Bupati Minut, Vonnie A Panambunan didampingi ajudan dan sespri saat tiba kantor Kejati Sulut, Rabu kemarin.(foto:ist)

Diperiksa Kejati Sulut, VAP Kian Tersudut

Kasus Korupsi Proyek Pemecah Ombak

 

Manado, MS

 

Komitmen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara (Sulut), untuk mengusut tuntas kasus dugaan korupsi proyek pemecah ombak di Likupang Minahasa Utara (Minut), tak sekedar isapan jempol.  Pemeriksaan saksi dan pengembangan kasus yang ditengarai merugikan uang negara Rp8,8 miliar itu, terus digenjot oleh Korps Adhyaksa besutan M Roskanedi.

Teranyar, Rabu (18/4) kemarin, tim penyidik Kejati Sulut, memeriksa Bupati Minut, Vonnie Anneke Panambunan (VAP). Sosok yang kerap disebut-sebut oleh beberapa saksi kasus proyek pemecah ombak yang tengah bergulir di pengadilan itu, diperiksa sebagai saksi atas tersangka JT alias Tambunan, Direktur Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Orang nomor satu di Minut itu datang di kantor Kejati sekitar pukul 09.00 Wita dan diperiksa hingga pukul 11.00 Wita. Politisi Nasional Demokrat (Nasdem) itu, kabarnya dicecar dengan puluhan pertanyaan. Posisi VAP pun kian tersudut.

Sebab beredar info, VAP akan segera ditetapkan sebagai tersangka. Bukti indikasi keterlibatan VAP dikabarkan telah dikantongi penyidik. Termasuk keterangan-keterangan saksi  dalam proses persidangan tiga terdakwa kasus dugaan korupsi proyek pemecah ombak, yang banyak menyudutkan mantan Ketua Gerindra Sulut itu.

Namun, kabar itu ditepis Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Sulut, Yoni E Mallaka. Menurutnya, VAP masih dimintai keterangan sebagai saksi. “Belum. Tim penyidik masih mengumpulkan bukti,” bebernya.

"Yang bersangkutan (VAP,red) diperiksa sebagai saksi atas JT alias Junjungan, salah satu tersangka kasus proyek pemecah ombak Likupang Minut," sambungnya.

Disinggung soal pertanyaan penyidik ke VAP, Mallaka menyebut sekitar 30-an. Pun begitu, ia masih enggan menyampaikan materi pertanyaan yang diberikan penyidik kepada VAP. “Kalau itu sudah masuk pada materi penyelidikan. Itu kewenangan sepenuhnya dari tim penyidik,” kata jaksa dengan segudang prestasi itu.

“Yang pasti kasus ini akan diusut tuntas. Siapapun yang terbukti terlibat, akan diproses secara hukum tanpa pandang bulu,” kuncinya.

VAP sendiri, saat coba dimintai keterangan oleh para wartawan usai menjalani pemeriksaan sekitar 2 jam, enggan meresponnya.

Hanya beberapa ungkapan yang terlontar dalam mulut VAP, saat meninggalkan kantor Kejati. “Darah Yesus berkuasa. Tuhan Yesus besertaku,” ujar VAP sambil bergegas ke mobil dengan pengawalan ketat para ajudannya.

Diketahui, dugaan korupsi pemecah ombak Desa Likupang Minahasa Utara itu mulai diusut Kejati Sulut sejak tahun 2016. Kasus ini dilaporkan oleh LSM yang menemukan dugaan kejanggalan dalam  proyek berbandrol Rp 15 Miliar tersebut. Proyek itu ditengarai tanpa melalui proses tender atau hanya melalui penunjukkan langsung.

Terbukti, Kejati Sulut kemudian menyeret tiga terdakwa ke meja hijau. Masing-masing, mantan kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minut, Rosa Tindajoh, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Steven Solang dan Kontraktor, Robby Moukar.

Ketiganya diduga terlibat dalam tindak korupsi yang mencapai angka Rp 8,8 miliar. Selanjutnya, Kejati Sulut menetapkan tersangka baru, yakni JT alias Junjungan, Direktur BNPB. Mengingat, dana proyek pemecah ombak itu berasal dari BNPB yang dikelola oleh BPBD Minut.

JT dikenakan pasal 2 ayat 1 jo pasal 3 jo pasal 18 UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah oleh UU No. 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. (tr-2)

 

 

 

 

 

 


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.