MARI RAWAT KERUKUNAN

 


Manado, MS


Kedamaian membungkus bumi Nyiur Melambai ketika Paskah menyapa. Rasa manis yang dikecap itu dinilai bagian dari lukisan hubungan antar masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut). Pesan untuk terus bersemangat dalam merawat kerukunan di momen 'hari kemenangan' itu pun kian menggema.

Rangkaian hari penuh makna yang dirayakan umat kristiani seantero dunia baru terlewati. Paskah merupakan momen puncak yang dihayati dalam berbagai macam bentuk kegiatan.

Pemandangan itu terlihat jelas juga di daerah Sulut. Berbagai bentuk kemeriahan tersaji pada hari Minggu dan Senin kemarin. Kerja sama masyarakat, antar umat beragama, pemerintah dan aparat keamanan, jadi salah satu kunci kesuksesan perayaan Paskah tersebut.

Di Kota Manado, Walikota Godbless Sofcar Vicky Lumentut (GSVL) mengaku, perayaan Jumat Agung dan Paskah di kota yang dipimpinnya boleh berlangsung kondusif telah menjadi bukti kerukunan umat beragama di Kota Tinutuan terawat dengan baik. Apresiasi pun diberikan bagi semua elemen masyarakat yang terus berkomitmen menjaga nilai-nilai persaudaraan itu.

“Dengan semangat Paskah 2018, saya mengajak mari torang samua warga Kota Manado untuk terus menjaga hidup toleransi di Kota Manado,” ajak Walikota GSVL, Senin (2/4).

Bagi dia, spirit ‘baku-baku bae, baku-baku bantu, baku-baku kase inga satu dengan laeng’ diharapkan terus terpatri, sehingga gerak pembangunan di Kota Manado bisa berjalan baik dan kondusif.

“Mari kita bersama-sama untuk terus mempertahankan kehidupan rukun damai dan sejahtera,” tandas orang nomor satu di Kota Multidimensi itu.

Sebelumnya, Walikota GSVL juga mengapresiasi aparat keamanan dan para tokoh agama yang dianggap punya peran penting.

“Terima kasih kepada aparat keamanan baik dari kepolisian maupun TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang telah berperan aktif melakukan pengamanan selama berlangsungnya perayaan Jumat Agung dan Paskah di gereja-gereja yang ada di Kota Manado,” ujar Ketua Komisi Pria/Kaum Bapa (P/KB) Sinode GMIM Periode 2018-2022 itu.

"Saya juga memberikan apresiasi dan terima kasih kepada para tokoh agama yang telah bersama-sama menciptakan suasana yang aman dan rukun saat umat Kristen mengikuti ibadah perjamuan Kudus dalam perayaan Jumat Agung," sambung dia, seraya berharap kondisi seperti ini harus terus dipertahankan sebagai wujud Kota Manado, kota Paling Toleran di Indonesia.

Nada yang sama mengalir dari Tanah Totabuan. Di hadapan ribuan jemaat se-Bolmong Raya, pada Festival Perayaan Paskah yang juga dirangkaikan dengan hari Pemuda Sinode Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow (GMIBM) yang dipusatkan di kompleks pemerintahan Panango, Senin (2/4) kemarin, Wakil Bupati Bolaang Mongondow Selatan Iskandar Kamaru menegaskan soal pentingnya kesadaran umat beragama untuk menjaga hubungan yang harmonis di tengah masyarakat Sulut yang majemuk.

Dalam sambutannya mewakil bupati Bolsel, Kamaru mengungkapkan bahwa perayaan Paskah adalah momentum kebersamaan bagi semua yang merayakan. Semangat Paskah melalui kebangkitan Yesus Kristus memberi inspirasi dan motivasi untuk melakukan gerakan bersama melalui kehidupan bermasyarakat dan bergereja.

"Sesuai visi dan misi mewujudkan kabupaten Bolaang Mongondow Selatan yang religius, berbudaya, bermartabat, maju dan sejahtera. Kebangkitan Yesus Kristus mengalahkan maut membuktikan kepada kita betapa besar karya penyelematan yang Tuhan anugerahkan kepada manusia melalui kebangkitan-Nya," jelas Kamaru di hadapan ribuan jemaat yang hadir.

Kamaru juga menuturkan, melalui momentum Paskah ini umat bisa mengaktualisasikan kasih dan teladan Kristus dalam wujud kepedulian terhadap sesama dan tetap menjaga kerukunan dalam bermasyarakat serta meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan.


TOKOH AGAMA AJAK LAWAN PROVOKASI

Pesan kerukunan di momen Paskah juga dikumandangkan para tokoh agama. Umat Kristen diharapkan mampu meneladani Yesus Kristus dalam segala gerakan perdamaian.

"Umat kristiani di Sulut harus terus mampu menjadi motor dalam menjaga kerukunan umat beragama agar tidak timbul pertikaian yang dapat memecah belah persatuan antar agama," kata tokoh pemuda Sulut, Penatua Nedine Helena Sulu.

Tokoh agama di wilayah Mandolang Minahasa ini mengungkapkan, kini banyak sekali provokasi yang dilakukan oknum-oknum tertentu yang dapat memecah belah persatuan antar umat beragama.

"Kemampuan kita untuk merawat kerukunan akan menjadi kekuatan untuk menangkal segala bentuk provokasi. Mari kita teladani Yesus Kristus yang telah menang atas maut dan kuasa dosa dengan menjadi pelopor dalam segala gerakan perdamaian dan upaya menjaga kerukunan antar umat beragama," pinta Sulu.

Kerinduan yang sama diungkapkan tokoh agama Talaud, Pdt John Melale. Ia berharap, perayaan Paskah kali ini mampu menjadi perekat rasa kerukunan antar masyarakat di Sulut. Sehingga, momentum ini diharapkan membawa berkat sukacita dan damai. Bukan hanya untuk umat Kristiani, tetapi juga dalam rangka menjaga kebersamaan antar umat beragama.

“Semoga kegembiraan Paskah meneguhkan kerukunan dan persaudaraan antara umat beragama di Indonesia, terutama di Sulut,” tuturnya.

Masyarakat Sulut selama ini dikenal sangat menghargai perbedaan. Diakui, suasana itu terjadi berkat komitmen seluruh elemen masyarakat, untuk ikut andil dalam menjaga dan merawat dengan baik semangat persatuan dalam keberagaman ini.

Tokoh GMIM, Pdt Wanly Christofel Karundeng menjelaskan, kebangkitan Yesus mengalahkan maut telah memberi harapan baru bagi umat kristiani bahwa dalam Kristus ada kehidupan baru yang mampu menerobos kematian dan kesia-siaan.

"Dengan pembaharuan diri ini kita bangkit memberitakan kasih karunia Allah, mewujudkan kebenaran-Nya di tengah-tengah realitas kehidupan yang sering diwarnai oleh dusta, penyebaran berita bohong atau hoaks, tipu muslihat bahkan kelaliman," tegasnya.

Karena itu, Pdt Karundeng mengajak umat Kristen di Sulut untuk berani memilih kebenaran di tengah banyaknya orang yang bersikap tidak jujur dan membengkokkan kebenaran, sekalipun harus 'memikul salib' dan menghadapi berbagai resiko.

"Hal ini sejatinya kita wujudkan secara nyata dalam tindakan konkret dengan menghadirkan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan di tengah kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa. Ini menjadi inti pesan Paskah dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia," terangnya.

"Berusaha mengendalikan diri agar tidak mudah terprovokasi untuk membenci kelompok lain yang berbeda suku, budaya, ideologi dan agama," sambungnya.

Pdt Karundeng juga meminta umat Kristen untuk berupaya menghindari tindakan-tindakan provokatif, termasuk politisasi agama, yang dapat memecah belah keutuhan NKRI.

"Tumbuhkembangkan budaya damai mulai dari keluarga, menjauhi kebohongan apalagi menyebar luaskan berita-berita bohong atau hoaks demi kepentingan pribadi atau kelompok," kunci Karundeng. (tim ms)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.