DBD TEROR BALITA DI MINAHASA


Dinkes Lakukan Pengasapan di 11 Kecamatan

 

Tondano, MS

Intensitas penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Minahasa kian meninggi. Sejak awal 2017, 40 kasus dikantongi Dinas Kesehatan. Satu diantaranya dilaporkan meninggal dunia. Data yang dirangkum, korban DBD di Minahasa didominasi anak usia dibawah lima tahun (Balita).

 

Kondisi ini langsung ditanggapi serius pihak pemerintah. Dinas Kesehatan melalui petugas Puskesmas langsung melakukan upaya pencegahan penyebaran.

"Sejauh ini, sudah puluhan desa yang tersebar di 11 kecamatan telah kita lakukan pengasapan atau fogging. Upaya itu dilakukan untuk membunuh nyamuk yang membawa dan menularkan penyakit DBD," papar Kepala Dinas Kesehatan Minahasa, dr Yuliana Kaunang MKes, yang dihubungi Media Sulut melalui ponsel pribadinya, Rabu (21/6) kemarin.

Hanya saja, upaya pengasapan kata Kaunang tidak untuk membunuh jentik-jentik nyamuk yang dapat berkembangbiak. Untuk itu, upaya preventif juga harus dilakukan warga dengan menerapkan pola hidup bersih dan 3-M (menguras, mengubur dan menutup) media penampungan air.

"Nyamuk Aedes Aegepty selaku mediator virus DBD berkembangbiak dilingkungan sekitar rumah, khususnya ditempat-tempat yang tergenang air. Makanya perlu ada upaya pencegahan melalui pola 3-M untuk menghentikan perkembangbiakan jentik nyamuk," urainya.

Kondisi cuaca yang tak menentu juga diakuinya jadi pemicu utama meningkatnya kasus DBD. "Musim yang tak menentu yaitu kadang panas kadang hujan membuat penyebaran DBD cepat meluas. Masyarakat harus berhati-hati terhadap DBD ini karena sangat berbahaya," pintanya.

 

DINKES DIMINTA PETAKAN WILAYAH RAWAN DBD 

Meningkatnya kasus DBD ikut menarik perhatian wakil rakyat di DPRD Minahasa. Edwin Lumi, salah satu legislator penghuni Gedung Manguni meminta pemerintah, khususnya Dinas Kesahatan untuk melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah rawan DBD.

Menurutnya, pemetaan wilayah penting sehingga bisa menjadi prioritas penanganan sebelum penyakit makin mewabah di masyarakat. "Intinya, supaya ada sasaran jelas yang nanti akan dijadikan prioritas penanganan. Jadi tak perlu ada kasus terjadi dulu baru dilakukan upaya penanganan. Pencegahan jauh lebih baik," kata Lumi.

Hasil pantauan Media Sulut, upaya pengasapan mulai dilakukan Dinkes Minahasa melalui petugas Puskesmas. Seperti fogging yang dilakukan di Desa Noongan Raya, Rabu (21/6) kemarin. Pengasapan dilakukan di rumah-rumah warga yang pernah atau masih menderita penyakit DBD hingga radius 100 meter disekitarnya. 

Diberitakan sebelumnya, Desa Noongan Raya Kecamatan Langowan Barat merupakan salah satu wilayah yang warganya banyak terserang DBD. Pekan kemarin, sebanyak empat warga di desa ini harus menjalani pengobatan di RSUD Noongan karena terserang DBD. Bahkan sebelumnya, ada beberapa pasien di desa ini yang menderita penyakit serupa namun sudah sembuh setelah berobat ke rumah sakit.

Warga Noongan pun sempat menyorot penanganan DBD didesanya. Pemerintah Kecamatan Langowan Barat dan Puskesmas Turamaras, serta pemerintah di tiga desa di Noongan Raya, dinilai lamban dalam melakukan tindakan pencegahan. (jackson kewas)

 

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado