Dua pengacara MMS saat berada di Mapolda Sulut.

KPK ‘Kuliti’ 4 Pengacara MMS


Manado, MS

 

Episode kasus suap Aditya Anugerah Moha (AAM), melebar. Setelah memeriksa Ibunda AAM, Marlina Moha Siahaan (MMS), Selasa (17/10), lembaga anti rasuah besutan Agus Rahardjo, kembali beraksi. Kali ini, Tim Kuasa Hukum MMS, yaitu Hakson Ante, Ferry, Herman dan Chandra Paputungan diperiksa, Kamis (19/10).

 

Teranyar, pemeriksaan ini untuk mencari informasi soal penghubung pembicaraan antara mantan Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Sudiwardono dan AAM. Proses pemeriksaan dimulai pukul 11.00 WITA hingga sekira pukul 17.00 WITA. Pengacara MMS diperiksa di ruangan Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Subdit 1 serta ruangan rapat Reskrimsus.

 

Sekitar 7 jam dimintai keterangan, keempatnya keluar dari ruangan pemeriksaan. Mereka pun terlihat santai dan tidak tegang ketika berbincang dengan awak media. Salah satu pengacara Herman saat dihampiri wartawan menjelaskan, pemeriksaan tersebut hanya sebatas sebagai saksi. "Kita kan sebagai saksi saja, diperiksa dalam perkara ini. Pastilah untuk melengkapi berkas perkara yang ada," singkatnya.

 

Sementara itu, sumber resmi penyidik mengungkapkan, selama KPK melakukan pemeriksaan, jarang sekali melakukan penekanan kepada saksi. Malahan, KPK sering membuat suasana santai dan tenang.  "Paling kalau sudah 7 jam sudah betah saksinya. Tapi saya dengar mereka santai," tandas sumber.

 

Wartawan Media Sulut pun sempat mengantar rokok milik Herman dalam ruangan. Penyidik pun dengan ramah mempersilahkan masuk. "Silahkan kalau rokok itu bisa," jawab penyidik dengan ramah.

 

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Sulut, Kombes Polisi Ibrahim Tompo saat dikonfirmasi membenarkan, jika KPK masih meminjam ruangan di Polda Sulut untuk melakukan pemeriksaan. "Ya, KPK sampai hari ini masih melakukan pemeriksaan di ruangan Krimsus. Kewenangannya tetap masih ada pada mereka. Kami hanya siapkan tempat saja," tandas Tompo.

 

Untuk diketahui, dalam kasus ini AAM ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menyuap Ketua PT Manado, Sudiwardono. Suap tersebut diduga untuk mempengaruhi putusan perkara yang menjerat MMS yang sebelumnya sudah divonis 5 tahun penjara di Pengadilan Negeri (PN) Manado. Atas vonis itu, MMS mengajukan banding ke PT Manado. Dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT), KPK menduga uang suap yang diberikan AAM sebesar 64.000 dolar Singapura.

 

AAM sendiri telah mengakui menyuap Ketua PT Manado Sudiwardono terkait perkara ibunya, MMS. Duit itu diakui berasal dari kantongnya sendiri. "Ya, uang saya," kata Aditya setelah menjalani pemeriksaan di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (12/10) lalu.

 

Politikus Golkar ini juga mengaku menyesal atas perbuatannya. Namun dia tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan nama ibunya yang sudah divonis 5 tahun oleh PN Manado. "Secara pribadi tentu saya harus menyatakan menyesal ini harus terjadi. Tetapi untuk memperjuangkan nama seorang ibu, saya pikir (ketika) Mas juga dalam posisi saya,  kita akan bersepakat bersama untuk melakukan yang terbaik. Dimana lagi tempat untuk berbakti kalau tidak dari seorang ibu. Kita melakukan berupaya menolong seorang ibu," tuturnya.

 

Dia juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Sulawesi Utara (Sulut). Jika ada kemungkinan hukuman ibunya diperberat, AAM meminta agar diberi jalan terbaik. "Ya, kita doakan. Saya memohon doa dan insan kawan-kawan pers (ini) bisa selesai sebaik-baiknya. Ini bisa memiliki hikmah yang besar. Dalam kasus ini semua (konsekuensi) harus dihadapi," pungkasnya.(rhendi umar)

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado