Charlie Boy Samola

KUNTUNG KATOORA: Sebuah Landscape Perjalanan Ziarah Kultura


Oleh : Charlie Boy Samola

(Seniman, aktifis Budaya Minahasa)

 

Sabtu malam, aku pergi ke rumah Tonaas Rinto Taroreh di Warembungan. Rencananya ingin ikut dalam ziarah kultura bersama Tonaas dan tim Waraney Wuaya ke kawasan Tuur in Tana’ didesa Pinaesaan, Tompaso Baru, Kabupaten Minahasa Selatan. Memang kegiatan ziarah kulturanya akan diadakan hari Minggu pagi, tapi mengingat perjalanan ke  Tompaso Baru  akan dimulai pada Minggu dini hari, maka aku menyempatkan diri untuk datang berkumpul di rumahnya pada hari Sabtu.

Sampai di Warembungan, di sana sudah ada Fredy Wowor, dosen UNSRAT yang juga  Penyair dan Budayawan Minahasa, dan Ania Stepien, antropolog asal Polandia, juga teman-teman Rinto dari Waraney Wuaya  yang tengah sibuk mempersiapkan apa-apa saja yang akan dibawa nanti. Kami berdiskusi panjang lebar mengenai budaya Minahasa dan perjalanan ke kawasan Tuur in Tana’ besok hari, sampai tengah malam dan tidak ada lagi waktu untuk beristirahat tidur karena tinggal beberapa menit lagi kami akan segera berangkat ke Tompaso Baru. Setelah semuanya sudah siap, sekitar pukul 1 dinihari kami segera berangkat kesana.

Setelah perjalanan yang memakan waktu sangat lama, dan diselingi dengan tidur sejenak sambil duduk berdesakan di bak mobil pickup, tibalah kami di desa Pinaesaan Tompaso Baru. Kami tiba disana sekitar pukul setengah 6 pagi. Pertama-tama kami mampir dirumah salah seorang Kepala Jaga disana. Sarapan pagi berupa Kopi dan kue bolu terasa agak cukup untuk mengganjal perut kami.  Setelah itu kamipun segera bersiap ke kawasan Tuur in Tana’. Setiba di kawasan Tuur in tana’, setelah melewati sungai dan daerah perkebunan, seorang teman dari Waraney Wuaya sempat memberitahukan kepada saya bahwa pertama-tama kita akan pergi ke Wale Watu (Rumah Batu) atau juga disebut Rurag, yang menurut sejarah Minahasa adalah tempat dimana keturunan Toar-Lumimuut yang pertama tinggal dan menetap disitu (Waktu itu Minahasa masih bernama Malesung).  Daerahnya  bergunung tinggi, dan kita harus mendaki jalan yang cukup terjal dan berhutan serta berbatu-batu untuk mencapainya. Tempatnya  mirip goa batu, dengan ukuran ruang agak sempit. Lelah mulai terasa olehku, mungkin karena pengaruh tidak tidur semalam dan sudah jarang menjaga stamina fisik. Jadi setelah ikut membersihkan tempat tersebut, aku memutuskan untuk duduk beristirahat sejenak. Setelah turun dari Wale Watu, aku mulai merasa letih. Aku lalu bertanya pada Rinto kalau setelah ini kita mau kemana? Ia pun menjawab, setelah ini kita akan ke daerah Kuntung Katoora, yang daerahnya juga bergunung tinggi. Aku pun menarik napas panjang, semoga saja aku masih bisa naik kesana,

Setelah berjuang dan hampir menyerah karena lelah dan letih, akupun  mencoba bertahan hingga akhirnya bisa tiba di Kuntung Katoora. Konon, menurut cerita sejarah disini, Kuntung Katoora adalah salah satu tempat bersejarah peninggalan para Leluhur dari keturunan Toar - Lumimuut. Kuntung berarti gunung, Katoora bisa berarti puncak yang berdiri tegak. Tempat ini terletak di tengah kawasan Tuur in Tana’ di desa Pinaesaan. Daerah tempat ini juga sangat tinggi sekali. Untuk mencapai puncaknya, kita harus mendaki menempuh jalan yang cukup terjal dan juga berlumpur bila musim hujan. Di puncaknya terdapat batu besar dengan lubang-lubang yang mirip dengan lesung. Menurut cerita-cerita tua, Lubang-lubang lesung tersebut bermakna hasil karya dari interaksi antara manusia dengan Opo Empung Wailan Wangko (Tuhan Yang Maha Kuasa), dan alam ciptaanNya.  Lesung-lesung di batu tersebut adalah semacam media manusia untuk hidup berselaras dengan alam dan memuja, bersyukur, serta meminta berkat serta petunjuk kekuatan hidup dari Opo Empung Wailan Wangko di atas, dan Ia akan menyatakan kuasa dan berkatNya melalui air hujan dari langit, dan lesung-lesung tersebut merupakan media yang dibuat oleh para Leluhur keturunan dari Toar - Lumimuut di masa itu untuk menampung air hujan yang diyakini sebagai simbol berkat ilahi dari atas, dan simbol pengingat bagi mereka  akan kebesaran Sang Pencipta di atas, dan air bermakna sebagai berkat yang bisa menghidupkan dan menyucikan (membersihkan) diri. Akupun sempat merenung, betapa dalamnya rasa syukur orang-orang pada waktu itu karena diberikan napas kehidupan dan dikaruniai kekuatan oleh Tuhan untuk bertahan hidup, dan juga kata-kata Rinto padaku sewaktu aku mulai melemah dan tak mampu lagi untuk mencapai puncak Kuntung Katoora:

“Kase kuat dengan kase bersih itu hati dengan pikiran!”

Terpikirkanlah  juga waktu itu, bahwa dengan nurani dan pikiran yang bersih serta semangat untuk hidup, manusia bisa mencapai tujuan hidup yang baik, namun jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Sang Khalik.

 

 

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado