ALOT. Suasana persidangan dugaan korupsi di DPPKBMD Tomohon, Rabu (14/6) kemarin.(foto.ist)

JPU Sentil Peran Oknum Sekda Tomohon Dalam Dakwaan

Berkas Oknum Pengacara Bergulir

 

Manado, MS

Ketegangan mendera sidang terkait dugaan korupsi pengadaan komputer dan aplikasinya di Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Barang Milik Daerah (DPPKBMD) Tomohon tahun 2013, dengan terdakwa oknum pengacara NKO alias Notje. Tensi ruang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Manado langsung naik, sejak Ketua Majelis Hakim Alfi Usup serta Hakim Anggota Halidja Wally dan Emma Eliani, memulai sidang, Rabu (14/6).

Hawa ‘panas’ bermula dari aksi protes dan kritik yang dilayangkan sejumlah Penasehat Hukum (PH) terdakwa Notje. Salah satu keberatan PH, terkait adanya rangkap tugas dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang juga berperan sebagai tim penyidik kasus tersebut. "Kami minta Majelis Hakim untuk mengganti JPU yang telah hadir di persidangan ini, yang juga sebelumnya ditugaskan untuk sebagai jaksa penyidik," seru Hanafi, sebelum JPU membacakan dakwaan.

Hal serupa disampaikan PH terdakwa lainnya, Cristomi Bonar. Ia bahkan menyatakan siap angkat kaki dari ruang sidang, jika Hakim tidak mengiyakan tuntutan pihak pengacara. "Hakim, JPU, Pengacara adalah lembaga hukum. Kalau Hakim lantas tak mengiyakan permohonan kami. Saya akan keluar dari persidangan, karena ini sudah melanggar aturan Per-UU," sebut Bonar.

Permintaan PH itu akhirnya mendapat respon positif Ketua Majelis Hakim Alfi Usup. Dia mengambil kebijakan dengan memberikan himbauan kepada JPU agar dapat menggantikan JPU yang terlibat dalam penyidikan dengan Jaksa lainnya. Pihak JPU langsung menanggapi dan menjelaskan bahwa tugas Jaksa bukan hanya melakukan penyidikan, tetapi juga melakukan tuntutan. Dan itu merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan.

Pernyataan JPU ini sempat memicu suara kritis dari PH terdakwa, apalagi JPU enggan meninggalkan ruang persidangan. Namun, Usup berhasil menguasai situasi.

Pihak JPU akhirnya membacakan dakwaan. Disebutkan dalam dakwaan, terdakwa Notje yang berprofesi sebagai pengacara, didakwa bersalah menggunakan pasal 21 Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dan ditambahkan dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999. Dia dituding telah menghalang-halangi proses penandatangan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Kejari Tomohon saat memeriksa beberapa saksi dalam perkara DPPKBMD ini.

Menariknya, dalam dakwaan JPU itu, nama mantan Asisten III Pemkot Tomohon yang saat ini menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Tomohon, HVL alias Harold, didengungkan. Dia diduga sebagai otak dari masuknya terdakwa di dalam penjara, setelah memerintahkan terdakwa agar menyuruh para saksi untuk tidak menandatangi BAP. Di dalam dakwaan juga menjelaskan, pada tanggal 18 Agustus 2016, HVL telah meminta kepada saksi Irene Tipipodung lewat SMS dan BBM, untuk memanggil beberapa saksi yaitu Elia Pondaag, Rudi Tuelah, Miriam Paat, Sultje Watupongo, Johanes Untu, Jenli Kawung, Jenly Watuwarow, Rivo Molukow, yang kala itu akan diperiksa sebagai saksi di Kejari Tomohon. Selanjutnya, HVL menunjukkan kepada saksi, dua orang pengacara yang akan mendampangi mereka, yaitu terdakwa dan Nicolas Tumurang. Dari situ, terdakwa menyuruh para saksi untuk tidak menandatangani BAP, hingga akhirnya dieksekusi Kejari Tomohon.

Selesai mendengarkan dakwaan JPU, terdakwa dengan lantang menyebut akan mengajukan eksepsi, pekan depan. "Yang mulia Hakim, setelah diskusi dengan pengacara, saya meminta untuk eksepsi pada pekan depan," tandas terdakwa. Mendengar hal tersebut, Hakim langsung mengiyakan permintaan terdakwa, sembari menutup persidangan dan direncanakan akan dilanjutkan pekan depan.

Dari arena sidang, masing-masing kubu dari pihak pengacara terdakwa dan JPU Kejari Tomohon terpantau menghadirkan skuad terbaiknya. Untuk kubu pengacara terdakwa, diperkirakan hadir sekira 40 pengacara. Sekira 20 pengacara duduk dalam ruang persidangan dan 20 pengacara lainnya duduk di bangku penonton. Diantaranya, pengacara senior Wall Sumeisey, Elisa Manurung, Ricky Wulur, Stevie Da Ca Costa, Seska Pukul dan Hanafi. Sedangkan untuk pihak JPU, yaitu Sugandi Putra Mokoagow, Bani Saskia, Wilke Rabeta, Joice Amelia Ussu, Christomi Bonar, Dery Fuad Rachman serta Bastim Mokodompit.(rhendy umar)

Banner Media Sulut

Komentar