Kebutuhan Cabe Sulut Tak Sebanding Produksi Lokal


Manado, MS

Kenaikan harga cabe di pasaran kian ‘pedas’. Masyarakat ikut diresahkan. Ironisnya, tingkat kebutuhan  bahan pangan ini di Sulawesi Utara (Sulut) sangat tinggi namun produksi lokal di daerah sangat rendah.

Kondisi ini diakui, Kepala Dinas  Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Utara (Sulut) Jenny Karouw. Ia menjelaskan, ketika timnya turun ke lapangan didapati, cabe yang saat ini cenderung naik karena sentra-sentra produksi  ternyata ada penurunan. “Setelah tim kami dari dinas melakukan pengecekkan, ternyata hal ini dikarenakan beberapa bulan lalu  yaitu pada bulan Desember, ada  produksi yang cukup besar. Tapi mulai bulan Januari dan Febuari bahkan mungkin sampai Maret ini akan  berkurang karena pengaruh juga musim,” tukas Karouw.

“Musim penghujan yang panjang ini berpengrauh rupanya pada proses pembuahan untuk tanaman cabe. Karena itu tidak berproduksi maksimal," sambungnya, kepada Media Sulut, Senin (13/3) kemarin.

Menarik, masyarakat Sulut yang dikenal mengonsumsi cabe yang cukup tinggi, ternyata tidak seimbang dengan  hasil produksi lokal. "Sebenarnya kebutuhan perhari yang biasanya setelah kita cek ke pedagang-pedagang di pasar, ternyata kebutuhan cabe setiap hari itu 3 sampai 5 ton perhari, itu untuk di Sulut saja. Sedangkan kalau tomat 8 sampai 10 ton. Tapi yang kami bisa siapkan  dari komoditi lokal ini kurang lebih 50 persen dari kebutuhan masyarakat Sulut," ucapnya.

Karena ternyata torang masih mendatangkan  produk dari luar  Sulut. yaitu dari Gorontalo dan Surabaya, dan beberapa bulan terakhir ini dari Surabaya tidak masuk dikarenakan harga cabe di pulau Jawa cukup tinggi. Jadi untuk saat ini paling banyak Bolmong raya khususnya kabupaten Bolmut untuk komoditi lokal dan dari Gorontalo untuk komoditi dari luar Sulut. Khusus untuk tomat paling banyak masuk dari Sulteng (Sulawesi Tengah). Saya juga heran kenapa dari Sulteng. Karena kalau tidak masuk dari Sulteng pasti harga tomat di Sulut akan lebih mahal dari harga biasa yang ada di pasaran,"sambungnya lagi.

Untuk itu langkah diambil Disperindag Sulut saat ini melakukan pengecekan. Karouw menandaskan, hingga saat ini tidak ditemukan unsur kesengajaan selama kenaikan harga cabe ini. "Yang kita lakukan cuma melihat dan memantau terus  kemudian menjaga distribusinya  jangan sampai ada penumpukan di satu tempat. Tapi kelihatan ini bukan karena masalah distribusi melainkan masalah ketersediannya saja yang memang kurang,"ujar Karouw.

"Cabe dan tomat bukan barang seperti berass yang boleh ditampung atau ditahan di gudang. Dia cuma paling bisa bertahan  satu minggu, setelah itu kalau tidak jual  pasti akan rusak dan tidak ada pengusaha atau pedagang cabe yang mau rugi, biasanya mereka tetap lempar ke pasar,"tuturnya seraya menjelaskan untuk kisaran harga ada penuruanan untuk tomat yang menjadi Rp.12.000 dari Rp.14.300 dan harga cabe rawit merah turun menjadi Rp 87.650 dari Rp.123.000, sedangkan cabe merah keriting Rp.47.450 dari Rp.48.500.(sonny dinar)

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado