KINERJA TIM SABER PUNGLI UNIMA DISOROT

Mahasiswa Tuntut Dibubarkan

 

Tondano, MS

Badai kritik menghantam Tim Sapu Bersih (Saber) Pungutan Liar (Pungli) Universitas Negeri Manado (Unima). Kinerja dalam mengawal potensi praktik pungli dinilai tak maksimal. Mahasiswa menuntut agar Tim Saber dibubarkan.

Tuntutan tersebut didengungkan karena Tim Saber Pungli Unima diduga hanya tutup mata dengan realita yang terjadi di kampus yang bertahta diatas Pegunungan Tampusu tersebut. Mereka menilai hampir tidak ada gerakan konkrit yang diambil terkait masih adanya oknum-oknum tidak bertanggungjawab yang melakukan praktek Pungli.

“Sebaiknya Tim Saber Pungli Unima dibubarkan. Mereka tidak bekerja. Hanya tutup mata kendati praktek Pungli sudah didepan batang hidung mereka,” ujar Septian, salah satu mahasiswa Unima.

Senada diungkapkan Yos, mahasiswa lainnya. Menurut dia, Tim Saber Pungli Unima hanya formalitas saja untuk menindaklanjuti arahan dari pusat terkait membentuk tim tersebut. Bahkan dikatakanya, yang sementara hangat diperbincangkan mahasiswa saat ini adalah terkait acara pelepasan calon wisudawan dan wisudawati di tiap fakultas. Dimana mahasiswa dimintai uang senilai ratusan ribu rupiah.

“Coba teman-teman tanya kepada mahasiswa yang rencananya akan diwisuda pada tanggal 15 besok lusa. Mereka dimintai uang untuk acara pelepasan. Ini kan termasuk Pungli. Masa Tim Saber Pungli Unima tidak berbuat apa-apa. Kalau situasinya seperti ini, sebaiknya dibubarkan saja,” cetusnya.

Salah satu mahasiswa Fekon Unima yang sempat berbincang dengan wartawan mengatakan kalau mereka disuruh kumpul uang Rp200 ribu untuk pelepasan di Fakultas. Belum lagi untuk menyewa atribut untuk wisuda seperti Gordon, matros, dan logo Unima.

“Untuk pelepasan kami diminta kumpul uang Rp200 ribu. Untuk sewa atribut, Rp500 ribu. Jadi total kami mengeluarkan uang Rp500 ribu dan tidak dilengkapi slip pembayaran,” ujar salah satu mahasiswa yang identitasnya tidak ingin dipublikasikan.

Disisi lain, salah seorang yang mengaku mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unima mengaku kalau mereka juga dimintai uang Rp500 ribu. “Di momen-momen akhir kami berada di kampus-pun masih dibuat seperti ini. Sebenarnya mau melawan, tapi takutnya proses penyelesaian studi kami dipersulit. Yang paling fatal kalau kami berkoar tentang ini, ijazah kami akan mereka tahan,” keluh wanita berkacamata tersebut dengan nada kesal.

Saat coba dikonfirmasi, Ketua Tim Saber Pungli Unima Marthinus Mintjelungan tidak mau berkomentar lebih. “Maaf, Saya lagi sibuk mengurus wisuda. Nanti konfirmasinya lain kali saja,” singkat Mintjelungan. (jackson kewas)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado