Dr. Ivan Kaunang

GENERASI MUDA DAN PELESTARIAN NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN

Oleh: Ivan R.B Kaunang

(Akademisi, Budayawan)

 

Hari ini kita berseminar dalam rangka peringatan Hari Pahlawan. Untuk mereka yang pernah berjuang dalam berbagai medan perjuangan, baik era sebelum dan sesudah kemerdekaan 17 Agustus 1945, jika mereka masih hidup, maka umurnya sudah mencapai 80 – 90-an tahun. Berbeda rasa dan tanggapan dengan generasi kekinian, sebab saudara dan saya tidak merasakan langsung. Jika mereka hadir hari ini, dalam dada para pejuang seakan hidup lagi api semangat kemerdekaan itu.

Dalam ingatannya mulai terbayang apa dan bagaimana situasinya yang terkadang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, ... hanya airmata ! Kalau ditanya pada generasi kekinian, para siswa dan mahasiswa, undangan sekalian, mungkin diantara kita tidak memiliki jawaban, karena kita baru disadarkan dengan tema seminar hari ini. Kalau ditanya hari apa hari ini, ya tentu hari Senin ! Kalau seminar hari ini dirayakan dalam rangka hari pahlawan, maka peristiwa hari ini bukan diletakkan pada aspek seremonial, tetapi lebih dari itu adalah arti pentingnya bagaimana pewarisan nilai-nilai perjuangan bangsa dari generasi ke generasi yang harus terpatri dalam diri dan jiwa anak bangsa.

Peringatan hari-hari nasional, hari pahlawan, bukanlah sekedar nostalgia, tetapi inilah wujud kematangan sikap sebagai bangsa yang besar yang tahu menghargai jasa para pahlawannya. Dari sini diharapkan kita memiliki tekad untuk meneruskan dan menjunjung tinggi nilai-nilai perjuangan para pahlawan yang telah mendahului untuk menjadikan bangsa ini bermartabat dalam pergaulan internasional.

TANTANGAN KEBANGSAAN

Tema besar (judul) makalah ini divariabelkan menjadi tiga bagian, yakni tentang generasi muda, pelestarian nilai-nilai kepahlawanan, dan kepahlawanan. Jika disimak dan dibaca-baca kembali judul ini, sepertinya ada kesan mempertanyakan bahkan mungkin mensangsikan bagaimana generasi muda bangsa (siswa dan mahasiswa) melanjut-lanjutkan, mewarisi, melestarikan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai kepahlawanan dalam mengisi pembangunan bangsa Indonesia. Biasanya tema/topik seperti ini baru menjadi pembicaraan sentral, ketika bangsa ini berada pada tanggal yang di kalender menunjuk pada hari-hari besar nasional, hari peringatan bersejarah dengan semangat kebangsaan Indonesia.

Hari-hari khusus berkaitan dengan sejarah bangsa, antara lain Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Sumpah Pemuda 28 Oktober, peristiwa Hari Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado, Hari Pahlawan 10 November, dan hari-hari lainnya yang dapat membangkitkan nasionalisme seluruh anak bangsa Indonesia. Generasi terus berganti, zaman terus berubah dan tantangan yang dihadapi beragam baik yang datang dari dalam maupun yang datang dari luar kaitannya dengan merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara. Etika bangsa dipertaruhkan sebagai bangsa yang religius dan memiliki komitmen menjunjung hakikat kemanusiaan.

Menurut Tap MPR Nomor VI tahun 2001, ada beberapa tantangan kekinian, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Ada lima tantangan dari dalam: 1. Lemahnya penghayatan dan pengamalan agama serta munculnya pemahaman terhadap ajaran agama yang keliru dan sempit. 2. Pengabaian terhadap kepentingan daerah serta timbulnya fanatisme kedaerahan. 3. Kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinekaan dan kemajemukan (pluralisme dan multikulturalisme). 4. Kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagai pemimpin dan tokoh bangsa. 5. Tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal.

Tantangan yang datang dari luar, lagi-lagi kita sebut (arus) globalisasi. Kapitalisme global adalah salah satu “momok” yang mempengaruhi perumusan kebijakan nasional. Indonesia sebagai suatu negara yang berdaulat tidak sedang hidup sendiri di era global. Semua negara didunia sadar ataupun tidak, terasa ataupun tidak, telah turut bersama dalam arus global itu. Tidak bisa dihindari, dan salah satu alat globalisasi adalah maju pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Teknologi media (internet, handphone, twitter, facebook, dan sejenisnya) menjadikan manusia terhubung satu dengan yang lain, dan (hamper) tanpa batas (postglobal). Bahkan kita tidak saja menjadikan media sebagai alat keterhubungan satu manusia dengan manusia lainnya atau bangsa dan negara lainnya, tetapi juga, media telah memainkan perannya, menghegemoni manusia sehingga manusia menjadikannya sebagai “tuhan”. Dunia seakan berlari, menuju ke suatu tempat entah dimana ujung sampainya. Mencari dan terus mencari entah apa yang dicari dan ingin dicapai! Itulah yang kemudian disebut oleh Yasraf Amir Piliang (2004) “tuhan-tuhan digital” judul sebuah buku yang ditulisnya.

Jika pada zaman sebelum kemerdekaan, generasi muda bangsa diperhadapkan dengan tantangan melawan dan mengusir penjajah, pada masa kemerdekaan adalah bagaimana generasi muda menjawab tantangan dalam mempertahankan kemerdekaan yang sudah diperoleh, kemudian lanjut dimasa kini, era reformasi bahkan pasca reformasi, era global, dengan tantangan yang semakin kompleks.

Terkesan, etika dan moralitas bangsa ini semakin merosot. Instanisasi menjadi andalan manusia kekinian dalam berbagai sendi kehidupan, dan hal ini ditandai dengan meningkatnya kriminalitas, merajela penggunaan narkoba, seks bebas, korupsi, dan tindakan-tindakan lainnya yang mengarah pada aksi terorisme dan radikalisme.

Kompleksitas tantangan bangsa membutuhkan peran generasi muda pada soal tanggungjawab untuk berupaya bagaimana mengisi kemerdekaan dengan ide-ide dan pemikiran cemerlang, sifat, sikap dan tindakan dengan berbagai kegiatan positif kreatif, inovatif, serta berusaha menjadikan bangsa ini sejajar dan berperadaban tinggi, berdaya saing di era postglobal. Tentu banyak cara untuk mewujudkan keinginan-keinginan generasi muda bangsa dalam melestarikan nilai-nilai perjuangan pahlawan, akan tetapi, tentu perlu diketahui dahulu apa yang dimaksud dengan pelestarian, apa yang dipahami dengan nilai-nilai kepahlawanan, apa dan bagaimana bentuk-bentuk pelestarian itu, apakah masih penting dipersoalkan pelestarian nilai-nilai kepahlawanan itu serta tujuannya.

Sejumlah pertanyaan ini diharapkan dapat menuntun dalam eksplanasi makalah ini. Sudah tentu tidak semua pertanyaan akan terjawab maksimal selain dilengkapi dengan diskusi, sambil berdialektika konsep dan pemahaman dalam mengisi kekosongan ruang kognitif pelestarian nilai-nilai kepahlawanan.

GENERASI MUDA DAN PELESTARIAN NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN

Awal pembicaraan dimulai dengan konsep operasional, apa dan siapa generasi muda. Mengacu pada Undang Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2009 tentang kepemudaan, yaitu mereka yang telah memasuki usia antara 16 tahun sampai 30 tahun. Usia ini menurut Undang-Undang adalah usia yang potensial dan penuh dengan inovasi, dan kreatifitas. Umur-umur seperti ini adalah usia yang dikelompokkan sebagai siswa/siswi SMA/SMK dan mahasiswa di suatu perguruan tinggi swasta maupun negeri. Dari pemahaman ini terkesan bahwa tumpuan tanggungjawab yang (lebih) besar diharapkan oleh bangsa dan negara ini ada pada generasi muda.

Generasi muda dituntut adanya tanggungjawab untuk selalu tampil terdepan, berinisiatif, penuh semangat sebagaimana gelora semangat yang ditunjukkan para pejuang dahulu. Ingat organisasi Budi Utomo yang berdiri 20 Mei 1908 sebagai tonggak awal pergerakan nasional dan kebangkitan nasional. Selanjutnya, bagaimana semangat kepemudaan dengan tanpa mempedulikan latarbelakang kehadiran asal-usul, agama, ras dan kepentingan dapat menyatu mewacanakan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928: Kami Putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia Pertanyaannya adalah apakah semangat, jiwa patriotisme generasi muda sekarang mulai redup dibanding dengan generasi sebelumnya? Selanjutnya, apa yang dimaksud dengan pelestarian.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), pelestarian asal kata lestari yang mendapat awalan ‘pe’ dan akhiran ‘an’ yang berarti tetap seperti keadaannya semula; tidak berubah; kekal. Melestarikan berarti menjadikan atau membiarkan tetap tidak berubah; membiarkan tetap seperti keadaannya semula; mempertahankan kelangsungan, pengawetan, dan konservasi.

Selanjutnya, berbicara nilai erat kaitannya dengan masalah norma atau aturan. Ada aturan yang tertulis, dan ini persoalan hukum, dan ada aturan yang tidak tertulis. Aturan-aturan yang tidak tertulis lebih menjurus kepada hakikat pemaknaan atau hakikat nilai itu sendiri. Hakikat pemaknaan dan hakikat nilai adalah sesuatu yang (harus) tetap berfungsi dan bermanfat bagi kelangsungan bangsa ini. Wujud dari nilai-nilai kepahlawanan itu adalah buah dari suatu perilaku yang ditunjukkan baik secara individual (pahlawan) maupun secara berkelompok/kolektif sejak zaman keperintisan perjuangan, pergerakan nasional, dan sampai Indonesia Merdeka 17-8-1945.

Nilai-nilai kepahlawanan itu, seperti patriotisme, kesatriaan, keperwiraan, heroisme, nasionalisme, pantang mundur, rela berkorban, tahan menderita, cinta tanah air, setiakawan, persatuan dan kesatuan, tidak kenal menyerah, tenggang rasa, solidaritas, tidak mementingkan diri sendiri, kerjasama, percaya diri, harga diri, dan rasa senasib sepenanggungan ….. (ada lagi ..........).

Dari penjelasan di atas, maka yang dimaksud dengan pelestarian nilai-nilai kepahlawanan atau pelestarian nilai-nilai perjuangan adalah sebagai upaya menjaga semangat dan jiwa anak bangsa yang berkualitas terhadap esensi nilai-nilai fundamental bangsa daripada wujud fisik kepahlawanan dan perjuangan itu serta lebih terbuka bagi perubahan dan sesuai dengan perkembangan zaman.

IMPLEMENTASI PELESTARIAN

Adapun bentuk-bentuk pelestarian itu banyak ragamnya sesuai dengan wawasan, kreatifitas dan inovasi. Dapat saja bentuk pelestarian itu berupa inventarisasi, konservasi, renovasi, revitalisasi, rekonstruksi, bahkan dekonstruksi. Lewat teater/drama, film/sinetron, iklan, diorama, buku cerita/novel/biografi, perjuangan dan kepahlawanan dalam gambar/foto, karnaval/pawai nasionalisme, pertandingan/lomba pidato, paduan suara, kesenian lainnya, upacara bendera, dan sebagainya.

Akan tetapi, harus diingat pentingnya keterlibatan masyarakat secara umum, tidak sekedar siswa-mahasiswa, peserta didik atau generasi mudanya, melainkan semua pihak. Pelestarian itu harus terpadu, sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat diperoleh maksimal. Pelestarian nilai-nilai kepahlawanan itu perlu terpadu antar instansi/lembaga/institusi terkait atau jaringan kelembagaan serta proses pembuatan suatu keputusan harus bersama, sehingga pelestarian melalui pewarisan nilai-nilai kepahlawanan itu berdaya dan berkelanjutan (suistanable), rencana yang terprogram, dan bukan sesaat atau proyek saja dan selesai. Pelestarian dapat dilakukan melalui jenjang pendidikan.

Hari inipun kita berdiskusi adalah bagian dari pelestarian itu. Melalui pendidikan, dalam hal ini sekolah di berbagai strata, didalamnya adalah guru/dosen menjadi dinamisator program. Sekolah adalah sentral dimana orang-orang saling berinteraksi dari berbagai latar belakang dan diharapkan tercipta proses internalisasi, sosialisasi maupun inkulturasi nilai-nilai perjuangan kedalam kognitif peserta didik. Proses pendidikan adalah bagian integral dari proses transmisi nilai-nilai kepahlawanan baik melalui lingkungan keluarga, teman sepermainan, sekolah dan lingkungan masyarakat umumnya. Dipahami, bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan dengan gagasan-gagasan, pikiran-pikiran atau nilai-nilai yang terkandung dalam benak kognitifnya.

Gagasan dan pikiran tentang nilai-nilai kepahlawanan itu yang masih bersifat abstrak, nantinya menjadi pola pikir yang mapan dalam setiap koginitif generasi muda yang nantinya berwujud dan mempengaruhi sikap, perilaku dan tindakan-tindakan positif yang mengandung sifat mental, dalam kepribadian seseorang. Inilah yang disebut dengan sistem nilai dari kepribadian seseorang yang dapat berkembang sebagai sistem nilai, kepribadian dan jatidiri suatu bangsa.

DAMPAK/MANFAAT PELESTARIAN NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN

Dampak positif yang dapat dinikmati dari pelestarian nilai-nilai kepahlawanan bagi generasi muda adalah tranformasi budaya dan transformasi temporal. Tranformasi budaya berkaitan dengan terobosan yang radikal dalam merobek batasan budaya dan merombak pemahaman sempit kedaerahan suku, agama, dan golongan. Melalui pelestarian nilai-nilai kepahlawanan membuka cara pandang bagi generasi muda terhadap wawasan kebangsaan yang bercorak nasional bukan kedaerahan. Pelestarian nilai-nilai ini menjadi jawaban dan kesadaran serta arti penemuan identitas bangsa.

Transformasi temporal kaitannya dengan pelestarian nilai-nilai kepahlawanan bukanlah sekedar mitos sebagai buah suatu peristiwa yang telah berlalu dan menjadi agenda seremonial belaka, akan tetapi pentingnya aktualisasi diri generasi muda dalam bentuk pemaknaan yang baru. Wujud pelestarian itu tidak sekedar melalui hal-hal yang sudah disebut di atas, termasuk dialog, sarasehan dan seminar/diskusi seperti hari ini, tetapi realitas menunjukkan yang terbalik, terutama kondisi kekinian, dimana budaya kekerasan dan tawuran antar pelajar menjadi fenomena biasa di Republik ini. Hal ini jelas menampakkan degradasi moralitas anak bangsa.

Disinilah pentingnya posisi strategis pertemun (diskusi/seminar) ini dalam menanamkan pemahaman bagi generasi muda untuk menggantungkan cita-citanya setinggi langit serta etos kerja yang tinggi, santun, anggun, dan tahu bersikap (etika) dan berbuat untuk masa depan bangsa ini. Jangan bertanya apa yang negara berikan bagi anda, tetapi bertanyalah apa yang anda dapat berikan bagi negara. Terutama generasi muda (siswa/mahasiswa),

menurut anda sudah cukupkah bekal untuk anda dengan membaca, mengetahui sejumlah deret nama-nama pahlawan yang pernah berjuang untuk dijadikan surih teladan? Sebagai guru/dosen dan pendidik, apakah sudah cukup bekal bagi generasi muda bangsa dengan tersedianya riwayat perjuangan para tokoh pahlawan, lebih khususnya tokoh pahlawan dari Sulawesi Utara yang dapat menjadi sumber inspirasi dan sumber motivasi baik dalam dunia pendidikan maupun dalam pergaulan luas masyarakat? (**)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado