinya itu ke Mapolresta Manado guna proses hukum selanjutnya.

“Korban telah divisum, jika nanti terbukti, pelaku bisa dijerat dengan Pasal 81 Ayat 1 sub Pasal 82 Undang undang 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” pungkas Sahelangi. (tr-2)


Komentar