Jokowi dan Prabowo

JOKOWI TERANCAM


Efek Pilkada Jakarta

 

Jakarta, MS

Reputasi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) kian melejit. Sukses menghentar Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai jawara Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta, membuat partai besutan Prabowo Subianto ini kian populer. Teranyar, kemenangan di ibukota negara itu telah membuka ruang bagi partai berlambang burung garuda, merebut kekuasaan tertinggi tanah air.

Menguasai ‘jantung’ ibu pertiwi merupakan hal pelik. Bahkan, partai penguasa di Indonesia sekaliber Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), tidak kuat memenangkan jagoannya memimpin Jakarta. Dari sejumlah prediksi yang mencuat, kemenangan partai Gerindra merupakan jalan tol bagi Prabowo Subianto, untuk kembali di ring Pemilihan Presiden (Pilres) 2019, menyaingi Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang sebelumnya telah dideklarasikan oleh sejumlah partai termasuk Golongan Karya (Golkar)  sebagai Calon Presiden (Capres).

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra DKI Jakarta M Taufik beranggapan, kemenangan pada Pilgub DKI 2017 akan mempengaruhi Pilpres 2019. Taufik yakin akan mendapatkan hasil yang positif. "Pasti ada pengaruh (pada Pilpres 2019), ada pengaruh pada elektabilitas. Iya dong ada pengaruh, nggak bisa dipungkiri," terang Taufik di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (17/5).

Dia belum bisa memperkirakan lawan Prabowo dalam Pilpres 2019. Namun, ia yakin menang bila lawannya adalah Presiden Jokowi. "Kalau gitu, Prabowo menang dong, yang begini kalau jadi maka bisa jadi Presiden. Alhamdulillah, kita sujud syukur," tandas Taufik.

Hasil Pemilukada Jakarta menjadi tolok ukur partainya mengusung Prabowo Subianto maju sebagai calon Presiden RI di tahun 2019. "Kami mengharapkan Pak Prabowo tetap sehat dan maju untuk 2019. Sebab, kalau Prabowo terpilih sebagai pemimpin nasional, akan membuat posisi Indonesia lebih kuat," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon.

Meski begitu, ia menyatakan, partainya belum melakukan pembahasan khusus terkait dengan wacana pencalonan tersebut. Menurut Fadli, pihaknya masih menunggu Undang-Undang Penyelenggaraan Pemilu rampung. Selain itu, Prabowo, belum menjawab keinginan anggota partainya. "Tapi suara dari bawah ingin Pak Prabowo jadi capres 2019," ujarnya. Ia berharap Prabowo mau diusung kembali sebagai calon presiden. Bagi dia, majunya Prabowo menjadi Capres dari Gerindra merupakan bentuk dukungan dari masyarakat. Menurut dia, menyuarakan aspirasi masyarakat juga menjadi salah satu bagian dari perjuangan Gerindra.

Selanjutnya, Prabowo adalah tokoh terpopuler nomor dua setelah Presiden Jokowi. Selain itu, hingga saat ini massanya juga masih banyak. Artinya, partai yang mengajukan tokoh populer sebagai Capres, kemungkinan dapat terdongkrak suaranya. "Jadi, pencalonan Prabowo bagi Gerindra adalah juga strategi yang masuk akal untuk membesarkan partai," tutur Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Djayadi.

Pengamat politik tanah air ini menilai wajar jika Partai Gerindra berkeinginan mengajukan kembali Prabowo Subianto sebagai Capres. Namun menurut dia, masih sulit bicara peluangnya saat ini. Dia memberikan catatan berupa satu pertimbangan penting adalah kinerja dan tingkat kepuasan masyarakat terhadap presiden Jokowi.  Bila Jokowi kinerjanya dianggap baik oleh masyarakat dan tingkat kepuasan masyarakat tinggi, maka akan sulit bagi penantang di tahun 2019 mengalahkan Capres petahana.

"Untuk sementara ini, menurut berbagai survei SMRC, Jokowi masih dianggap memilik kinerja yang baik dan tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi," demikian catatannya.

Kalau program percepatan pembangunan ekonomi berjalan mulus, termasuk pembangunan infrastruktur yang masif, mungkin tingkat kepuasan masyarakat akan makin tinggi. "Penantang dalam pilpres 2019 akan menghadapi pertarungan yang tidak mudah," kata dia.

Hal berbeda dikatakan pengamat politik dari Universitas Mercu Buana (UMB), Maksimus Ramses Lalongkoe. Menurut dia, Prabowo dari segi elektabilitasnya akan sulit melawan Jokowi sebagai petahana. Karenanya, Prabowo diprediksi akan kembali mendapat kekalahan pada Pilpres 2019 nanti. "Prabowo sulit menyaingi Jokowi. Sebaiknya Prabowo jadi Cawapres Jokowi," ujar Ramses.

Bagi Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia, Jokowi sudah memberikan banyak hal di Indonesia. Seperti percepatan pembangunan dan juga anti terhadap korupsi dan pungli. Sehingga walaupun Prabowo mendapat Cawapres yang elektabilitasnya tinggi juga belum dapat bersaing dengan Jokowi. "Prabowo harus benar-benar hitung ulang maju di Pilpres," nilai Ramses.

GERINDRA TARGET SAPU BERSIH PILGUB DI JAWA

Ajang Pilgub serentak 2018 mendatang, menjadi tantangan bagi Partai Gerindra. Pasalnya, misi merebut kemenangan di seluruh Pilgub di Pulau Jawa, sudah menjadi target partai besutan Prabowo Subianto ini. Posisi ini diprediksi akan diperkuat dengan kekuatan Indonesia bagian tengah.

Misalnya Pilgub Jawa Barat (Jabar) tahun 2018. Menghadapi pesta demokrasi di Bumi Sangkuriang itu, rencananya tim pemenangan Anies –Sandiaga saat Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, akan diturunkan ke wilayah tersebut. "Kita kerahkan semua kekuatan yang dari Jakarta kemarin," kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Feffy Juliantono, Rabu (17/5).

Ferry menjelaskan, saat ini Gerindra tengah menyiapkan mesin partai menghadapi Pilgub Jabar. Berbagai langkah bakal digulirkan Gerindra untuk menghadapi pesta demokrasi di Jabar. Baik pelaksanaan Pilgub maupun Pilkada di 16 kabupaten dan kota. Salah satu upayanya yaitu konsolidasi internal partai dari tingkat DPC hingga DPD. "Persiapan itu jauh semakin matang. Karena amanat Pak Prabowo (Ketum Gerindra) bahwa Jabar akan menjadi tempat kemenangan Gerindra," ujar Ferry.

Selain itu, menurut dia, semua elemen partai menyatakan siap bertarung di Pilgub Jabar dan Pilkada 16 kabupaten/kota 2018. "Pengurus, infrastruktur partai seluruh Jabar menyatakan siap berkompetisi di Jabar. Untuk kontestasi gubernur dan Pilkada kabupaten dan kota," ucap Ferry.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPD Partai Gerindra Jabar Bucky Wikagoe menyebut Jabar menjadi provinsi yang penting untuk dimenangkan. Bukan hanya berkaitan Pilgub, tapi untuk Pilpres 2019. "Jabar ini penting sekali untuk kita menangkan," ujar Bucky.

Hal itu pun berlaku di Jawa Tengah (Jateng). Sandiaga Uno, yang baru saja terpilih menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, memberikan semangat kepada kader Partai Gerindra di daerah yang kental dengan jalan simang limanya. Kepada kader Gerindra, Sandi mengatakan, jika ingin Prabowo Subianto jadi Presiden, Pilgub Jateng harus dimenangi.

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon mengatakan, saat ini ada dukungan dari kader dan pengurus dari tingkat DPC sampai DPD agar Prabowo Subianto maju dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019. "Semangatnya dari bawah seluruh Indonesia, kader, pengurus dari DPC, DPD, Pak Prabowo akan maju lagi (capres 2019)," kata Fadli, belum lama.

Melihat aspirasi tersebut, kata Fadli, sudah selayaknya semua sumber daya Gerindra yang ada diarahkan untuk mendukung Prabowo sebagai capres 2019. Sebagai modal Pilpres, Gerindra bertekad memenangi Pilkada di Tanah Jawa, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. "Tentu sekarang kita arahkan dukungan dengan Pak Prabowo. Pilkada kita akan berusaha memenangi Pilkada Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur," tambah Fadli.

Untuk diketahui, dalam pertarungan Pilres lalu, dari total perolehan suara di 33 provinsi dan 130 panitia pemilihan luar negeri (PPLN), total suara yang masuk sebanyak 133.574.277 suara. Perolehan suara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebanyak 62.576.444 suara, sedangkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla memperoleh 70.997.833 suara. Di Jawa Barat Prabowo-Hatta meraih 14.167.381 suara sementara Jokowi-JK 9.530.315 suara. Jawa Tengah Prabowo-Hatta 6.485.720 suara sedangkan Jokowi-JK 12.959.540 suara. Untuk Jawa Timur, Prabowo-Hatta saat itu meraih 10.277.088 sementara Jokowi-JK mendapat 2.026.735 suara.

JOKOWI VS PRABOWO PART II, PERTARUNGAN KERAS

Potensi tarung ulang Jokowi dan Prabowo kain menganga. Buntut kemenangan di Pilkada Jakarta, nama Ketum Gerindra Prabowo Subianto, terus mendapat dukungan untuk maju kembali sebagai Capres. Dukungan terhadap dia dinilai masih besar, meski kalah dari Joko Widodo pada Pilpres 2014 lalu.

"Reaksi politik semacam ini harus kita baca sebagai kesiapan sekelompok orang atau partai yang memang menggadang-gadang sama seperti ketika Bu Mega (Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri) maju kembali," ungkap Dosen Komunikasi Politik Universitas Bengkulu Lely Arrianie, beberapa waktu lalu.

"Nah, kalau ada kemungkinan Pak Prabowo untuk maju kembali, saya pikir itu akan terjadi," prediksi Ketua Program Pascasarjana Komunikasi Universitas Jayabaya Jakarta itu.

Pertarungan antara Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla dan Prabowo-Hatta Rajasa pada Pilpres 2014, cukup keras. Prabowo-Hatta hanya kalah tipis dari Jokowo-Kalla. Sepanjang masa kampanye, berbagai dinamika terjadi, termasuk praktik kampanye hitam.

Jika Prabowo kembali maju pada Pilpres 2019 dan berhadapan dengan Jokowi, pertarungan keras diprediksi akan kembali terjadi. "Kita akan melihat kembali pertarungan yang sama kerasnya dengan yang terjadi 2014," ujar Lely. Namun, menurut dia, kampanye hitam tak akan semassif pada Pilpres 2014.

Jika Jokowi juga mencalonkan diri, lawannya akan cenderung menyerang kinerjanya sebagai petahana. "Kita harus membaca betapa tidak nyamannya pendukung Prabowo yang kemudian menyaksikan bahwa Pak Prabowo tidak menang, tapi Pak Jokowi tidak bisa menghadirkan sebuah pemerintahan yang diharapkan oleh pendukung Prabowo tadi," ujar Lely.

Lely menilai, hingga saat ini belum terlihat sosok yang sekuat Jokowi atau Prabowo untuk maju Pilpres 2019. Ia memprediksi, awal 2018 atau akhir 2017, sosok-sosok itu akan mulai bermunculan. "Figur-figurnya memang sekarang ini belum menyeruak. Kalau dulu kan sejak lama sudah beriklan misal Aburizal Bakrie, Prabowo, PDI-P iklan politiknya justru banyak Megawati bukan Jokowi, Hary Tanoe," kata dia. Arah dukungan partai politik juga belum bisa dibaca. Tahun ini diprediksi angin politik akan segera berembus dan geliatnya mulai terasa.

Pilpres 2019 bakal mengulang pertarungan Prabowo melawan Joko Widodo. "Saya kira memang di antara seluruh calon yang ada tingal dua saja Pak Prabowo dan Pak Jokowi," ungkap Waketum Gerindra Fadli Zon, Selasa (2/5).

Pilkada serentak 2018 pun seolah menjadi pertarungan pra Pilpres 2019. Partai-partai akan menjadikan Pilkada 2018 sebagai modal menuju Pilpres 2019. Wajar, kata Fadli, ketika Gerindra tidak berkoalisi dengan partai yang mendukung Jokowi sebagai Capres 2019. Dia menegaskan bahwa ini tak ada kaitannya dengan kepentingan pribadi, melainkan tujuan untuk memenangkan kandidat yang mereka usung di Pilpres. "Karena kepentingannya ini bukan persoalan pribadi. Kita ini akan mendukung calon (Capres) di 2019. Tentu sekarang kita arahkan dukungan dengan Pak Prabowo. Pilkada, kita akan berusaha memenangkan pilkada Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur," kunci dia.(dtc/tmp/trb/jwp)

 

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado