Suasana rapat senat yang dilaksanakan tertutup

Grace Kandou ‘Tersudut’

Walkout Pimpinan Sidang Warnai Penetapan Carek Unsrat

 

Manado, MS Tahapan Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, masuk penetapan Calon Rektor (Carek). Menariknya, sidang senat yang berlangsung di gedung rektorat itu, diwarnai aksi walkout oleh salah satu Pimpinan Sidang yang juga Sekretaris Senat, Prof Dr Patar Rumapea.

Teranyar, polemik status Prof Dr Grace Kandou jadi pemicu. Ditanya alasan keluar dari Sidang Senat yang dimulai pukul 16:00 WITA, Rumapea menjelaskan, keputusannya untuk walkout ketika adanya desakan beberapa anggota senat untuk melakukan voting putusan. Itu terkait apakah diakomodir atau didepak salah satu Bakal Calon Rektor (Bacarek) yakni Prof Dr dr Grace Kandou MKes.

"Persoalan Pilrek ada 8 calon. Kemudian dari panitia mengatakan di antara 8 calon hanya 7 yang sah. Yang satunya belum sah karena ada berkas nomor 16, itu ada pernyataan tidak pernah melakukan plagiat, itu dipertanyakan," kata Rumapea, ketika diwawancarai Media Sulut, Senin (26/2) kemarin.

"Karena dia (Grace Kandou) pernah dapat sangsi dari putusan 1132 dari Rektor (Donald Rumokoy), yang autoplagiat selama satu tahun setengah. Mereka anggap pernyataan tidak pernah melakukan plagiat itu bertentangan dengan bertentangan dengan 1132 (putusan rektor) itu," sambungnya.

Padahal menurutnya lagi, yang 1132 itu berbicara tentang autoplagiat, bukan plagiat. Surat pernyataan tertulis disebut tidak pernah melakukan plagiat atau bukan auto plagiat. "Jadi wajar, masa tidak pernah melakukan plagiat, harusnya mereka terima itu. Kenapa harus divoting di sini. Coba baca UU (Undang-Undang) nomor 17 2010, tentang plagiat," paparnya.

"Itulah alasan saya walkout. Saya tidak mau terlibat dalam keputusan bersama itu. Karena melanggar dengan putusan TUN (Tata Usaha Negara). Saya menghargai putusan TUN yang menyatakan bahwa keputusan rektor 1132, diabaikan, jangan dibahas di sini (sidang senat, red),” sambungnya.

Kandou menyatakan kekecewaannya atas sikap dari penetapan bakal calon rektor tersebut. "Sudah ada putusan PTUN yang mengharuskan saya diakomodir. Tapi entah kenapa hari ini hak saya seperti dizalimi," ujarnya.

Ketua Senat Unsrat Manado Prof Yani Khusen enggan berkomentar banyak terkait proses penetapan calon hari tersebut. "Belum ada komentar hari ini, saya buat berita acara dulu baru kasih statement," tandasnya.

Sementara sebelumnya, berdasarkan sidang di Swissbel Hotel, Rabu (21/2) Penetapan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Manado, nomor 07/PEN/2018/PTUN.MDO, salah satu amar putusannya tegas mengurai kutipannya.

“Menimbang bahwa dengan dikabulkannya permohonan penundaan penggugat tersebut, maka kepada pihak-pihak terkait, berkewajiban untuk mematuhinya dan pelanggaran terhadap penetapan ini menjadi tanggung jawab sepenuhnya baik secara yuridis maupun administrative, terhadap pihak yang melanggarnya,” kata kuasa hukum penggugat Prof Dr dr Grace Kandou MKes yaitu Yanto Manyira SH dan Irfan Pakaya SH.

Dijelaskan, penetapan/putusan yang dikeluarkan PTUN berlaku secara ‘erga omnes’ (mengikat dan harus dilaksanakan). Artinya, rektor sebagai pihak tergugat harus melaksanakan penetapan pengadilan atau Prof Grace Kandou tidak boleh dihalangi sebagai calon rektor Unsrat tahun 2018-2022.

Di samping itu juga dalam pertimbangan menyebutkan, Putusan PTUN disebutkan dalam juklak Mahkamah Agung RI nomor 224/TD/TUN/1993, tanggal 14 Oktober 1993 bahwa penundaan/penangguhan pelaksanaan putusan terhadap objek yaitu SK. 1132 Rektor 2013, maka pejabat PTUN dalam hal ini rektor dan atau panitia Pilrek, dilarang menerbitkan keputusan-keputusan baru kecuali terdapat penetapan lain oleh pengadilan.

Dalam artian, apabila pejabat PTUN seperti rektor dan atau panitia Pilrek mengeluarkan keputusan lain sengaja atau tidak sengaja menghalangi saudara Grace Kandou sebagai calon rektor maka pejabat yng bersangkutan dapat melanggar UU nomor 30 tahun 2014 tentang admistrasi negara. Dimana pejabat tata usaha negara berkewajiban tidak boleh melanggar putusan PTUN Manado dan Kemenristekdikti sebagai penanggungjawab PTUN, dapat melalukan tindakan hukum bagi yang melanggarnya.

Diketahui, ke-7 Carek lain, Yudy Waani, Prof Ir Dody Sumajouw, Prof Dr Telly Sumbu SH MH, Dr Flora Pricilla Kalalo SH MH, Prof Dr dr Adrian Umboh SpA, Prof Dr Ir Jefrey Ignatius Kindangen, Prof Dr Ir Ellen Joan Kumaat. Hingga berita ini dtiurunkan, Sidang Senat di skors selama 30 menit, untuk mengambil putusan terakhir apakah Grace Kandou juga akan ditetapkan Carek Unsrat, bersama ke 7 kandidat lain atau didepak. (sonny dinar)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.