Reruntuhan tanah yang longsor dilokasi objek bersejarah Goa Jepang Kawangkoan akhir pekan lalu. Kondisi ini sempat menyebabkan arus lalulintas lumpuh selama berjam-jam.

Goa Jepang Kawangkoan Terancam Musnah

Pemda Didesak Lakukan Langkah 'Penyelamatan'

 

Laporan : Jackson KEWAS

 

Situs bersejarah Goa Jepang di Kelurahan Talikuran, Kawangkoan, kritis pasca bencana longsor, Sabtu (11/2). Bangunan peninggalan zaman penjajahan itu terancam tinggal kenangan digusur alam. Upaya 'penyelamatan' mendesak dilakukan.

Reruntuhan material tanah pada peristiwa longsor akhir pekan lalu ikut mengubur sebagian bangunan bersejarah itu. Dikhawatirkan, longsoran tanah akan terus meluas seiring cuaca hujan dan berpotensi merusak seluruh aset yang telah dibangun sejak zaman Kolonial Belanda.

Kondisi ini menyita perhatian serius warga Minahasa, khususnya pemerhati aset bersejarah. Salah satunya diungkapkan Berry Mapaley, warga Kawangkoan.

Bagi dia, goa peninggalan Jepang itu bukan hanya menjadi kebanggaan warga Kawangkoan saja tetapi masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara pada umumnya. "Karena itu butuh perhatian serius pemerintah daerah untuk melakukan langkah penyelamatan secepatnya sebelum aset bersejarah itu musnah," ungkapnya.

Sikap ini dinilai penting. Apalagi tahun ini Pemkab Minahasa sedang gencar-gencarnya mempromosikan objek wisata melalui program bertajuk Pesona Wisata 2017.

"Diantara banyak objek wisata daerah, Goa Jepang di Kawangkoan merupakan salah satu lokasi yang menyimpan nilai bersejarah tinggi pada zaman penjajahan. Tentu akan menjadi salah satu kawasan yang menarik minat pengunjung. Tapi kalau lokasinya rawan, siapa wisatawan yang berani datang berkunjung?," kata Berry.

Diapun mengusulkan agar pemerintah mengalokasikan dana APBD untuk membangun tanggul penguat tebing dilokasi goa. Bahkan kalau bisa, dianggarkan pula anggaran untuk menata fasilitas penunjang di lokasi objek bersejarah itu sehingga nyaman didatangi pengunjung.

"Intinya harus segera dilakukan langkah 'penyelamatan' terhadap aset bersejarah ini sebelum musnah karena faktor alam," tandasnya.

Diketahui, longsoran tanah yang terjadi pada Sabtu (11/2) pagi sempat membuat lumpuh akses jalan dirute Kawangkoan-Sonder. Menurut warga peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 06.25 Wita. Longsoran tanah bahkan nyaris menyerempet sebuah bangunan rumah makan yang letaknya tepat di depan lokasi bencana.

Beberapa saat setelah peristiwa, personil BPBD Minahasa, TNI, Polisi, Satpol PP dan sejumlah warga langsung siaga dilokasi. Aparat kepolisian bahkan sempat memasang garis polisi disekitar lokasi longsor. Arus lalulintas lumpuh total selama 5 jam.

Baru sekitar pukul 11.45 Wita, satu unit alat berat milik Balai Pekerjaan Jalan Nasional (BPJN) tiba di lokasi untuk membersihkan material tanah yang menghalangi badan jalan. Pekerjaan berlangsung satu jam lebih untuk kemudian jalur jalan sudah terbuka dan bisa dilewati oleh kendaraan.

"Saat ini kondisinya sudah stabil. Arus lalulintas sudah lancar, namun pengendara yang melintasi rute tersebut dihimbau waspada. Sebab potensi adanya longsoran susulan itu ada karena cuaca hujan masih mengguyur daerah ini," pesan Kepala BPBD Minahasa, Johanes Pesik. (*)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado