DUEL TERPANAS, PERTARUHAN PAMOR ELIT

Manado, MS

Konstelasi politik jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di 6 kabupaten kota di Sulawesi Utara (Sulut), capai titik klimaks. Itu menyusul telah ditetapkannya pasangan- pasangan calon (paslon) yang akan uji tarung di pesta demokrasi rakyat.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga telah membuka pendaftaran paslon sejak Senin (8/1) hingga Rabu (10/1) besok. Sederet partai politik (parpol) telah resmi mendaftarkan jagoan-jagoannya di KPU setempat.

Pun begitu, mata publik nampak lebih tertuju di Minahasa. Kejutan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mengusung pasangan Royke Oktavian Roring dan Robby Dondokambey (ROR-RD) di injury time, membuat dinamika politik berubah drastis.

Apalagi, sang incumbent, Jantje Wowiling Sajow (JWS), yang selama ini disebut-sebut akan kembali turun arena, dipastikan tersingkir, akibat tak memiliki kendaraan politik untuk maju. ROR-RD, tak hanya diusung PDIP, tapi juga didukung tiga partai besar lainnya, masing-masing Demokrat, Gerindra dan Hanura.

Kolaborasi birokrat handal dan politisi ulung itu akan menantang jagoan yang diusung koalisi Golkar, Nasdem dan PKPI, Ivan Sarundajang dan Careig Naichel Runtu (IvanSa-CNR). Pilkada Minahasa dipastikan hanya akan diikuti dua pasang    calon.

Adu tarung tersengit pun diprediksi akan tersaji di Tanah Toar Lumimuut. Tak hanya pertarungan parpol, tapi juga gengsi elit politik.  “Tanpa bermaksud mengesampingkan daerah lain di Sulut yang gelar Pilkada, tapi di Minahasa memang selalu panas. Apalagi dengan konstelasi politik terakhir yang hanya meninggalkan dua paslon saja atau head to head. Dinamika politiknya pasti akan sangat tinggi,” tanggap Taufik Tumbelaka, salah satu pemerhati politik Sulut kepada harian ini, Senin (8/1) kemarin.

Gengsi dan pamor politik disebut sebagai salah satu pemicu dari tingginya tensi politik di Pilkada Minahasa. “Kabupaten Minahasa itu memang menjadi barometer politik di Sulut. Selain karena jumlah pemilihnya yang besar, disitu juga menjadi ajang pertaruhan pamor dari elit-elit politik,” papar jebolan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjahmada Yogyakarta itu.

Pun begitu, Bang Taufik sapaan akrabnya mengaku khawatir dan prihatin dengan fenomena head to head di Pilkada Minahasa. “Karena akan sangat panas. Itu nggak sehat sebab akan berhadap-hadapan. Rawan menimbulkan gesekan-gesekan tajam dan luka politik. Jujur saya prihatin dengan kondisi ini,” bebernya.

“Lihat contoh di Pilkada Jakarta dan Pilpres 2014. Karena hanya head-head, banyak menimbulkan gesekan dan luka yang hingga kini belum pulih,” sambung putra Gubernur pertama Sulut tersebut.

Sejogianya, lanjut Taufik, parpol yang lain memberikan kesempatan kepada kandidat lain untuk maju. “Bukan bermaksud ke JWS. Siapa saja. Supaya ada pilihan yang lain untuk disajikan kepada masyarakat. Tidak harus head to head. Karena itu lebih rawan,” ketusnya lagi.

“Tapi nasi sudah jadi bubur. Mudah-mudahan warga Minahasa sudah siap menghadapi Pilkada yang head to head ini. Elit parpol juga harus benar-benar memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Jangan sampai mengadu domba masyarakat. Elit harus jadi motor dalam menciptakan Pilkada yang berkualitas, berintegritas dan aman,” timpalnya.

Diketahui, Daftar Pemilih Tetap (DPT) Minahasa saat Pilgub Sulut 2015 mencapai 278,257 pemilih. Jadi DPT Minahasa di Pilkada 2018 berpotensi bertambah di angka sekitar 290.000 pemilih.

KETAT BILA TAK ADA KOMPROMI POLITIK

Pertarungan head to head ROR-RD versus IvanSa-CNR di Pilkada Minahasa, diprediksi akan berlangsung ketat. Mengingat kedua pasangan itu didukung oleh koalisi besar yang dimotori partai ‘penguasa’ di Tanah Toar Lumimuut, masing-masing PDIP dan Golkar.

Selain itu, ada nama-nama besar yang berada dibelakang kedua paslon tersebut. IvanSa merupakan putra Gubernur Sulut dua periode, Sinyo Harry Sarundajang (SHS), CNR, putra Bupati Minahasa dua periode sekaligus mantan Ketua Golkar Sulut, Stefanus Vreeke Runtu (SVR) dan HD adalah kakak kandung Gubernur Sulut serta Ketua DPD PDIP Sulut, Olly Dondokambey (OD).

Tiga tokoh politik Sulut yang memiliki ikatan darah dengan kandidat yang akan bertarung itu, diyakini akan all out mengerahkan seluruh keterpengaruhannya untuk menang.

Apalagi Minahasa memiliki jumlah pemilih terbanyak di Sulut setelah Manado. Itu dinilai menjadi incaran elit parpol untuk menguasai Minahasa, guna memuluskan kepentingan partai di Pileg, Pilpres maupun Pilgub mendatang.

“Kalau berjalan normal, head to head antara ROR-RD dengan IvanSa-CNR, tentu akan berlangsung ketat. Karena kedua pasangan didukung oleh  pimpinan koalisi partai (PDIP dan Golkar, red) yang sama-sama memiliki mesin partai yang kuat serta basis massa besar di Minahasa,” ujar Taufik Tumbelaka.

Tapi konstelasi dinilai akan berbeda bila ada kompromi politik yang lain. Utamanya dari Golkar. Mengingat hubungan Ketua Golkar Sulut, Christiany Eugenia Paruntu dengan SVR, kurang harmonis.

“Bukan tidak mungkin, Tetty  (Christiany Eugenia Paruntu, red), akan berbeda dukungan politiknya di Minahasa. Dalam politik itu bisa terjadi,” semburnya.

Alasan Taufik, bila IvanSa-CNR menang, itu bisa mengangkat kembali pamor SHS dan SVR yang mulai meredup. “Secara politik itu tentu akan merugikan Tetty. Kalau ada deal politik, bisa saja Tetty memberikan dukungan terselubung kepada ROR-RD,” sambung pemerhati politik Sulut itu.     

Dan Olly, lanjut Taufik, pinter membaca peluang itu. “Tetty kan lagi diperhadapkan situasi yang dilematis. Sekali lagi, bisa saja ada kompromi-kompromi politik bila melihat peta politik yang terbentuk di Minahasa saat ini,” ulasnya lagi.

Pun begitu, kemenangan paslon di Minahasa dinilai tak akan lepas dari kemampuan kandidat, mesin partai serta tim sukses dalam meyakinkan warga dengan jualan ide, gagasan, konsep dan program yang akan dilakukan di Minahasa. “Jangan hanya menjual isu murahan atau konsep yang tak mungkin terealisasi. Karena masyarakat sekarang sudah lebih cerdas dan dewasa dalam berpolitik,” lugas Taufik.

Ia pun berharap Pilkada Minahasa akan bebas dari politik uang. “Mudah-mudahan bukan money politic yang akan menang di Minahasa. Tapi benar-benar pilihan yang murni dari masyarakat. Penyelenggara Pilkada juga harus benar-benar independen dan menyelenggarakan Pilkada berkualitas dan berintegritas,” tandasnya.

PERJUDIAN PDIP

Pilkada Minahasa  dinilai akan menjadi pertaruhan besar bagi PDIP. Itu menyusul keputusan PDIP yang mengusung ROR dan RD sebagai calon bupati dan wakil bupati dengan menyingkirkan sang petahana, JWS.

"Bagaimana pun Minahasa itu adalah harga diri PDIP. Dari enam daerah penyelenggara Pilkada di Sulut sepertinya Minahasa yang akan menjadi perhatian serius PDIP pada Pilkada serentak tahun ini. Mereka akan berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk dapat meraih kemenangan," tanggap Liando.

Dia menilai, perjuangan hidup mati PDIP di Minahasa memiliki beberapa alasan. Pertama PDIP harus membuktikan kepada publik bahwa mereka tidak salah memilih dalam menentukan calon kepala daerah.

"PDIP sadar bahwa keputusan itu sangat kontroversial karena tidak mencalonkan kadernya sendiri. Lebih dari itu PDIP sepertinya mengambil langkah spekulatif karena tidak mencalonkan incumbent. Kontroversi ini akan sirna apabila PDIP bisa membuktikan kemenangan calon mereka di Minahasa," papar Liando.

Selain itu, kompetisi di Pilkada Minahasa merupakan pembuktian kepada publik bahwa PDIP masih eksis dan memiliki power di daerah. "Sebab realitanya pada pilkada-pilkada sebelumnya PDIP banyak menelan kekalahan," timpalnya.

Menurut Liando, harga diri PDIP juga terkait dengan bakal calon wakil bupati Minahasa yang memiliki hubungan biologis dengan ketua DPD PDIP Sulut sekaligus Bendahara DPP PDIP dan Gubernur Sulut, Olly Dondokambey.

"Baik gubernur, wakil gubernur dan ketua DPRD berasal dari PDIP. Penguasaan jabatan tertinggi di Sulut harusnya mempengaruhi struktur kekuasaan dalam mempengaruhi sikap politik masyarakat. Tanpa menyampingkan daerah lain, namun sepertinya Minahasa akan jadi perhatian khusus PDIP. Karena Minahasa itu harga dirinya PDIP," tandas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) di Universitas Samratulangi itu.

DUA KUBU OPTIMIS MENANG

Duel panas kubu Golkar Cs melawan kubu PDIP Cs dipastikan seru. Adu kekuatan antar dua kubu bakal mendominasi arena pertarungan pesta demokrasi di Tanah Toar Lumimuut.

Menilik sisi historis sejarah perjalanan pesta demokrasi Minahasa, Golkar dan PDIP memang jarang akur dan sering terlibat pertempuran sengit. Meski sering mendominasi kemenangan, Partai Golkar pada Pilkada 2012 silam harus menelan pil pahit. Kejayaan birokrasi yang digenggam puluhan tahun sekejap berpindah tangan. Saat itu, PDIP berhasil mengukir sejarah kemenangan untuk pertama kalinya di Tanah Malesung.

Pada Pilkada Minahasa kali ini, peluang Partai Golkar untuk merebut kejayaan yang pernah diraih kembali terbuka. IvanSa dan CNR dianggap sebagai pasangan ideal untuk memenangkan pertarungan Pilkada.

Nada optismisme yang besar diusung elit Golkar Minahasa. "Barisan sudah dirapatkan, dukungan bagi partai Golkar pun terus mengalir dari berbagai penjuru. Jadi kami optimis, bersama Nasdem dan PKPI pasangan IvanSa CNR akan memenangkan Pilkada Minahasa," lugas Sekretaris Dewan Pebgurus Daerah (DPD) II Partai Golkar Minahasa, Febry Suoth.

"Intinya soliditas, berdoa dan kerja keras akan membuahkan hasil yang baik. Sebab bagi kami, kemenangan itu bisa diraih dengan bergandengan tangan," kata dia.

Kubu PDIP pun yakin akan mampu mempertahankan kejayaan yang saat ini mereka genggam di Minahasa. "PDIP adalah partai yang dibesarkan dengan banyak tantangan. Kalah menang bagi kami soal biasa, tapi soliditas adalah modal utama kami," ungkap Ketua Bappilu DPD PDIP Sulut, Lucky Aldrin Senduk.

"Pilkada Minahasa adalah salah satu prioritas kami untuk merebut kemenangan. Strategi sudah disiapkan, dan tentunya bersama pasangan ROR dan RD kami siap bertempur merebut simpati masyarakat Minahasa. Biarlah rakyat yang menentukan," tegasnya lagi.

Apalagi lanjut Senduk, PDIP disokong oleh    Hanura, Gerindra  dan Demokrat, yang dinilai memiliki mesin partai kuat dan massa yang signifikan di Minahasa. “Kami dengan teman-teman di Gerindra,  Hanura dan Demokrat, akan berjuang  bersama untuk ROR-RD demi Minahasa yang lebih baik,” tandasnya.  

Diketahui, Demokrat menjadi partai terakhir yang memberikan dukungan kepada ROR-RD. Partai pemilik 5 kursi di DPRD Minahasa itu, resmi mengeluarkan dukungan kepada paslon yang diusung PDIP, pada 8 Januari 2018 kemarin. SK DPP itu ditandatangani Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono dan Sekjen, Hinca Pandjaitan.

Wakil Ketua DPD Sulut Partai Demokrat, James Karinda, membenarkan hal tersebut. “Ya, itu keputusan dari DPP. Jadi seluruh kader partai dari struktur DPD hingga PAC di Minahasa wajib mengamankan keputusan partai tersebut,” kunci Fraksi Demokrat di DPRD Sulut itu.(tim ms)


Komentar