Panitia dan peserta Live In OMK Kevikepan Manado dengan warga di Pulau Mantehage. (foto: devy kumaat)

Live In OMK Kevikepan Manado, Sosialisasi Kemasyarakatan

Manado, MS

Lebih dari 50 peserta Orang Muda Katolik (OMK) Kevikepan Manado, mengadakan Live In di Pulau Mantehage Kecamatan Bunaken Kepulauan sejak, Jumat hingga Minggu (18-20/5) pekan lalu.

Mereka datang sebagai utusan 10 paroki di Manado, dan berlebur di setiap rumah warga disana. Dan dikoordinasikan oleh Komisi Kepemudaan Kevikepan Manado yang moderator oleh Pastor Berce Roringpandey. “Ini sudah disampaikan jauh-jauh hari ke setiap gereja kemudian keterlibatan mereka jadi bagian pengenalan terhadap kehidupan lain, jauh dari kesehariannya,” kata Roringpandey.

Selama dua hari tersebut, para peserta ditampung di rumah-rumah warga baik beragama Katolik maupun Kristen seperti GMIM dan lainnya. Wilayah lokasi mereka tepatnya di Tinongko dan Buhias dengan lokasi utamanya di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Stasi Mantehage sebagai pusat koordinasinya.

Para peserta tinggal di dua wilayah dengan pembagian satu keluarga ada dihuni satu sampai tiga peserta. Satu kendala yang sulit dihadapi selama kegiatan, yakni tak adanya jaringan kuat internet dan untuk listrik dibatasi dikarenakan terfokus warga lain yang sedang berpuasa.

Meski begitu, Nexen Kaligis dari Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Karombasan, seorang peserta menceritakan, warga sangat antusias menerima mereka dan saat berada di rumah telah dianggap anak angkat, disajikan layaknya seorang anak. Bahkan, setiap dari mereka diberi kemanjaan dengan menjamu masakan meski sudah kekenyangan. Meski, bawaan sembako seperti beras, mie, telur dan lainnya diikutsertakan guna saling mendukung konsumsi peserta serta warga setempat.

Menurutnya, panitia tak luput membuat agenda keakraban berama penduduk setempat lewat sejumlah kegiatan atraksi seni sehingga persaudaraan sangat mendalam terasa. “Saya berada di salah satu keluarga, bercakap-cakap banyak hal tentang kehidupan mereka. Cerita yang cukup menarik, ketika aka nada pengucapan syukur tiap agama bahu membahu mendukung dan masing-masing sudah mempunyai jadwal siapa yang mengurusnya,” ujar Kaligis.

“Intinya, banyak sekali kegiatan kebersamaan yang kami terima dan membuat keakraban semakin mendalam. Kegiatan ini, mirip Indonesia youth Day (IYD) 2016 lalu dengan lokasi menginap di rumah-rumah warga. Disana, sangat mendalam kami peserta rasakan,” cerita singkatnya.

Senada disampaikan, sesama peserta Roland Galuanta, ketika di lokasi pada saat hendak ikuti misa, warga turut mengantarnya. Sampai hendak pulang pun, para warga masih mengantarnya, seakan enggan melepas kepulangan peserta.

 

“Kegiatan sangat berkesan bagi peserta dan sertasa ingin kembali ke lokasi meski kegiatannya berbeda. Pokoknya, pelajaran penting sebagai bentuk kebersamaan yang kami peroleh,” tutupnya. (devy kumaat)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.