MANADO KEMBALI RAPUH

Manado, MS

Jantung Nyiur Melambai terpuruk. Efek cuaca ekstrem yang terjadi, Sabtu (16/12) berujung petaka. Stabilitas Kota Manado goyang dihantam banjir dan tanah longsor. Sejumlah wilayah nyaris terisolir. Tragedi memilukan di awal Januari 2014, kembali berulang.

Diakui, kisah di penghujung tahun 2017 ini telah menimbulkan kepanikan. Akumulasi dari peningkatan curah hujan yang terjadi beberapa hari terakhir, telah menyebabkan pergerakan masa batuan atau tanah serta aliran jutaan kubik air ke ibukota Sulawesi Utara (Sulut). Hal tersebut diperparah dengan kondisi Daerah aliran sungai (DAS) yang mendekati over capacity. Imbasnya, tanah longsor dan banjir kembali menerjang beberapa wilayah di Kota Tinutuan.

Ketinggian air sekitar 50 hingga 80 sentimeter terpantau di wilayah Kelurahan Taas Kecamatan Tikala, Teling Tingkulu Kecamatan Wanea dan Kelurahan Karombasan Selatan. Selanjutnya, daerah yang tergenang air dengan ketinggian bervariasi meliputi Kelurahan Winangun Satu Kecamatan Malalayang, Kelurahan Banjer, Kelurahan Tikala, Kelurahan Tanjung Batu, Jalan Siswa, Jalan Sumompo, Kawasan Elit Citra Land, Ranotana Weru Lingkungan II, Kelurahan Malalayang I Timur Lingkungan VII Aer Trang, Pakowa, Komo, Perempatan Kelurahan Banjer, Paal 4, Lorong Tingkulu, Kompleks Stadion Klabat, Kelurahan Istiqlal, Kelurahan Wawonasa dan Karame.

Selain banjir, bencana tanah longsor juga terjadi di beberapa tempat. Misalnya, Kelurahan Tumumpa Satu, Kelurahan Mahawu, Kelurahan Banjer, Kelurahan Perkamil, Tanjung Batu, ruas jalan Manado-Tomohon tepatnya di Desa Pineleng, kompleks perumahan Malendeng Residence, Karombasan Utara dan ruas jalan Koka-Manado.

Kondisi pada Sabtu malam, kian mencekam. Selain terjadi pemadaman listrik di sejumlah wilayah, adanya isu yang beredar soal pembukaan pintu air di DAS Tondano. Namun, pihak otoritas setempat langsung membantah kabar tersebut. Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi (Diskominfo) Manado Erwin Kontu pun mengakui, kabar pembukaan pintu air DAS Tondano, tidak benar. "Tak ada pembukaan air, karena daya tampung masih dibatas normal. Itu kabar salah," terang Kontu ketika dikonfirmasi, Sabtu (16/12) malam.

Dalam situasi sulit itu, gabungan tim penyelamat dari search and rescue (SAR), Palang Merah Indonesia (PMI) Manado, unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI) serta kepolisian, berhasil mengevakuasi Marsela Gumansalamgi (5), Minggu (17/12). Korban merupakan warga Kelurahan Malendeng Lingkungan I. Dia dikabarkan hanyut dan ditemukan di Jembatan Maesa, Ranomuut, dalam keadaan meninggal dunia.

Merujuk keterangan dari salah satu anggota tim penyelamat, korban hanyut dan ditemukan tersangkut di pohon pisang. "Perlu beberapa jam operasi ini tapi syukurlah berhasil diangkat," ungkap petugas yang enggan menyebutkan namanya. Lanjut dia, korban langsung di bawah ke Rumah Sakit Prof Kandouw Malalayang dan kemudian diserahkan ke pihak keluarga.

Proses pencarian masih berlanjut. Pasalnya, masih terdapat satu anak yang dikabarkan hilang. Informasi yang didapat, anak tersebut merupakan warga Kelurahan Dendengan Dalam. Sejak turunnya hujan deras di Kota Manado, anak ini bersama rekannya bermain di bronjong sungai dan terpeleset ke sungai. Tim dari pemerintah, Basarnas, Bertagana, kepolisian, PMI dan warga kini dalam pencaharian tahap kedua.

SELURUH INSTANSI PEMPROV SULUT DITERJUNKAN

Pasca dihantam banjir dan tanah longsor, reaksi tanggap darurat langsung dijabal. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut menjadi motor. Menyikapi dampak bencana tersebut, Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Provinsi (Sekprov) Jhon Palandung bersama Asisten III Roy Roring, Kepala BPBD Noldy Liow, Kepala Balai Sungai Jidin Watania beserta beberapa kepala dinas , badan dan kepala biro  serta  TNI dan kepolisian, langsung menggelar rapat koordinasi.

Menindaklanjuti hasil rapat, sekira 500 makanan siap saji dari Bank Artha Graha dan selimut hingga tikar dari BPBD, disalurkan ke warga yang terkena bencana. Sementara, Dinas Sosial  dan Dinas Kesehatan membagikan supermie, kue serta minuman.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE langsung memerintahkan semua instansi di jajaran Pemprov Sulut untuk segera bergerak. Ia berharap, setiap perkembangan yang terjadi harus secepatnya dilaporkan. "Kalau kurang bantuan kemanusiaan langsung kabarkan saya dan akan secepatnya saya suruh mengantakan bantuan pada besok pagi , karena itu sekarang harus segera laporkan laporkan bagaimana situasinya," tandas Gubernur Olly yang mengaku segera menerjunkan tenaga bantuan.

Orang nomor satu di Bumi Nyiur Melambai ini menugaskan Palandung Cs untuk turun ke lokasi korban banjir dan tanah longsor membawa bantuan.

Untuk diketahui, tempat yang dikunjungi jajaran Pemprov Sulut diantaranya, posko-posko pengungsi Jemaat GMIM Abraham Sario,  Sario Utara Lingkungan 2, Taas  Lingkungan 6, Banjer dan Paal 4. Sesuai data sementara, akan diberikan bantuan diantaranya 5000 dos air mineral, 5000 mie instan, 200 karung beras, 15.000 makanan siap saji serta 500 paket ikan kaleng.

Terkait bantuan bagi korban bencana, Biro Umum Pemprov Sulut telah membagikan nasi kotak, Minggu (17/12). Sekitar 500 paket disalurkan bagi korban banjir yang tersebar di beberapa posko, seperti Tanjung Batu, Taas, Perkamil dan Dendengan Dalam. Kepala Biro Umum Clay June Dondokambey melalui Kepala Bagian Tata Usaha Dantje Lantang, menyebutkan, penyaluran bantuan ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap masyarakat yang jadi korban banjir. "Aksi kepedulian ini sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Bantuan nasi kotak ini diharapkan bisa membantu para korban banjir di Manado,” katanya.

GSVL MINTA WARGA TETAP SIAGA

Baru beberapa hari dihantam hujan lebat, kondisi sejumlah wilayah di Kota Manado memprihatinkan. Puluhan rumah tergenang dan rusak diterjang banjir dan tanah longsor, Sabtu (16/12). Selain itu, fasilitas publik seperti jalan, luluh lantah.

Merujuk kondisi tersebut, Walikota Manado, Godbless Sofcar Vicky Lumentut GSVL) memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos-PM), Dinas Kesehatan (Dinkes) serta elemen lainnya seperti Taruna Siaga Bencana (TAGANA), PMI, khususnya pelayanan cepat Call Center 112, agar bergerak cepat memberikan bantuan.

Apalagi, menurut dia, kondisi di lapangan menyebutkan lebih dari 20 wilayah di Kota Manado mengalami dampak buruk akibat hujan lebat. Selain itu, terdapat korban tewas karena hanyut terseret arus sungai Sawangan dan sekira 10 kepala keluarga yang terisolir di Kelurahan Malalayang Satu Timur. Begitu juga air setinggi hampir 1 meter terdapat di Komo Luar, Banjer, Pakowa dekat Aspol, jalan depan Bank Tabungan Negara (BTN) Bahu, Sario dan tempat-tempat lainnya.

"Saya sudah perintahkan instansi-instansi terkait agar bergerak cepat melakukan tanggap darurat untuk mengambil tindakan serta membantu dan melakukan pertolongan kepada warga yang terkena bencana," tandas GSVL.

Meski menghadapi libur Hari Natal, GSVL memastikan semua instansi layanan publik yang berkaitan dengan kebutuhan darurat masyarakat harus buka 24 jam. "Kami juga telah memerintahkan, walaupun hari libur Puskesmas, Rumah Sakit sampai pemerintah di kecamatan dan kelurahan, serta BPPD harus ada di lapangan. Juga Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan harus turun membantu masyarakat," tegas GSVL saat memantau kondisi Kota Manado, Sabtu (16/12) malam.

Melihat dampak curah hujan yang tinggi dengan terjadinya banjir dan tanah longsor di Kota Manado, sebagai walikota, ia mengingatkan kepada warga masyarakat untuk selalu waspada. “Jangan lupa kita terus panjatkan doa bersama untuk keamanan dan kedamaian Kota Manado jelang hari raya penuh rahmat dan sukacita damai Natal,” aku walikota

"Mereka yang tinggal di daerah rawan longsor dan banjir, sebaiknya mengungsi untuk sementara waktu, dari pada bertahan di rumah dan nyawa taruhannya. Dan di saat persiapan Natal saat ini, mari kita mengambil hikmah atas kejadian ini dengan terus memperhatikan soal lingkungan. Kita harus berdamai dengan sesama, juga harus berdamai dengan lingkungan atau alam disekitar kita," sambung dia.

Selain Walikota GSVL, Wawali Mor D Bastiaan bersama sejumlah Perangkat Daerah (PD), melakukan pertolongan dan pemberian bantuan bagi warga yang terkena banjir dan longsor di sejumlah lokasi. Baik itu mendatangkan alat berat Dinas PUPR, mobil Damkar dan pemberian pakaian dan makanan kepada warga yang membutuhkan.

BUTUH KOMITMEN PEMERINTAH DAN MASYARAKAT

Rusaknya daerah serapan air karena diduga akibat pembangunan kota dinilai menjadi salah satu pemicu banjir di Manado. Hal itu membuat DAS tak mampu lagi menahan debit air hujan.

Hal itu pernah disampaikan pengamat perkotaan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Veronica Kumurur.  "Bagaimana mau menampung air kalau daerah resapannya sudah berubah menjadi lokasi perumahan," ucap Kumurur, beberapa waktu yang lalu.

Menurut dia, kondisi ini diperparah dengan adanya gelombang laut tinggi yang melanda Manado sehingga membuat air hujan tidak bisa mengalir ke laut. "Tapi fenomena alam itu kan bisa diantisipasi atau minimal dikurangi ekses negatifnya apabila kondisi resapannya tidak rusak seperti sekarang," sambung dia.

Untuk itu, Veronica berharap pemerintah daerah segera membuat peraturan yang membatasi pembangunan properti di kawasan resapan. Dengan demikian, pengusaha tidak bisa lagi serampangan membabat hutan lindung maupun kawasan resapan demi keuntungan bisnis. "Memang saat ini sudah ada aturan perundang-undangan. Namun hal tidak dipatuhi pengusaha karena memang tidak ada perda yang melarang," tandas Kumurur.

Sorotan menyasar kualitas daerah resapan air di Kota Manado juga sempat tersaji saat Focus Group Discussion (FGD) bersama editor media cetak di Sulawesi Utara (Sulut), yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Manado, beberapa waktu yang lalu.

Forum ini menegaskan, pertambahan penduduk telah membuat semakin banyaknya lahan yang dijadikan kawasan perumahan, membuat daerah resapan air di Kota Manado semakin sempit. Permasalahan banjir yang terjadi di Kota Manado disebabkan pendangkalan Danau Tondano, alihfungsi lahan di sekitar DAS Tondano, kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, reklamasi pantai serta masalah wilayah resapan air yang semakin berkurang. Untuk itu, dibutuhkan komitmen bersama serta aturan yang mengikat untuk melindungi daerah resapan air di Kota Manado. Selanjutnya, dibutuhkan kajian serius tentang dampak lingkungan dari suatu pembangunan dengan melibatkan pemerintah dan akademisi atau peneliti lingkungan di daerah ini.

Pemerhati lingkungan, Larry Supit SSi berharap, pemerintah mempertegas zonasi wilayah termasuk daerah serapan air. “Intinya tegas, bukan kita menolak investasi, tapi jika berada di zona merah untuk pemukiman, kan harus dilarang apalagi sudah ada aturan. Malahan, wilayah-wilayah ini harus dihijaukan,” tutur Supit, Minggu (18/12) malam.

Bagi dia, regulasi harus lebih diperketat untuk mengawal proses pembangunan. “Jangan ada permainan antara pemerintah dan pengembang, sehingga akhirnya berdampak pada bencana seperti yang dirasakan masyarakat saat ini,” sebut dia.

Untuk kondisi Manado, ia juga beranggapan, semakin rapuh. Di sini butuh penanganan bersama dalam penanganan bencana, termasuk daerah-daerah di sekitar Manado, yakni Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa dan Minahasa Utara (Minut). “Kan semua aliran sungai yang masuk ke Manado dari wilayah-wilayah ini. Caranya,  pemerintah harus menggerakkan masyarakat agar tidak membuang sampah di DAS. Kedua, mengurangi aktivitas di sekitar DAS agar tidak terjadi pendangkalan. Lihat saja di beberapa tempat di Pulau Jawa, harus dilakukan pengerukan DAS karena sudah tertimbun sampah dan material lainnya. Di Manado membutuhkan kerjasama lintas daerah,” sambung dia.

Ia juga menambahkan, peran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan sungai. “Salah satu cara untuk membuat serapan yakni membuat lubang biopori. “Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Itu penting disosialisasikan di masyarakat Manado dan sekitarnya,” kunci jebolan Fakultas MIPA, Unima itu.(devy kumaat/tim ms)


Komentar