Adriana Dondokambey

Komisi III ‘Kuliti’ PT Angkasa Pura

Sederet masalah di Bandar Udara (Bandara) International Sam Ratulangi Manado, menyeret PT Angkasa Pura ke meja hearing gedung cengkih. Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut) menyorot kualitas keamanan di Bandara. 

 

Dalam suasana rapat dengar pendapat, Selasa (14/3), di ruang rapat 1 kantor dewan Sulut, personil komisi, Dicky Makagansa menanyakan terkait peristiwa tertukarnya koper penumpang maskapai penerbangan SilkAir beberapa waktu lalu.  “Kita hanya ingin memperjelas saja supaya mengurangi potensi-potensi kesalahan dalam Bandara. Kalau itu kesalahan Maskapai bukan Bandara, proses pertukaran itu terjadi dimana. Apakah saat di Bandara akan masuk x-ray atau bagaimana?  Kan ada  rekaman CCTV (Closed Circuit Television) bisa dicek di situ,” tanya politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu.

Dewan provinsi juga meminta klarifikasi status tanah di Bandara Sam Ratulangi yang akhir-akhir ini dipersoalkan karena ada gugatan.  Selain itu, proses ganti rugi terhadap perluasan areal Bandara, diminta supaya diselesaikan sehingga tak berdampak polemik.  “Kami meminta agar supaya pihak Angkasa Pura menuntaskan ganti rugi terhadap penambahan luas areal Bandara,” ucap Ketua Komisi III DPRD Sulut, Adriana Dondokambey.

 

Menanggapi pertanyaan itu, General Manager Angkasa Pura I, Nugroho Jati memastikan, barang atau koper itu sudah berangkat dari Manado. “Hanya saat dia harus transit di Sangapore, dilakukan pergantian persawat. Kemudian peng-handle-an bagasi terjadi di sana, jadi saat itulah tertukar,” jelas dia.

“Prosesnya kan pertama melalui pemeriksaan bagasi. Konsentrasinya itu di bagasi. Setelah itu melalui proses check in. Ketika barang diserahkan ke Maskapai penerbangan maka itu tanggung jawab operator angkatan udara,” sambungnya.

 

Ia menjelaskan, atas kasus tersebut pihaknya sudah rapat koordinasi dengan seluruh Maskapai supaya tidak terulang lagi. “Untuk Maskapai kami sudah menyiapkan loss handphone. Jadi ketika ada barang hilang bisa dilaporkan. Selama dia sudah dilabel pasti ketemu. Saya pastikan pertukaran ini tidak terjadi di Manado,” tutupnya.

Khusus untuk masalah kepemilikan tanah, pihak Angkasa Pura menegaskan, pihaknya memiliki surat-surat tanah. “Kami mempunyai sertifikatnya,” kuncinya.

Diketahui, khusus untuk kasus tertukarnya koper, belum lama ini, dialami seorang asal Langowan yang bekerja di Jepang. Saat itu, ia berangkat dari Manado untuk kembali ke Jepang. (arfin tompodung)

Banner Media Sulut

Komentar