Sejumlah terdakwa dugaan pembuatan KTP-el saat menjalani persidangan.(Foto.Ist)

Majelis Hakim Kuak Bisnis Illegal Dugaan Pembuatan KTP-el Palsu

Tindaklanjut Proses Hukum Polresta Manado

 

Laporan : Rhendi Umar

TEROR peredaran produk palsu di Sulawesi Utara (Sulut), terus menjalar. Itu bukan hanya membungkus sejumlah komoditi barang. Teranyar, bisnis haram ini telah menggerogoti dokumen kependudukan masyarakat yakni Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP-el).

Kebenaran peredaran dokumen palsu di masyarakat berawal dari laporan terkait pemalsuan KTP-el yang beraktifitas di Kelurahan Kleak, Kecamatan Malalayang. Hal tersebut langsung diseriusi jajaran Kepolisian Resor Kota (Polresta) Manado. Akhirnya, perkara yang sempat menggegerkan masyarakat di Bumi Nyiur Melambai khususnya Kota Multidimensi, kini bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Manado.

Perkara yang sudah menjerat 5 tersangka masing RBR alias Boy, RN alias Ricky, HP alias Erik, Junimoth alias JS dan ZK alias Zainal (berkas terpisah), sudah mulai disidangkan oleh Ketua Majelis Hakim, Imanuel Baru bersama Hakim Anggota Halidjah Waliy dan Alfi Usup, Senin (4/12) kemarin.

Dalam persidangan yang berlangsung alot, seluruh pelanggaran yang dilakukan para terdakwa berhasil terungkap, manakala Hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Mita Ropa ‘menguliti’ satu persatu terdakwa.

Upaya itu membuahkan hasil mengejutkan. Dimana, sindikat pembuatan KTP-el palsu rupanya telah lama beroperasi di jazirah utara Pulau Selebes. Namun, baru terbongkar belum lama ini oleh polisi.

Seperti keterangan terdakwa Zainal. Selaku Aparatur Sipil Negara (ASN) di salah satu kecamatan di Kota Manado menjelaskan, awalnya ia meminta kepada terdakwa Boy untuk membuatkan KTP-el baru, dengan menggunakan blangko tua yang sudah tidak digunakan. Kemudian Zainal dan Boy mengadakan kesepakatan harga, yaitu satu KTP sekira Rp50 ribu. Namun, kepada masyarakat yang meminta bantuan pembuatan KTP-el, Zainal membebankan biaya Rp100 ribu setiap satu kartu.  "Jadi saya kasih sama Boy 50 ribu rupiah, sisanya saya ambil," beber Zainal di persidangan.

Ia mengaku permintaan pembuatan KTP-el oleh masyarakat sudah mencapai 65 buah. "Jumlah tersebut saya berikan kepada Boy, dan proses pembuatan berlangsung dengan cepat," tandas dia.

Sementara itu, terkait keterlibatan 3 terdakwa lainnya Ricky, Erik, dan Danimoth, diketahui bertugas untuk pembuatan pada model KTP non elektronik.

Pekerjaan tersebut mereka tekuni atas permintaan masyarakat yang ingin meminta diperpanjang KTP yang sudah habis masa sebagai pelengkap berkas pekerjaan. "Mereka meminta sebagai berkas melamar pekerjaan. Dalam proses tersebut kami mengganti tanggal yang sudah lewat dan ditambahkan satu tahun. Selain itu kami juga meminta biodata lengkap untuk disesuaikan apakah cocok atau tidak," terang sejumlah terdakwa.

Mendengar keterangan tersebut, hakim pun langsung menunda persidangan hingga pekan depan.

Untuk diketahui penangkapan kepada para terdakwa berdasarkan laporan masyarakat. Dari situ Tim Resmob Polresta langsung mengecek lokasi pembuatan dokumen palsu ini. Alhasil, ditemukan jika benar di tempat itu terjadi praktek pembuatan KTP palsu. Temuan ini membuat para terdakwa langsung digelandang ke Mapolresta Manado.

Dari lokasi, polisi berhasil mengamankan alat bukti dari lokasi berupa puluhan E-KTP palsu yang sudah jadi, bahan pembuatan E-KTP palsu, Kartu Keluarga (KK), Ijasah Palsu, NPWP, SKCK, SIM A dan SIM C, Notice Pajak kendaraan serta bahan baku lainnya. Polisi juga mengamankan barang elektronik yaitu 2 unit komputer bersama CPU, 2 unit alat printer, 3 unit alat scanner, puluhan stempel cap, 2 unit kalkulator serta uang tunai puluhan juta rupiah. Perbuatan para terdakwa diancam dengan pasal 263 ayat (1) KUHP, Juncto 56 ayat (1) KUHP.(*)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado