Kisah Rumah Pohon Urongo, Bantah Stigmatisasi Pemuda Tondano

Laporan: Arfin Tompodung

Daya Tarik Situs Wisata Tree House

 

Manado, MS

 

Tabir kisah pembuatan  rumah pohon,  Kelurahan Urongo, terbuka. Situs  wisata yang sudah dikenal tersebut ternyata digarap para teruna pecinta lingkungan. Stigmatisasi terhadap pemuda Tondano yang belakangan dikenal berperawakan kurang baik, seolah dimentahkan generasi di ujung selatan Kota Air itu. 

Sang surya  mulai terbenam di ufuk Barat. Para pengunjung  perlahan dihentar mendaki bukit kecil di Kelurahan Urongo, Kecamtan Tondano Selatan. Lokasi dimana objek wisata Tree House (Rumah Pohon) berada. Tempat  yang kini semakin digemari masyarakat Sulawesi Utara (Sulut).

Sebuah pondok dengan ragam makanan tradisional menyambut di awal perjalanan. Di seberangnya nampak toilet unik. Berhias curahan rasa artistik si pelukis.

‘Tondano Lake’,  tulisan yang terukir pada papan kayu ketika mulai menaiki gundukan tanah tinggi itu. Di bawahnya terpatri  juga kalimat ‘not just tree house’. Sebuah penanda semangat bahwa kreatifitas tidak hanya untuk rumah pohon saja. Sementara kotak kecil bertuliskan ‘partisipasi’ berada di dekatnya.

Setapak demi setapak anak tangga bukit tersebut dijejaki. Seiring melewati pepohonan hijau di pinggiran yang menaungi perjalanan  sejuk itu. Di atas ‘gunung mungil’ ini, berhadapan langsung dengan matahari terbit. Pesona Danau Tondano terlihat jelas. Sayang, eceng gondok masih bertaburan meneror eksistensinya.    

Tree house berada di pucuk bukit tersebut. Dua pohon yang bersebelahan telah dirancang sungguh layaknya rumah. Di situ seseorang dapat duduk dan bersantai menikmati pemandangan. Namun, rata-rata para pengunjung yang datang, hanya untuk merasakan nuansa ekstrim di atas pohon itu seraya mengambil foto. 

Siapa sangka ide awal jadinya objek wisata rumah pohon, merupakan swadaya dari para pemuda yang ada di kelurahan tersebut. Mereka tergabung dalam komunitas Generasi Muda Pecinta Alam (Gempa) Urongo. Sangat berbeda dengan stigma yang dibangun masyarakat selama ini tentang pemuda Tondano yang tersebar bermental ‘preman’.  “Tempat ini dibuat bulan September tahun  2015 lalu. Awalnya hanya untuk kepedulian terhadap lingkungan. Secara khusus di seputaran danau Tondano karena sekarang dilihat sudah terancam oleh eceng gondok,” tutur Rainer Pieter  pemilik lokasi yang  juga penggagas awal pembuatan rumah pohon.

Selain faktor eceng gondok, penebangan  pohon di sekitar dinilai jadi pemicu pendangkalan.  Airnya semakin hari terus menurun. “Penebangan pohon  di sekitar danau membuatnya (danau) menjadi rusak. Pendangkalan terus terjadi. Karena memang setiap hari penebangan di seputaran itu tinggi,” ucap Rainer. 

Dengan membuka lokasi rumah pohon, Rainer dan kawan-kawan berharap dapat mengkampanyekan  tentang  pelestarian lingkungan hidup. Supaya masyarakat lebih banyak menanam pohon dan menata daripada merusaknya. “Awalnya ide (rumah pohon) dari pribadi. Kemudian bersama-sama dengan teman-teman dari komunitas Gempa. Tujuannya untuk memicu juga generasi muda yang ada di Minahasa supaya tetap berkreatifitas,” jelas putra Urongo ini.

Lahan berdirinya rumah pohon itu adalah warisan dari kakek (opa) Rainer. Tanah tersebut diberikan kepercayaan kepada cucunya ini supaya diolah. Kemudian dibuatlah menjadi pariwisata berbasis lingkungan hidup. “Awalnya dibuat base camp dari kelompok Gempa. Tapi lama kelamaan sudah banyak berdatangan. Sebenarnya cuma iseng-iseng. Tapi ada respon  positif juga masyarakat dan pemerintah. Pemerintah Minahasa katakan, pemuda yang bergerak di bidang pariwisata secara swadaya itu Gempa Urongo,” tukasnya, akhir pekan lalu.

Semakin banyaknya pewisata yang datang karena mereka memperkenalkannya di media sosial. Paling padat pengunjung saat  weekend atau akhir pekan. “Kami mengupload-nya lewat instagram, facebook dan BBM (Blackberrymassenger). Akhir pekan seperti ini sekitar 500 sampai 1000 dari pagi sampai malam,” urainya.

Sepanjang dibukanya lokasi tersebut Rainer bersama komunitas Gempa menggagas sejumlah kegiatan. Di antarnaya yang sudah lewat seperti iven penyelamatan danau Tondano. “Ini dilaksanakan bersama dengan teman-teman Tondano dan Minahasa. Pusatnya di sini (lokasi rumah pohon Urongo). Kalau penanaman bibit pohon di sini. Kemudian mengangkat eceng gondok. Setelah itu angkat-angkat sampah plastic di sekitarnya. Ini supaya masyarakat peduli terhadap danau Tondano,” terangnya.

“Kalimat not just tree house berarti ‘tidak hanya rumah pohon saja’. Ini ingin menjelaskan kreatifitas kita Gempa tidak hanya rumah pohon itu. Tapi masih banyak lagi yang lain,” sambungnya.

Tantangan yang dihadapi Rainer Cs untuk mewujudkan ide brilian itu tidaklah mudah. Paling banyak datang dari dalam diri sendiri. “Terpikir ada rasa tidak percaya diri untuk membuat tempat seperti ini. Tapi dengan semangat bantuan teman-teman dari Gempa. Kita kemudian mengatakan buat saja siapa tahu bisa berkembang,” sebutnya.

Pendanaan pertama  memakai sistem Mapalus  atau saling bantu. Belanja awalnya cuma beli tali. Kalau bahan-bahan lainnya bantuan bersama dengan anak-anak muda yang berada di kampung Urongo. Sementara pendanaan selanjutnya berharap dari kotak partisipasi. “Pendanaan ini hanya berharap dari partisipasi pengunjung. Yang masuk tidak ada pembayaran hanya difasilitasi dengan partisipasi. Beri atau tidak beri, tidak masalah. Dari teman-teman juga ada yang memberi. Tapi semua pimbiayaan hanya dari kotak,” lugasnya.   

Ke depan masih banyak ide yang bakal digarap komunitas muda ini. Menurut Rainer, dibandingkan rencana awal pembuatannya yang sekarang barulah 30 persen. Belum sesuai dengan konsep pertama. “Mungkin ke depan ada flying fox kalau bisa yang advanture. Kemudian rencananya itu ada perahu di atas pohon. Homestay. Buat orang luar yang ingin stay atau menetap,” paparnya.

“Target untuk menyelesaikan itu barangkali bulan depan. Barangkali mulai dari spot-spot yang ada. Soalnya pendanaan belum ada,” kuncinya. (*)

Banner Media Sulut

Komentar