Muhamad Hendrasto dan rombongan dari Kementerian ESDM didampingi AGC Country Representative, Hoetomo, saat melihat dari dekat site project PERS di Tatelu.

Kementerian ESDM Berharap Jadi Pilot Project di Indonesia

  • Kunjungi Fasilitas Bebas Merkuri dan Sianida PERS di Tatelu

Airmadidi, MS
Fasilitas bebas merkuri dan sianida Program Emas Rakyat Sejahtera (PERS) di Tatelu, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara diharapkan bisa jadi pilot project di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan Direktur Teknik dan Lingkungan, Mineral dan Batubara, Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhamad Hendrasto, saat mengunjungi lokasi tersebut, Kamis (12/4).

Menurutnya, fasilitas itu merupakan buah kelanjutan dari Konvensi Minamata yang tujuannya ramah lingkungan.  “Kita kan sudah ada undang-undang pelarangan merkuri. Sianida juga. Tapi kalau kita melarang sesuatu kan harus ada solusinya. Ini (fasilitas tersebut, red) salah satu bagian dari solusi itu. Yang mudah-mudahan bisa jadi pilot project bagi yang lain,” ungkap Hendrasto.

“Karena terus terang masih banyak merkuri yang dipakai masyarakat. Masyarakat juga tidak bisa dilarang begitu saja, harus ada solusi. Nah ini salah satu solusinya. Semoga bisa berjalan dengan baik,” sambungnya.

Ia berharap, program ini nantinya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat yang ada di Tatelu maupun di Tobongon (lokasi pembangunan fasilitas lainnya di Sulut, red).

“Undang-undang pelarangan merkuri kan sudah dibuat Peraturan Presiden-nya juga. Berharap Koperasi Batu Emas di Tatelu bisa juga menghimpun semua masyarakat untuk memanfaatkan teknologi ini. Kemudian lingkungan bisa diperhatikan dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat. Itu intinya,” tandas Hendrasto.

Ia juga menjelaskan, program yang diimplementasikan Artisanal Gold Council (AGC) ini telah dimulai dari tahun 2014 dan itu selalu berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian ESDM. Ia pun mengapresiasi program tersebut.
“Yang penting juga izinya, keamanannya, lingkungannya juga jelas dan mereka memberikan bantuan yang tentu bisa ada mafaatnya. Itu yang kami lihat memasuki tahun keempat memang on progress,” kuncinya.

Kedatangan Hendrasto dan rombongan dari Kementerian ESDM dan Dinas ESDM Provinsi Sulut di site project PERS, disambut langsung AGC Country Representative, Hoetomo. Di hadapan rombongan, Hoetomo memaparkan soal program AGC. Didampingi Yolanda Hantari, ia juga menjelaskan soal mekanisme pengoperasian peralatan di site project PERS itu.

Di lokasi tersebut Hendrasto ikut disambut Hukum Tua Desa Tatelu John Lausan, Ketua Koperasi Batu Emas Henry Walukow dan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulut Lefrando Gosal.

Diketahui, PERS merupakan program peningkatan pembangunan sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas mata pencaharian, lingkungan, dan kesehatan bagi komunitas PESK di wilayah program di Indonesia. Program ini didanai oleh Global Affairs Canada (GAC) bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dan diimplementasikan oleh Artisanal Gold Council (AGC). Di Sulut, dalam menjalankan program ini AGC dibantu mitra lokal mereka, AMAN Wilayah Sulut. (risky adrian)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.