DIPERIKSA KPK, MMS KEMBALI DIBUI


Manado, MS

 

Karir politik Marlina Moha Siahaan (MMS), tergolong tragis. Usai menahkodai Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), selama dua periode, Bunda Butet sapaan kondang Marlina, ‘akrab’ berjibaku dengan penegak hukum. Itu menyusul sederet kasus dugaan penyimpangan yang menyerempet politisi Golkar  tersebut.

Terpopuler perkara kasus korupsi Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa (TPAPD) Bolmong tahun 2010, yang menyeret kreator pemekaran daerah di Bolmong Raya, ke meja hijau. MMS telah divonis  vonis 5 tahun penjara oleh majelis hakim Tindak Pidana Korupsi (Tidpikor) Manado dalam kasus yang diusut sejak 2012 silam.

Legislator Sulawesi Utara (Sulut) dari Fraksi Golkar pun melakukan banding. Namun ditengah upaya banding, Aditya Anugrah Moha (AAM), putra MMS tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menyuap Ketua Pengadilan Tinggi Manado (PN Manado), Sudiwardono. Usaha suap terkait banding MMS, menambah suram perjalanan srikandi berdarah Batak itu.

Selasa (17/10) kemarin, MMS kembali harus menjalani pemeriksaan oleh tim penyidik KPK. Mama Adit diperiksa di Polda Sulut terkait kasus suap AAM bersama Panitera Pengadilan Negeri (PN) Manado Refly Batubuaja, dan Panitera Tipikor Pengadilan Tinggi (PT) Manado Andry Tumilaar.

Informasi yang dirangkum harian ini, MMS diterbangkan dari Jakarta dan mendapat pengawalan dari sekitar 10 tim penyidik KPK. MMS yang menggunakan baju coklat tua dan kerudung berwarna coklat cerah, setiba di Bandara Sam Ratulangi Manado, langsung digelandang ke Polda Sulut.

Ia tiba sekitar pukul 08.30 WITA dan mulai menjalani pemeriksaan  sekitar pukul 09.00 WITA di ruang rapat Reserse Kriminal Khusus (Krimsus) Polda Sulut.  Terpantau, MMS diperiksa hampir 8 jam. Ia pun meninggalkan ruang pemeriksaan sekitar pukul 17.30 Wita dengan pengawalan ketat dari tim penyidik yang didampingi Jaksa Kejaksaan Tinggi Sulut, Bobby Ruswin, Kepala Seksi (Kasi)Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kotamobagu Da'Wan Manggalupang, dan Kasi Intelejen Kotamobagu Evans E. Sinulingga.

Tim penyidik KPK, sendiri enggan dimintai keterangan. Namun ditempat terpisah, Juru Bicara KPK Febri Diansyah, membenarkan adanya agenda pemeriksaan terhadap MMS tersebut. Menurut Febri, MMS diperiksa diperiksa sebagai saksi untuk tersangka anggota DPR Komisi XI dari Fraksi Partai Golkar, Aditya Anugrah Moha, anak kandung Marlina. "Yang bersangkutan akan diperiksa untuk tersangka AAM," ujar Febri di gedung KPK, Selasa kemarin.

Dalam kasus ini, Aditya ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga menyuap Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sudi Wardono. Suap tersebut diduga guna memengaruhi putusan perkara yang menjerat ibunya. Marlina sudah divonis 5 tahun penjara di Pengadilan Negeri Manado. Atas vonis itu, Marlina mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Manado. Dalam operasi tangkap tangan, KPK menduga uang suap yang diberikan Aditya kepada hakim sebesar 64.000 dollar Singapura.

Sementara Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Ibrahim Tompo, ketika dimintai keterangan menyebut KPK hanya meminjam pakai salah satu ruangan Polda untuk melakukan pemeriksaan terhadap MMS Cs.  "Memang pemeriksaannya berlangsung disini. Tapi itu sepenuhnya kewenangan KPK. Kami hanya menyiapkan tempat saja," singkatnya.

MMS BANGGA AAM

Meski dililit sederet kasus hukum MMS, masih menebar senyum, usai diperiksa hampir 8 jam oleh tim penyidik KPK di Polda Sulut. Malah Bupati Bolmong periode 2001-2006 dan 2006-2011 masih meladeni wawancara dengan para awak media.

Ia pun mengungkapkan curahan hatinya spesial untuk AAM, putra kandungnya. MMS mengaku tetap bangga dengan anaknya. "Sebagai seorang ibu tidak ada kata, yang bisa saya ungkapkan. Saya, beryukur dari banyaknya ibu, punya seorang anak yang berbakti kepada orangtuanya Ia melakukan hal ini untuk ibunya," ungkap Bunda Butet dengan mata   berkaca-kaca.

Meski begitu, dari segi hukum, ia mengaku tindakan yang dilakukan putranya salah. Namun dari sisi dirinya sebagai seorang ibu, ia mengapresiasi pengorbanan anaknya tersebut.

"Syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena saya diberikan anak yang berbakti. Mudah-mudahan banyak anak-anak yang berbakti dan menyayangi orang tua mereka," curah Legislator Sulut itu.

MMS mengaku dirinya diperiksa KPK terkait kasus yang menyeret anaknya, namun ia enggan membeberkan materi pemeriksaan yang ditanyakan penyidik KPK. "Pertanyaannya, ditanya saja sama penyidik yah," ujarnya. Ditanya berapa lama diperiksa, Ia menjawab tidak lama. “Tidak lama,” singkatnya.

Di akhir wawancara, MMS pun memohon doa dari seluruh masyarakat agar dirinya dan putranya diberikan kekuatan dalam menghadapi kasus hukum yang mendera mereka. "Mudah-mudahan anak saya dan saya diberikan kekuatan dan kesabaran. Saya yakin ada hikmah dari Ini semua. Amen.," kuncinya.

Sebelumnya, AAM telah mengakui menyuap Ketua Pengadilan PN Manado, Sudiwardono terkait perkara ibunya, MMS. Duit itu diakui berasal dari kantongnya sendiri.

"Ya, uang saya," kata Aditya setelah menjalani pemeriksaan di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (12/10) lalu.

Politikus Golkar ini juga mengaku menyesal atas perbuatannya. Namun dia tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan nama ibunya, Marlina Moha Siahaan, yang sudah divonis 5 tahun oleh Pengadilan Negeri Manado.

"Secara pribadi tentu saya harus menyatakan secara ini saya menyesal harus terjadi. Tetapi untuk memperjuangkan nama seorang ibu, saya pikir (ketika) Mas juga dalam posisi saya,  kita akan bersepakat bersama untuk melakukan yang terbaik. Di mana lagi tempat untuk berbakti kalau tidak dari seorang ibu. Kita melakukan berupaya menolong seorang ibu," tuturnya.

Aditya juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat, khususnya rakyat Sulawesi Utara. Jika ada kemungkinan hukuman ibunya diperberat, Aditya meminta agar diberi jalan terbaik. "Ya, kita doakan. Saya memohon doa dan insan kawan-kawan pers (ini) bisa selesai sebaik-baiknya. Ini bisa memiliki hikmah yang besar. Dalam kasus ini semua (konsekuensi) harus dihadapI," pungkasnya.

MMS DITAHAN, TIGA PANITERA IKUT DIPERIKSA

Kisah  perjuangan Marlina alias MMS  untuk lepas dari jerat kasus Korupsi Tunjangan Penghasilan Aparat Pemerintah Desa (TPAPD) Kabupaten Bolmong, berakhir pahit. Penangkapan putranya, AAM dan Ketua Pengadilan PN Manado, Sudiwardono oleh KPK dalam kasus suap terkait perkara MMS, jadi  penyulut.

Bupati Bolmong dua periode itu kembali harus menghuni hotel prodeo, setelah sebelumnya sempat berstatus bebas sementara, karena melakukan banding. Penetapan penahanan MMS, dikeluarkan Kejaksaan Tinggi Sulut dengan nomor surat bernomor 81/PEN.PID.SUS/2017/PT.MND, tertanggal 13 Oktober 2017.

Tak ayal, usai menjalani pemeriksaan oleh KPK di Mapolda Sulut, sebagai saksi kasus putranya, AAM, MMS digelandang ke Rutan Malendeng oleh Tim Jaksa Kejati Sulut, Rabu (18/10) kemarin. MMS diantar dengan mobil Inova hitam dengan nomor polisi DB 112 KN.

Kasipdsus Kejari Kota Kotamobagu Da'wan Manggalupang ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan adanya penahanan MMS tersebut. Surat itu ditanda-tangani Plh Ketua PT Manado, Siswandriyono. Surat perintah penahanan terhadap MMS berlaku hingga 11 November 2017.  "Adapun dalam surat penetapan tersebut, PT Manado telah mempertimbangkan kepentingan pemeriksaan, dan memperhatikan pasal 20 ayat (3), jo pasal 21 ayat (1), jo pasal 27 ayat (1), jo pasal 87, jo pasal 238 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP. Sehingga, mengeluarkan surat penetapan penahanan terhadap MMS," terang Mangalupang.

Dalam pemeriksaan di Mapolda, KPK juga memeriksa panitera dari Pengadilan Tidpikor Manado, Refly Batubuaja  dan Pengadilan Tinggi Manado, Andry Tumilaar serta salah satu Hakim Pengadilan Tinggi, YAP Arfen Rafael sebagai saksi terhadap tersangka MMS dan Sudiwardono.

Refly sendiri tak menampiknya, Ia mengaku diperiksa KPK terkait pengurusan administrasi. Sebab proses pengiriman berkas banding dari PN Manado ke PT Manado, ada tanda tangan dirinya.   “Hanya administrasi, karena proses pengiriman berkas banding kita yang tanda tangan,” terangnya.

Senada diungkap Andry. “Ya, saya diperiksa bersama MMS terkait OTT pimpinan saya (Sidiwardono, red). Saya diperiksa bersama MMS,” singkatnya.

Humas PN  Manado, Alfi Usup, ketika dikonfirmasi masih enggan untuk memberikan keterangan. Ia mengaku belum mengetahui secara detail soal pemeriksaan terhadap sejumlah pejabat kejaksaan tersebut.   "Nanti esok (hari ini, red), ya kawan-kawan, agar saya bisa jawab lebih lengkap, " kuncinya.

Diketahui sebelumnya MMS sempat dibebaskan sementara oleh PT Manado, saat Sudiwardono masih menjabat sebagai ketua. Sudiwardono tidak menandatangani Surat Perintah (SP) Penahanan MMS, dengan alasan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terlambat mengirim berkas banding.

MMS telah divonis bersalah oleh Majelis Hakim PN Manado dalam perkara korupsi dana TPAPD  Bolmong Tahun Anggaran 2010, pada Rabu (19/7) lalu.

Dalam amar putusannya, Ketua Majelis Hakim Sugiyanto bersama Hakim Anggota, Halidja Wally dan Emma Ellyani telah menjatuhkan sanksi pidana 5 tahun penjara untuk MMS, disertai Uang Pengganti sebesar Rp1,2 miliar lebih, ditambah denda sebesar Rp200 juta.

Bahkan, Majelis Hakim juga memerintahkan agar MMS langsung ditahan. Usai vonis dibacakan, pihak Kejaksaan langsung menggiring MMS ke Rutan Malendeng. Namun, putusan Majelis Hakim ternyata tidak diterima begitu saja oleh tim Penasehat Hukum MMS. Mereka pun ikut mengajukan banding tanggal 24 Juli 2017. Dan baru teregister di PT Manado tanggal 24 Agustus 2017.

Menariknya lagi, dalam proses banding, Ketua PT Manado, Sudirwardono yang juga merupakan Ketua Majelis Hakim dalam perkara banding MMS, justru nekad mengeluarkan surat yang membuat MMS lepas dari Rutan Malendeng.

Usut punya usut, ternyata ada indikasi praktik suap dibalik pembebasan MMS. Dan hal itu, berhasil dibongkar KPK, dengan pasca menciduk Sudirwardono bersama ADM, Jumat (6/10) lalu, di hotel Pencenongan, Jakarta.

TAUFIK: AMBIL HIKMAHNYA

Kisah suram yang menerpa MMS dan AAM cukup mendapat animo dari publik Bumi Nyiur Melambai. Salah satu datang dari Taufik Tumbelaka, seorang pemerhati sosial politik dan pemerintahan di Sulut.

Dimata Bung Taufik, sapaan akrabnya, MMS merupakan salah satu politisi handal di Sulut. Srikandi yang memiliki pengaruh politik di Sulut, terutama di Bolmong Raya. Mengingat MMS pernah menjadi bupati periode di tanah Totabuan, sebelum Bolmong dimekarkan menjadi 5 kabupaten kota.

Sementara AAM, dianggap adalah figur politisi muda yang potensial. Namun kasus hukum yang mendera ibu dan anak itu, menjadi potret ‘kelam’ bagi perjalanan karir politik MMS dan AAM.

“Tak bisa dipungkiri, MMS merupakan sosok yang hebat. Ia salah satu srikandi terbaik di Sulut. Sulit untuk mencari yang sepadan dengan MMS. Pinter, pluralis, dan dicintai masyarakat,” ungkap jebolan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Sama halnya dengan AAM, yang kini menduduki kursi DPR RI. “Ia figur muda yang potensial. Sulut kehilangan salah satu kader yang handal,” bebernya lagi.

Baginya, penyelenggara negara itu sangat rentan terlibat masalah hukum. Untuk itu, pejabat negara harus lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan, apalagi yang berkenaan dengan uang negara. “Kita ambil hikmah dari kasus yang mendera MMS dan AAM. Bukan tidak mungkin, ini akan terjadi kepada penyelenggara lainnya di Sulut. Karena jadi pejabat negara, satu kaki sudah berada di penjara,” urai putra Gubernur Sulut pertama itu.

“Kealpaan dan kelalaian dari seorang penyelenggara negara, bisa membawa dirinya ke kasus hukum. Jadi kasus MMS dan ADM ini harus jadi pelajaran bersama, khususnya bagi para pemangku kebijakan dan politikus di Sulut,” sambung Taufik.

Terkait, kasus suap bela Ibu yang mendera AAM, Taufik sulit untuk menjawabnya. “Itu posisi yang dilematis. Kita semua pasti tidak mau berharap ada opada posisi dilematis seperti itu. Soal hukum, benar atau salah biarlah pengadilan yang memutuskan. Yang terpenting, kita ambil saja makna positif dari kasus yang mendera MMS dan AAM, dan membuang yang negatifnya,” tandasnya.(rhendi umar/dtc/kcm)

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado