KEJUTAN PILKADA MINAHASA

Tondano, MS

Percaturan politik di panggung pemilihan kepala daerah (Pilkada) Minahasa dijabal. Langkah berani mulai ditempuh para elit partai politik (parpol) pengusung, salah satunya Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Secara mengejutkan, Banteng Moncong Putih mendepak Jantje Wowiling Sajow (JWS) dari kursi calon bupati Minahasa. Tiket menuju arena pertarungan Pilkada Minahasa resmi dikantongi pasangan Roy O. Roring (ROR) dan Robby Dondokambey (RD).

Keputusan final Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan itu ditandai dengan penerbitan Surat Keputusan (SK) Persetujuan Calon yang menunjuk ROR sebagai calon bupati dan RD sebagai calon wakil bupati. 'Surat sakti' tertanggal 6 Januari 2018 itu ditandatangani oleh Ketua Umum Megawati Soekarno Putri dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Hasto Krisyanto.

"Keputusan PDI Perjuangan mengusung ROR dan RD benar 100 persen. Tidak ada lagi perubahan," kata petinggi PDI Perjuangan Sulawesi Utara (Sulut) Steven Octavianus Kandow, melalui pesan Whatsapp yang di terima Media Sulut, Minggu kemarin.

Sayang, Kandouw masih enggan membeber alasan partainya memilih ROR dan RD untuk Pilkada Minahasa dan tak mengusung JWS yang notabene adalah Ketua DPC sekaligus pertahana.

 

Kader PDI-P Minahasa Melawan 

Konstelasi politik di Tanah Toar Lumimuut berputar 160 derajat. Keputusan itu tak hanya memupus hasrat JWS  untuk melangkah ke arena Pilkada Minahasa, namun memicu kekecewaan dari massa pendukungnya yang didominasi kader dan simpatisan PDI Perjuangan.

Fenomena tak diakomodirnya JWS sebagai calon bupati di Pilkada Minahasa memicu dinamika politik di internal Banteng Minahasa. Badai merah yang membungkus Tanah Toar Lumimuut sekejap mereda.

Aksi perlawanan terhadap hasil keputusan pencalonan yang diterbitkan DPP diperagakan.

Sejak kabar itu berhembus Jumat (5/1), nampak di sejumlah lokasi bendera-bendera berlogo PDI Perjuangan diturunkan serentak. Ada yang bahkan tak segan memasang bendera setengah tiang sebagai ekspresi kekecewaan atas keputusan petinggi PDI Perjuangan yang tidak mencalonkan JWS.

"Ini sejarah kelam buat PDI Perjuangan di Minahasa yang ternyata tak menginginkan kemenangan di Pilkada dan dengan arogan mendepak petahana sekaligus ketua partai yang punya elektabilitas tinggi dan telah banyak berjasa mengharumkan nama partai," sembur salah satu kader PDI Perjuangan Minahasa yang meminta namanya tak dipublikasikan.

"JWS bukan sekedar kader tapi suksesor kemenangan PDI Perjuangan di Pileg dan Pilpres 2014 serta Pilgub Sulut 2015. Partai dalam hal ini tak tau membalas budi dan hanya mementingkan kepentingan segelintir oknum," cetusnya.

Sosok Olly Dondokambey (OD) selaku salah satu petinggi PDI Perjuangan ikut dicecar. Bendahara Umum DPP PDI Perjuangan itu santer disebut sebagai biang dibalik terdepaknya JWS dari kursi calon bupati.

"Sebagai bagian dari keluarga PDI Perjuangan kami malu, bagaimana jika partai kalah di Pilkada nanti hanya karena hasrat ingin membangun dinasty politik yang mirisnya telah mengesampingkan kepentingan partai dan masyarakat umum," tegas salah satu kader PDI Perjuangan Minahasa yang memang dikenal dekat dengan JWS itu.

Ekspresi kekecewaan juga marak dituangkan para pendukung JWS melalui akun media sosial. Keputusan memilih pasangan ROR - RD disebut sebagai langkah awal kekalahan PDI Perjuangan di Pilkada Minahasa 2018 ini.

 

 

"OD Tak Terlibat"

Polemik yang mendera internal PDI Perjuangan pasca didepaknya JWS dari kursi calon bupati Minahasa, ditanggapi para elit 'Moncong Putih' Sulut. Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Dewan Pengurus Daerah (DPD) PDI Perjuangan, Lucky Aldrin Senduk, menampik segala tudingan yang diarahkan kepada OD.

Kata dia, meski kapasitasnya selaku Bendahara Umum DPP, namun OD tidak ikut dalam pengambilan keputusan pada rapat pleno di tingkat DPP. Senduk menuturkan, OD saat itu terlambat hadir dalam rapat pembahasan penetapan calon yang berlangsung di Sekretariat DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Jumat (5/1) lalu.

"Pak Olly berangkat ke Jakarta Jumat siang, sedangkan di saat yang bersamaan rapat penetapan calon di DPP sudah dimulai. Jadi jangan salahkan ketua DPD karena pak Olly tidak terlibat. Keputusan itu sudah mengikuti mekanisme resmi yang jadi ranahnya DPP serta sudah melalui pertimbangan yang jelas," tutur Senduk, Minggu (7/1).

Diapun meminta semua kader dan simpatisan untuk menghormati keputusan DPP terkait penetapan calon tersebut. "Untuk penetapan calon sudah melalui pertimbangan yang matang serta kajian dari DPP. Jadi meskipun itu tidak sesuai keinginan individu atau sebagaian kelompok, tapi sebagai petugas partai yang loyal dan punya komitmen dengan partai harus menjalankan keputusan itu, termasuk di Minahasa," lugas Senduk.

 

Alasan JWS 'Didepak'

Terjungkalnya petahana dari kursi panas calon bupati PDI Perjuangan di Pilkada Minahasa memicu rasa penasaran banyak pihak. Alasan pihak DPP membuat keputusan yang oleh sebagian kalangan dinilai kontroversial itu terus diburu.

Menariknya, Senduk sedikit memberikan gambaran sikap yang jadi alasan pihak DPP memutuskan tak mencalonkan JWS sebagai calon Bupati. Senduk membeber pernyataan Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Krisyanto, yang disampaikan usai rapat pembahasan penetapan calon, Jumat pekan lalu.

"Jadi usai rapat pak Sekjen sempat menegaskan bahwa partai mencari pemimpin untuk rakyat yang kokoh pada keyakinan dan kepribadiannya sebagai pemimpin yang melayani. Karena itulah kriteria kepemimpinan, kepribadian, kemampuan menyelesaikan masalah dan daya juang menjadi tolok ukur utama," papar Senduk mengutip penegasan Hasto.

Menurut dia, saat itu Sekjen Hasto juga menyatakan bahwa survey memang penting sebagai pemetaan awal. Namun elektabilitas bukan segala-galanya bagi PDI Perjuangan.

"Yang terpenting adalah watak kepemimpinan dan kepribadian untuk menyatu bersama rakyat. Karena itulah mengapa assestment psikotest dan sekolah partai kami jalankan dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten kota saling bersinergi, berjalan berirama, dan Partai memiliki konsepsi pembangunan semesta dan berencana,” ujar Hasto seperti dikutip Senduk.

"Jadi pada intinya keputusan dan penetapan calon kepala daerah melalui rapat pleno DPP PDI Perjuangan bukan kewenangan DPD Partai ataupun seseorang di DPD Partai," beber Senduk.

 

Sebagaian Kader Legowo

Fenomena tak diusungnya JWS sebagai calon bupati oleh PDI Perjuangan memang sempat membuat mayoritas kader di Minahasa kecewa. Hanya saja ada sebagian kader yang tetap menujukkan sikap loyalitasnya.

Dicky Masengi, salah satu pengurus DPC PDI Perjuangan Minahasa menegaskan jika dirinya siap tunduk dan menjalankan setiap keputusan yang ditetapkan DPP.

“Itu sudah keputusan final dan selaku kader tentunya siap menjalankan,” kata Legislator DPRD Minahasa dari fraksi PDI Perjuangan itu.

Jika ada riak-riak yang terjadi pasca keputusan itu, dia menilai itu hal yang biasa terjadi. Karena diyakininya kedepan akan meredah dan para kader akan menyatu.

“Kalau sekarang kan masih panas jadi riak-riak itu biasa, asih toh semua akan menyatu,” tukasnya.

Dirinya mencontohkan tahun 2012 lalu ketika JWS diusung PDI-P untuk bertarung di Pilkada, banyak mendapat penolakan karena bukan kader partai. "Namun setelah menghadapi pertarungan para kader mendukung penuh dan berhasil meraih kemenangan. Padahal sebelumnya penolakan atas keputusan tersebut sangat kuat terjadi di Minahasa waktu itu," sebut Masengi.

 

JWS Dekati Gerindra

Pasca didepak DPP PDI Perjuangan dari kursi calon bupati Minahasa, JWS dikabarkan mencoba melakukan manuver politik mendekati parpol lain seperti Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

"Iya, beliau (JWS) sudah menghubungi saya, tapi saya jelaskan bahwa untuk pencalonan sekarang sudah ranahnya pimpinan pusat. Kalau kami di DPC sekarang tinggal menunggu dan menindaklanjuti keputusan dari pusat," aku Ketua DPC Partai Gerindra Minahasa, Man Tojo Rambitan.

Gerindra sendiri sebelumnya santer dikabarkan bakal mengusung James Arthur Kojongian (JAK) dan Denny Kalangi (DK) sebagai pasangan calon di Pilkada Minahasa berkolaborasi dengan Partai Demokrat. Namun berhembus kabar jika JWS saat ini ikut melakukan manuver politik untuk merebut kursi papan satu.

Rambitan mengatakan, segala hal bisa saja terjadi dalam politik. Tapi dia tak menampik jika pihaknya sejak awal memang telah berkomitmen dengan JAK untuk diusung sebagai calon Bupati.

"Tapi kondisi saat ini bukan ranahnya pengurus kabupaten yang menentukan. Semua keputusan kini berada di tangan pimpinan pusat, sebagai pengurus di tingkat cabang tentu kami menunggu saja dan menindaklanjuti seperti apa keputusan partai," tandas Rambitan.

Tak hanya Partai Gerindra, JWS dikabarkan ikut mendekat di Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Namun hingga berita ini diturunkan belum ada informasi soal keputusan dua parpol tersebut terkait paslon yang akan diusung.

 

Hengkang Dari PDI Perjuangan ? 

Ikut beredar kabar, pasca didepak dari kursi pencalonan, JWS juga berencana mengundurkan diri sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Minahasa.

Kabar ini merebak pasca terbitnya tulisan di salah satu akun media sosial facebook yang diduga merupakan akun pribadi JWS.

"Terima Kasih OD, Selamat Buat ROR RD. Senin JWS Ajukan Pengunduran Diri Ketua DPC Minahasa". Demikian postingan yang ditulis akun facebook bernama Mener Sajow pada Jumat (5/1) pagi.

Menanggapi soal kabar tersebut, Senduk mangatakan jika masalah itu adalah hak pribadi seseorang. "Kalau dia (JWS) kader sejati harus memiliki kesadaran revolusioner. Kalau tidak maka patut dipertanyakan militansinya sebagai kader. Makanya kader harus memahami aturan partai. Kalau pun tidak jadi di Minahasa kan mungkin bisa jadi di kabaputen kota lain," ujar dia.

 

ROR - RD Diminta Merakyat

Setelah mengantongi tiket dari PDI Perjuangan sebagai pasangan calon di Pilkada Minahasa, ROR dan RD kini jadi harapan partai besutan Megawati Soekarno Putri untuk melanjutkan kepemimpinan birokrasi di Minahasa.

"Kita berharap ketika terpilih nanti mereka (ROR - RD) bisa membaur dengan rakyat. Utamanya membangun kesejahteraan rakyat. Kemudian kalau membangun jangan pilih-pilih tapi harus merata, jangan plin-plan dalam menjalankan tugas," kata Senduk.

"Kami punya target merebut kemenangan di enam kabupaten dan kota. Semua calon yang kami usung ini punya potensi untuk menang," tutup Senduk.

Terpisah, ROR saat dimintakan tanggapan oleh Media Sulut mengaku bersyukur telah dipercayakan sebagai calon bupati di Pilkada Minahasa.

"Puji Tuhan sudah diusung. Dengan diusung (PDI Perjuangan, red), Tuhan pasti berusaha memenangkan," ucap ROR melalui pesan Whatsapp, usai menerima SK dari DPP PDI Perjuangan yang ditandatangani langsung oleh Ketum Megawati Soekarno Putri dan Sekjen Hasto Kriayanto. (jackson kewas)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.