GERINDRA-PKS SIAPKAN CAPRES ALTERNATIF

Jakarta, MS

 

Konstelasi politik jelang pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) 2019, kian berdinamika. Manuver politik gencar dilakoni Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dua partai yang telah sepakat mengusung capres untuk melawan Joko Widodo (Jokowi), makin ‘garang’.

Prabowo Subianto, yang sempat ‘puasa’ mengkritik pemerintahan Jokowi,  tiba-tiba berkicau. Testimoni Ketua Umum Gerindra akhir pekan lalu yang terkesan ‘menyerang’ Jokowi, sempat menjadi viral, bahkan menuai polemik.

Menariknya, kritik Prabowo terhadap pemerintahan Jokowi itu, usai Eks Danjen Kopassus bertemu dengan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Tersiar kabar, Gerindra mulai memainkan strategi politik baru.

Bahkan beredar isu, Gerindra dan PKS mulai menyiapkan capres alternatif. Bola panas menyasar Gatot. Itu menyusul hasil survey dari jenderal bintang empat yang terus melonjak. Apalagi hingga kini, Gerindra tak kunjung mendeklarasikan Prabowo sebagai Capres.

Meski, dalam setiap kesempatan,  Gerindra selalu memastikan hanya akan mengusung Prabowo sebagai capres tunggal. Dan itu kerap diamini PKS sebagai mitra koalisi.

Sinyalemen itu terendus Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro.  Modal popularitas Gatot untuk melenggang di pilpres 2019 dinilai cukup besar. Sebab Gatot dianggap memiliki cukup daya tarik di mata masyarakat awam, sehingga parpol bakal melihat potensi terebut dan mengusungnya sebagai lawan kuat petahana.

"Pak Gatot punya audiens dan sosoknya mengesankan. Dia memang bukan pimpinan partai tapi bukan berarti tertutup, karena politik kan cair," kata Siti, Senin (2/4) malam.

Menurutnya saat ini parpol tengah menjajaki jago-jago dari internal partai. Banyak nama dari ketua umum parpol dan kepala daerah, termasuk Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Namun mendekati 2019 seluruh nama ini akan tersaring dengan sendirinya. Ia pun meyakini Gatot bakal bertahan dalam seleksi tersebut.

Saat ini pun Siti memperkirakan Prabowo tak bakal maju kembali untuk menantang Jokowi. Karena itu Gatot dinilai salah satu kandidat potensial yang akan diusung Partai Gerindra. Pada waktunya, kata dia, PKS kemungkinan akan berkoalisi dengan PKS. "Tinggal mencari figur cawapres," ujarnya.

Sebagai calon yang tak punya kendaraan, Siti memperkirakan Gatot pun telah menyadari sepenuhnya. Sehingga dia sudah menghitung berapa biaya politik yang akan dikeluarkan. Soal biaya, kata dia, tak aneh bila dia kemudian menggandeng para pengusaha yang dikenalnya dan bersedia membantu untuk maju dalam pilpres 2019.

"Karena pengusaha berperan penting, tidak mungkin tanpa bantuan mereka. Jadi bukan rahasia lagi. apalagi di level nasional pasti ada back up," kata Siti menegaskan. Soal siapa figur para pengusaha dimaksud, ia menambahkan, itu sepenuhnya menjadi urusan Gatot. “Kalau itu urusan beliau (Gatot, red), kuncinya.

SIAP NYAPRES, GATOT DITAWARKAN JADI KADER GERINDRA

Hasil pertemuan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dengan sang Ketum Gerindra, Prabowo Subianto, terungkap. Dua jenderal itu, disebut membahas soal Pilpres 2019. Tak hanya itu, Gatot disebut-sebut telah menyatakan kesiapannya untuk ikut Pilpres. Hal itu diungkap Wasekjen Gerindra Andre Rosiade.  “Pak GN (Gatot Nurmantyo, red) setelah tidak jadi Panglima TNI, beliau datang ke Pak Prabowo. Pertemuan itu empat mata," kata Andre kepada wartawan.

Saat menemui Prabowo, Gatot disambut Sekjen Gerindra Ahmad Muzani. Lalu, pertemuan Prabowo-Gatot berjalan empat mata tanpa diganggu siapa pun.  Andre menegaskan Gatot-lah yang pertama kali mengungkit Pilpres 2019 saat mengobrol dengan Prabowo.

Pada akhirnya, Prabowo lalu mengajak Gatot bergabung dengan Gerindra.  "Pak GN menyampaikan keinginan beliau untuk mengikuti konstestasi Pemilu 2019. Pak Prabowo sebagai senior lalu mengajak Pak GN untuk bergabung dengan Gerindra. Intinya, Pak GN yang menyampaikan kesiapan dan rencana beliau di konstestasi Pemilu 2019," jelas Andre.

Gatot sendiri tak menampik telah bertemu dengan Prabowo secara empat mata. Jenderal bintang empat itu menyatakan mendapat tawaran dari Prabowo untuk bergabung ke Gerindra. "Memang ada kata-kata setelah pensiun mau bergabung atau tidak, terbuka peluang," kata Gatot dalam acara Blak-blakan detikcom di gedung Transmedia, Jakarta Selatan, Kamis (22/3) pekan lalu.

Namun Gatot tidak mengungkap bahwa dirinyalah yang menghadap Prabowo dan membahas pilpres. Saat diajak bergabung, Gatot menjawab diplomatis dengan memakai alasan masih sebagai jenderal aktif. Eks Panglima TNI itu baru akan menjadi purnawirawan pada akhir Maret ini.

"Bapak seorang kesatria dan negarawan, jawaban saya sama. Jawabannya adalah saya masih prajurit aktif dan saya tidak berpikir politik praktis," tutur Gatot menirukan jawabannya ke Prabowo.

Tak hanya itu, saat itu Jenderal Gatot juga menunjukkan kesamaan sikap politik dengan Prabowo.  Ia  'selaras ' dengan Prabowo soal telaah 'Indonesia bubar tahun 2030'.  Meski banyak pihak mengkritik pidato Prabowo yang didasari fiksi 'Ghost Fleet' karya pengamat politik dan kebijakan ternama asal Amerika Serikat, Peter Warren Singer dan August Cole.  Gatot menilai apa yang disampaikan Prabowo tak ada yang salah. Menurutnya, negara gagal bisa saja terjadi. Bagi Gatot, apa yang disampaikan Prabowo bisa menjadi warning untuk bangsa Indonesia.

Dan terhitung 1 April 2018, Gatot telah kembali menjadi warga sipil yang memiliki hak memilih dan dipilih. Gatot pun memberi sinyal akan memulai tahap pengabdian dalam lembaran baru.

"Assalamualaikum, hari ini, 1 April 2018, tidak ada yang lebih penting dan lebih utama selain ucapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Atas segala nikmat karunia, ridha dan perlindungannya kepada saya selama ini," ucap Gatot dalam video, Minggu (1/4).

Dalam video berdurasi 4 menit tersebut, Gatot mengungkapkan masa pensiunnya ingin diisi dengan waktu bersama keluarga. Meski telah purna tugas, Gatot mengungkapkan dirinya ingin tetap melanjutkan pengabdian kepada NKRI. Dia menyebut siap berkontribusi jika diminta.

"Saya akan selalu siapa memberikan yang terbaik bagi NKRI yang sangat saya cintai, memberikan bakti sepenuh hari dalam semangat yang tak kenal menyerah hingga tiba saatnya nanti panggilan Illahi," ujarnya di akhir video.

Selepas pidatonya, spanduk dukungan bagi Gatot Nurmantyo untuk berlaga dalam Pilpres 2019 mulai bermunculan. Salah satunya terpotret di Cikini, Jakarta Pusat. Dari foto yang didapat, Minggu (1/4), tampak spanduk itu dipasang di depan Megaria. Spanduk itu berlatar dominan merah dan putih.

Terdapat foto siluet mantan Panglima TNI itu di sebelah kiri. Kemudian, tulisan 'Kami Tahu Kapan Kami Harus Bergerak' tercetak tebal di sisi kanan. "Pemimpin masa depan Indonesia 2019-2024," demikian tulisan lain di bawah spanduk itu.

Bahkan Gatot kini didukung Relawan Selendang Putih Nusantara (RSPN). Organisasi relawan itu telah membentuk 116 dewan pimpinan daerah (DPD) dan sekitar 30-an dewan pimpinan wilayah (DPW).

PKS BUKA PINTU BAGI GATOT

Bak gayung bersambut. PKS juga buka pintu bagi Jenderal TNI (purn) Gatot Nurmantyo sebagai capres 2019. Dengan syarat, Gatot harus jadi kader PKS ataupun Gerindra yang merupakan mitra partai koalisi.

Sinyal itu diungkap Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/4) kemarin. "Mestinya kalau sudah kader bisa diusung," ujar Mardani menanggapi pertanyaan soal peluang Gatot diusung sebagai capres jika dirnya menjadi kader Gerindra atau PKS.

Apalagi, lanjut Mardani, hingga kini Gerindra belum mengumumkan nama capres, meski terus mendorong Ketum Prabowo Subianto untuk maju. PKS menilai sikap Gerindra menandakan belum pasti mengusung Prabowo.  "Kalau saya melihat belum fixed, kan Gerindra belum mengumumkan. Kalau Gerindra sudah mengumumkan baru fixed," beber Mardani.

Pun begitu, Mardani menegaskan PKS tetap siap berkoalisi dengan Gerindra. Siapapun capres yang akhirnya diusung Gerindra, PKS disebut Mardani siap memenangkannya.

"Kalau Gerindra sudah umumkan, kami akan bersama Gerindra. Nah, siapa calonnya, katakan Gerindra ajukan Prabowo sebagai capres, kami terima. Tapi, terima itu hak Gerindra. Habis itu kita duduk bareng," ujar Mardani.

Meski demikian, Mardani mengatakan mereka masih berharap 1 dari 9 nama yang ditawarkan ke Gerindra dapat diusung baik sebagai capres/cawapres. Dari 9 nama itu, ada Presiden PKS Sohibul Iman, eks Presiden PKS Anis Matta, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dan Mardani sendiri. 

"PKS ajukan sembilan, Gerindra ajukan tiga, PAN ajukan dua, duduk bareng mana capres dan cawapres. Kesepakatan itu akan dimusyawarahkan dan apa pun hasilnya kami terima," imbuh dia.

Kembali soal Gatot. PKS mengatakan Gatot sudah mendekati mereka guna komunikasi politik, termasuk pembicaraan soal menjadi kader. Soal hasil pembicaraan, Mardani menegaskan dirinya tak punya kompetensi untuk bicara lebih jauh.

"Kalau komunikasi sudah. Tapi tindak lanjut lebih jauhnya mungkin Pak Sohibul Iman (yang bisa jelaskan)," tandas Wakil Ketua Komisi II DPR itu.

PASTIKAN USUNG PRABOWO CAPRES, GERINDRA BUKA PELUANG GATOT CAWAPRES

Elit partai Gerindra kembali angkat suara. Partai berlambang Garuda itu memastikan akan mengusung Ketum Prabowo Subianto sebagai Capres.  Itu menjawab pernyataan  Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera yang menyebut pencapresan Prabowo di 2019 belum final karena belum juga diumumkan.

"Menanggapi pernyataan Ustaz Mardani Ali Sera, Gerindra menegaskan Prabowo Insya Allah maju," ujar Wasekjen Gerindra Andre Rosiade kepada wartawan, Selasa (3/4) kemarin.

Andre mengatakan ada alasan mengapa Prabowo belum juga dideklarasikan sebagai capres. Salah satunya soal waktu. "Deklarasi Prabowo tinggal teknis partai, lagi cari waktu dan tempat yang pas," sebutnya.  "Ustaz Mardani dan PKS tak usah ragu. Insya Allah beliau akan maju," imbuhnya.

Ia pun menegaskan pihaknya menutup kemungkinan nama lain sebagai capres yang akan diusung. Sosok di luar Prabowo hanya disediakan kursi cawapres. "Kalau mau ikut gerbong kami ya jadi wapres bukan calon presiden," lugasnya.

Menurutnya, siapapun yang tengah mendekati Gerindra harus sadar bahwa tidak ada kursi capres bagi mereka. "Lupakan mimpi jadi calon presiden, capres kami hanya Prabowo. Termasuk seluruh orang, pak Gatot, Anies, TGB, AHY, sembilan nama PKS, Cak Imin, semuanya ya hanya jadi cawapres," tegasnya.

Namun untuk siapa yang akan mendampingi, Andre menyebutkan masih menunggu keputusan partai koalisi. Hal tersebut belum bisa dia pastikan kapan akan selesai urusan dengan koalisi tersebut. "Kapan cawapres muncul, tentu hasil rapat kesepakatan bersama," timpalnya.

Itu diperkuat dengan penegasan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Partainya sudah final akan mengusung Ketua Umumnya Prabowo Subianto untuk maju sebagai Capres. “Kalau untuk Capres, sudah final Pak Prabowo,” tegasnya.

Meski begitu, partainya membuka pintu bagi Jenderal Gatot untuk bergabung bersama Gerindra. Bahkan membuka peluang bagi Jenderal Gatot untuk menjadi cawapres.  "Dari Partai Gerindra kan jelas siapapun yang mau bergabung dan sejalan dengan platform perjuangan Gerindra pasti welcome, termasuk Pak Gatot," kata Fadli.

"Kalau cawapres kita nanti akan diskusikan dengan calon mitra partai koalisi jadi siapapun yang kita putuskan ya kita terima pasti mempertimbangkan segala faktor termasuk elektabilitas, kapabilitas, kapasitas dan lain-lain," ungkapnya.

Namun saat ini, prioritas dari Gerindra adalah untuk mengusung Prabowo sebagai capres. “Kita sudah memutuskan walaupun belum kita deklarasikan bahwa yang akan maju sebagai capres dari Gerindra adalah Pak Prabowo," tandasnya.(dtc/mrd)

 

 

 

 


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.