Tiga terdakwa kasus dugaan korupsi RSJ Ratumbuysang jalani sidang dakwaan. (foto: karisma kurama)

Kasus Korupsi RSJ Ratumbuysang Resmi Bergulir di Meja Hijau

Manado, MS

 

Tekad Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara (Sulut), untuk membawa perkara dugaan korupsi korupsi pembangunan gedung Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof Dr VL Ratumbuysang Manado ke meja hijau di awal tahun 2018, terjawab. Itu menyusul kemenangan Kejati, dalam dua gugatan pra peradilan yang dilayangkan dua tersangka, JT alias Jermina dan DL alias David di akhir tahun 2017 lalu.

Kasus indikasi korupsi yang menyeret tiga terdakwa, masing-masing mantan Kepala RSJ Dr VL Ratumbuysang tahun 2015-2016, Jermina Tampemawa, PPTK Vanda Jocom, dan Direktur PT Liando Beton Indonesia, David Liando, resmi disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor) Manado, Rabu (31/1) kemarin.

Sidang dengan agenda pembacaan dakwaan itu dipimpin oleh Majelis Hakim yang diketuai Vincent Banar. Dihadapan majelis hakim, Jaksa Penutut Umum (JPU) mengurai dakwaan yang dilayangkan kepada tiga terdakwa.

Ketiga terdakwa  diduga kuat terlibat dalam kasus dugaan korupsi pembangunan gedung RSJ Ratumbuysang tahap II tahun 2015, yang merugikan uang negara sekitar Rp3,3 miliar dari total anggaran proyek senilai Rp18 miliar.

Dalam dakwaan, JPU menjerat ketiga terdakwa dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor. “Kami menuntut ketiga terdakwa dengan pasal 2 ayat (1), pasal 3 junto pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, junto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor junto pasal 55 ayat (1) Ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana,” papar JPU.

Dari pantauan harian ini, ketiga terdakwa yang hadir dalam persidangan, nampak cukup mencermati dakwaan yang dibacakan JPU. Raut wajah tiga terdakwa terlihat datar. Meski agak terpancar roman muka yang  muram, karena harus duduk di kursi pesakitan.

Usai mendengar dakwaan JPU, majelis hakim menutup persidangan. Proses sidang lanjutan akan diagendakan dalam waktu dekat ini.

Diketahui, merebaknya kasus itu bermula ada laporan dari masyarakat, khususnya dari LSM anti korupsi  ke Kejati Sulut soal kejanggalan dalam pelaksanaan proyek pembangunan RSJ Ratumbuysang berbandrol Rp 18 Miliar itu. Kontrak kerja proyek yang semestinya tuntas di bulan Agustus tahun 2015, kedapatan tak kunjung rampung hingga Januari 2016.

Tim penyidik kejati pun langsung bergerak. Alhasil tim penyidik mendapati temuan dugaan korupsi sekitar Rp3,3 miliar dalam pengerjaan proyek tersebut. Itu diperkuat dengan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal adanya kerugian negara dalam pengerjaan proyek tahun anggaran 2015 itu.

Dan di tahun 2017, Kejati menetapkan tiga tersangka, masing-masing JT, Vanda Jocom, dan DL. Kini ketiganya telah ditetapkan terdakwa, dan tengah menjalani proses persidangan di Pengadilan Tipidkor Manado.

Salah satu terdakwa, David Liando telah melakukan pengembalian kerugian negara sebesar Rp 2,3 miliar lebih Senin (29/1) lalu. Kejati Sulut, Mangihut Sinaga SH MH, mengapresiasi sikap dari Direktur PT Liando Beton Indonesia. Pun begitu, Sinaga menyebut pengembalian kerugian uang negara yang dilakukan David, tidak serta merta akan menghapus  unsur pidana dari proses hukum yang tengah berjalan. Itu hanya akan menjadi bahan pertimbangan bagi jaksa  dalam melakukan tuntutan dan hakim dalam memutuskan perkara. (tr-2)

 


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado