Foto bersama usai kegiatan peatihan


KPZS Beri Ruang Menulis Anggota Pemudanya

Gelar Workshop Bersama Mapatik

 

Manado, MS

Gerak aktif nampak dari laku sejumlah pemuda peserta workshop menulis sastra dan jurnalistik yang digelar Komisi Pemuda GMIM Zaitun Sumalangka (KPZS). Para teruna di ujung Utara Kota Tondano itu, dilatih teknik membuat cerita pendek (cerpen) dan feature jurnalistik.     

Pelatihan yang bekerjasama dengan Komunitas Penulis Muda Minahasa ‘Mapatik’ ini, dilaksanakan di rumah keluarga Tompodung-Loing, Kelurahan Sumalangka, Sabtu (17/6). Dalam kegiatan tersebut peserta langsung praktik membuat sebuah tulisan.

Salah satu pemateri, Kalfein Wuisan mengatakan, kerja menulis penting sebagai cara untuk melawan lupa.  Ketika sebuah momen ditulis maka orang-orang di masa selanjutnya bisa  membacanya.  “Misalnya di Tondano ada pelatihan menulis, kemudian dibukukan atau dipublikasikan lewat digital. Selama media atau catatan itu masih ada, orang-orang ribuan tahun ke depan akan membacanya. Ternyata di tanggal seperti ini pernah ada latihan menulis. Kita mendokmentasikan sesuatu lewat tulisan untuk membuat kita tidak lupa,” kata salah satu penggerak komunitas Mapatik itu.

“Teman-teman yang menulis sejarah kampung atau identitas, itu adalah kerja melawan lupa. Seandainya Sam Ratulangi tidak menulis maka kita di masa sekarang akan lupa,” sambungnya.

Kalfein pun menegaskan, setiap orang yang berkarya, baiklah memandang tindakannya itu sebagai cara untuk berekspresi. “Entah menulis atau membuat film, perlu dipandang sebagai ekspresi. Kita memang konsisten dengan pekerjaan. Misalnya sebagai pegawai, wartawan, pendeta atau dosen, itu pekerjaan kita namun untuk bakat-bakat kita seperti membuat puisi, film, main teater itu adalah ruang berekspresi. Kalau menulis sebagai ruang ekspresi maka kita tidak terbatas,” tambah pemateri cerpen ini.

Director Komunitas Penulis Muda ‘Mapatik’, Rikson Karundeng mengapresiasi komisi PZS yang mengambil inisiatif untuk menggelar pelatihan menulis. Kegiatan ini dinilai sebagai salah satu bentuk pemberdayaan kepada jemaat. “Jarang ada komisi pemuda yang mendorong anggotanya supaya menggelar kegiatan menulis,” kata Karundeng.

Menurutnya, setiap orang bisa bekerja apa saja namun sedikit yang bisa menulis di dalamnya. Sekarang ini, ada banyak pekerjaan yang syaratnya harus punya keterampilan menulis. “Saya berharap pelatihan menulis ini, bisa membantu mereka yang nantinya akan masuk di suatu pekerjaan namun syaratnya harus memiliki kecakapan menulis,” tambah Karundeng yang juga membawakan materi tentang menulis feature jurnalistik.

Dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut, turut mengalir dari Penatua Pemuda GMIM Zaitun Sumalangka, Andre Kalesaran. Ia mengatakan, kegiatan workshop ini sangat membangun minat para pemuda-pemudi untuk berkarya lewat tulisan. “Dimana mereka telah dibekali dengan materi sekaligus praktik menulis  dari pemateri yang luar biasa.  Kemajuan teknologi informasi sekarang ini sangat menunjang generasi muda untuk terus beperan aktif dalam berkarya lewat tulisan-tulisan. Baik di media cetak maupun elektronik,” kata lulusan hukum Universitas Sam Ratulangi Manado itu.

“Ini tentunya membuka peluang bagi pemuda untuk menginterpretasikan pemikiran-pemikiran mereka bagi khalayak banyak lewat tulisan. Harapan saya ke depan masih ada lanjutannya dari kegiatan kemarin,” kuncinya. (arfin tompodung)

Komentar

Populer hari ini

Sponsors