Mona Kloer & Flora Kalalo.


Kapasitas Oknum Satpam Baru Unsrat Dipertanyakan

Manado, MS

Rasa kecewa atas kinerja Satuan Pengamanan (Satpam) atau sekuriti di Kampus Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, memuncak. Minim proses pelatihan dinilai jadi pemicu. Itu membuat arah dan wewenang terlebih bagi Satpam rekrutan baru, dinilai tidak memiliki pola akurat dan tepat.

Terkait hal itu, Wakil Rektor Bidang II, Flora Kalalo tak menampik kurangnya pelatihan bagi sekuriti. Menurut dia, tahapan pelatihan tidak selalu diadakan. “Tapi jika kemudian diberlakukan, harus pula menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia dan kurikulumnya,” ujar Kalalo, ketika dikonfirmasi, Senin (21/8).

Menurut Kalalo, lembaga pendidikan seperti Unsrat bukan seperti ASN yang sudah diketahui seluruh programnya. Itu dikatakan Kalalo merujuk informasi jika oknum sekuriti sering salah menterjemahkan tanggung jawab pengamanan. Contohnya, jika terjadi persoalan di area kampus, semestinya para Satpam langsung melakukan penanganan secara dini. Bukan langsung memanggil pihak kepolisian.  “Itu hal yang lumrah. Apalagi pengamanan malam, dimana permintaan bantuan kepolisian dilakukan untuk menghindari indikasi kriminal lebih jauh seperti pemeriksaan adanya senjata tajam,” terang Kalalo.

Menyikapi persoalan ini, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manado Mona Kloer mengatakan, pelatihan dan pendidikan diterapkan di semua instansi dalam hal pengamanan. Karena, menurut dia, persyaratan administrasi tidak cukup bagi satuan kerja untuk hal tersebut.

Dari segi tugas, ujar alumni Fakultas Hukum Unsrat itu, tugas Satpam jelas berbeda dengan para staf yang tak bersinggungan langsung dengan jaminan keamanan dan keselamatan aset-aset kantor termasuk mahasiswa. Dia memberi masukan, agar titik berat pengamanan harus diberikan lewat pelatihan sehingga memperjelas tugas terutama bagi tenaga Satpam rekrutan baru.

Misalnya kejadian yang sering terjadi di Unsrat terkait dimana lahan parkir. Seringkali terjadi penumpukkan kendaraan, namun hanya dibiarkan begitu saja. Kendati mahasiswa banyak yang mengeluh karena parkir yang tidak ditata membuat mereka harus menunggu lama untuk bisa keluar dari lahan parkir yang begitu padat dan sesak. “Mungkin sikap acuh tak acuh menyikapi persoalan itu dikarenakan kurang pelatihan dan pendidikan, sehingga tanggung jawab dan kesadaran masih kurang terhadap Tupoksi petugas keamanan,” nilai dia.

“Pastinya penting ada pelatihan sehingga aksi di lapangan tambah jelas, jangan ada kejadian baru bergerak. Harusnya diantisipasi dong,” sambung Kloer, memberikan masukan. (devy kumaat)

Komentar