Suasana kegiatan Pengkajian Penelitian Usulan Gelar Pahlawan Kyai Modjo

Kyai Modjo Layak Jadi Pahlawan Nasional Dari Sulut


Mengangkat Pejuang Kemerdekaan di Kampung Jaton

 

Manado, MS

Kyai Muslim Muhammad Kalifah atau Kyai Modjo adalah tokoh pejuang melawan kolonial. Sosok yang satu ini dinilai layak untuk memperoleh anugerah gelar pahlawan nasional dari Sulawesi Utara (Sulut).

Pandangan tersebut disampaikan Sekretaris daerah provinsi (Sekdaprov) Edwin H Silangen SE MSi yang diwakili Kepala Dinas Sosial Pemerintah Provinsi Sulut, dr Grace Punuh.  Hal itu diutarakannya di kegiatan Pengkajian Penelitian Usulan Gelar Pahlawan Kyai Modjo oleh Tim Pengkaji Penilai Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Sulut, di Ruang Rapat Dinsos, Rabu (17/5) pagi.

"Melalui agenda ini kita semakin dimampukan untuk merealisasikan usulan gelar pahlawan nasional bagi tokoh bangsa, Kyai Modjo," ujar Punuh.

Silangen yang juga ketua TP2GD Sulut ini mengatakan, keberadaan tokoh nasional termasuk pejuang kemerdekaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

"Karena dalam eksistensinya merupakan elemen penting yang sangat menentukan keberhasilan bangsa dalam meraih, mempertahankan bahkan mengisi kemerdekaan," paparnya.

Menurutnya, semua bangsa merdeka di dunia pasti menghargai perjuangan para tokohnya hingga dimasukan dalam arsip negara. "Sebagai penghormatan atas peranan Kyai Modjo dalam sejarah peradaban bangsa maka upaya merealisasikan gelar pahlawan nasional yang sedang diupayakan saat ini harus diperjuangkan dan didukung bersama," imbuhnya.

Lebih jauh dalam sambutannya Silangen berharap, agar anggota TP2GD mampu menyajikan dan menuangkan konsep pemikiran konstruktif untuk merekonstruksi nilai-nilai perjuangan dan ketokohan Kyai Modjo.

"Pengkajian ini harus secara orisinal dan utuh agar bisa menghasilkan kajian yang dapat menunjang pemberian gelar kepahlawanan bagi Kyai Modjo dan memiliki makna intelektual bagi masyarakat yang haus informasi bernilai historis," paparnya.

Di tempat yang sama, Prof Ishak Pulukadang selaku penggagas gelar pahlawan nasional bagi Kyai Modjo itu mengaku optimis usulan tersebut dapat berjalan lancar. "Semua syarat administrasi pasti dilengkapi. Data-data pendukung pun lengkap," tegasnya.

Kyai Modjo juga telah memenuhi persyaratan khusus menjadi pahlawan nasional yang diatur dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2009, tentang gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan. "Seperti yang disyaratkan Undang-Undang yaitu pernah melakukan perjuangan bersenjata, tidak pernah menyerah dan perjuangan bersifat luas tidak hanya di satu daerah," imbuhnya.

Diketahui Kyai Modjo dikenal sebagai guru spiritual sekaligus panglima perang dari Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa yang berlangsung tahun 1825 hingga 1830. Pada tahun 1828, Kyai Modjo kemudian dibawa ke Batavia dan tahun 1829 beserta 63 orang pengikutnya diasingkan Belanda sebagai tahanan politik ke Kampung Jawa Tondano (Jaton).

Akhirnya, Kyai Mojo meninggal di tempat pengasingan pada tanggal 20 Desember 1848 dalam usia 84 tahun. Adapun makam Kyai Modjo terletak di perbukitan Desa Wulauan, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa. (tim ms)

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado