MEGAWATI DIPOLISIKAN BANTENG ‘MENGAMUK’


-Dilapor Nodai Agama oleh Eks Ketua FPI Jaksel

-FPI Klaim Bukan Rekomendasi Organisasi

 

Jakarta, MS

Situasi bangsa kian terusik. Aksi saling lapor makin menjadi. Teranyar, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, dipolisikan oleh Baharuzaman.

Eks Ketua Front Pembela Islam (FPI) Jakarta Utara (Jakut) itu melaporkan Presiden Indonesia kelima, ke Bareskrim Polri, Senin (23/1), dengan tuduhan telah menodai Agama.

Pun begitu, Baharuzaman, tidak membawa bendera FPI. Meski awalnya, Ketua Umum FPI, Rizieq Shibab yang lebih dulu mengancam akan melaporkan Megawati, terkait pidato putri Presiden Soekarno di HUT PDIP ke 44.

Baharuzaman mengatas-namakan Humas LSM Aliansi Anak Bangsa Gerakan Anti Penodaan Agama. Rekaman pidato Megawati dijadikan salah satu alat bukti dalam laporannya.

Dia mengaku sebagai umat Islam merasa tersakiti dengan pidato Megawati yang menyebut orang-orang penganut ideologi tertutup merupakan peramal masa depan. Sebab dalam ajaran Islam, setelah dunia fana masih ada kehidupan lain yaitu surga dan neraka.

"Saya sebagai umat Islam melihat dan mendengar pidato itu merasa tersakiti karena menyangkut akidah saya sebagai orang muslim," kata Baharuzaman saat konferensi pers di salah satu perkantoran di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (24/1).

"Saya ulangi, saya sebagai orang muslim tersinggung dengan kata 'para peramal masa depan'. Jadi seolah-olah apa keyakinan saya sebagai muslim tentang hari akhir yang disebut adalah hasil dari para peramal saya sangat kecewa. Dalam rukun iman tercantum tentang hari akhir. Bu Mega sudah menodai rukum iman ke-5 tentang hari akhir. Padahal setelah dunia fana itu ada hari akhir. Setelah itu ada surga dan neraka," paparnya.

Lebih lanjut, Baharuzaman mengaku mendengar isi pidato Megawati saat HUT PDIP ke-44 tersebut dari siaran TV. Dirinya menolak anggapan bahwa pelaporannya karena dipengaruhi oleh Imam Besar FPI  Rizieq Shihab. Dia menyatakan laporan tersebut murni dari pribadinya sendiri. "Yang jelas, kalau ditanya soal penyataan Habib Rizieq itu nggak ada sama sekali. Ini murni saya pribadi dan dalam Aliansi Anak Bangsa, murni. Nggak ada berdasarkan pernyataan Habib Rizieq Syihab," terangnya.

 

Saat membuat laporan ke Bareskrim Polri, Baharuzaman menyebut dirinya membawa setidaknya dua alat bukti untuk menjerat Megawati. "Alat buktinya rekaman CD dan transkrip pidato Megawati," ujarnya.

Berikut sepenggal pidato Megawati Soekarnoputri saat HUT PDIP ke-44 yang menjadi dasar Baharuzaman melaporkan Ketum PDIP itu: "Tidak hanya itu, mereka benar-benar antikebhinnekaaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini. Di sisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa 'self fulfilling prophecy', para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya," begitu kata Mega dalam pidatonya di HUT ke-44 PDIP pada Selasa (10/1) dua pekan lalu.

 

BARESKRIM AKAN PANGGIL MEGAWATI

Mabes Polri membenarkan adanya laporan dugaan penistaan agama dengan terlapor Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Presiden RI kelima itu dilaporkan Baharuzaman selaku Humas LSM Aliansi Anak Bangsa Gerakan Anti Penodaan Agama.

Laporan tersebut diterima dengan nomor LP/79/1/2017/Bareskrim pada Senin (23/1) kemarin. Polri. Polri pun memberi sinyal untuk memeriksa Megawati. “Ya, benar ada laporan itu,” beber Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul saat konfirmasi, Selasa (24/1).

Dalam pelaporan tersebut, Baharuzaman disebut membawa CD yang berisi video rekaman Megawati pada saat HUT PDIP ke-44 sebagai barang bukti yang diserahkan kepada pihak kepolisian. "CD rekaman pidato Ibu Megawati, ada 3 keping," jelas Martinus.

Guna menindaklanjuti laporan tersebut, polisi akan memanggil beberapa ahli untuk dimintai keterangan. "Iya ada ahli pidana, ahli bahasa, ahli agama," imbuh Martinus.

Itu diperkuat dengan pernyataan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto. Terlapor akan dipanggil pada waktunya.  "Pada waktunya (Akan dipanggil, red). Cuma belum kita tahu kapan, karena memang dibutuhkan saksi ahli, termasuk saksi bahasa," kata, Selasa kemarin.

Menurut Rikwanto, Baharuzaman melaporkan Mega karena kata-kata yang diucapkan Mega pada HUT PDIP ke-44 lalu dinilai telah menodai agama. "Terlapor Ibu Megawati diduga telah mengeluarkan kata-kata yang intinya, menurut si pelapor, melakukan penodaan agama," tandasnya.

 

PDIP SIAP LAPOR BALIK BAHARUZAMAN

PDIP bereaksi keras. Partai berlambang Banteng Moncong Putih, siap melakukan perlawanan. Malah PDIP akan melapor balik LSM maupun oknum yang melaporkan Ketua Umumnya.

"Kami akan bersikap tegas. Jika laporan itu tidak ada bukti dan fakta, kami akan mengambil tindakan hukum untuk melaporkan mereka (pelapor)," kata politikus PDIP Junimart Girsang, Selasa (24/1).

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP itu mengatakan, tindakan tegas dibutuhkan karena saat ini laporan ke polisi seperti hal itu lumrah terjadi.

Menurutnya, masing-masing pihak dengan mudah melaporkan ke polisi, padahal belum tentu disertai alat bukti yang lengkap. Untuk menciptakan efek jera, kata Junimart, PDIP akan melaporkan balik. "Kami akan serius kali ini, supaya hukum menjadi panglima, bukan jadi alat kepentingan pihak tertentu," lugasnya.

Senada dilontarkan Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira. Pihaknya meminta polisi memanggil pelapor terlebih dahulu. "Panggil dulu orang yang melapor itu dong, yang melapor itu dasarnya apa?" ujarnya, Selasa (24/1).

"Dasarnya apa itu menista? sebenarnya nggak jelas juga apa yang mau dikomentari? nanti malah jadi boomerang buat yang bersangkutan (Baharuzaman)," imbuhnya.

Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan Pusat DPP PDIP, Eva Kusuma Sundari ikut angkat suara. Ia menilai laporan itu sarat dengan kepentingan dan ambisi politik kelompok tertentu. Menurutnya, saat ini, hukum telah dijadikan sebagai alat untuk menjatuhkan lawan politik.

"Pasti (laporan) ini karena ada perintah (seseorang) untuk melakukan itu. Tapi yang melaporkan harusnya pakai nalar, yang dilaporkan ini menistakan atau tidak. Semua agama dibela sama Ibu Mega," katanya

Megawati disebut tidak memiliki rekam jejak dalam melakukan penistaan dan menghina pihak tertentu. “Sebaliknya, Ibu  Megawati itu konsisten dalam memperjuangkan keberagaman yang ditunjukan dengan dideklarasikannya Rumah Kebangsaan, yaitu tempat dimana semua kelompok dari nasionalis, agama, dan minoritas memperjuangkan haknya,” terangnya.

Menurut Eva, pidato Megawati dalam HUT PDIP ke-44 beberapa waktu lalu itu bertujuan untuk mengingatkan masyarakat agar agama tidak dijadikan alat politisasi pecah belah bangsa. Eva menegaskan, tidak ada niat Megawati untuk menistakan agama. "Ibu Megawati tidak pernah menghina. Yang terus menerus menghina itu Pak Rizieq (FPI). Saya melihat (laporan) ini agak maksain dan tidak pada tempatnya. Apa yang dilakukan Ibu Mega kontraproduktif dengan tuduhan itu," tandasnya.

 

FPI LEPAS TANGAN

Baharuzaman, sang pelapor Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri ke Bareskrim atas dugaan tindak pidana penodaan agama, adalah mantan Ketua FPI Jakut.

FPI membenarkan informasi itu. Pun begitu, ormas besutan Rizieq Shibab mengklaim, laporan yang dilayangkan Baharuzaman itu bukan atas rekomendasi FPI.

Malah FPI menyebut Baharuzaman sudah lama menanggalkan jabatan sebagai pucuk pimpinan FPI Jakut tersebut. "Baharuzaman sudah lama tidak jadi Ketua FPI Jakarta Utara, sekarang dia di LSM," tepis Sekretaris Jenderal Dewan Syuro DPD FPI Jakarta,  Novel Chaidir Hasan Bamukmin.

Novel pun mengklaim, FPI tidak mengetahui perihal laporan yang dibuat Baharuzaman di Bareskrim tersebut. "Kalau soal laporan dia (Baharuzaman) melaporkan Megawati ke polisi saya tidak tahu,” singkatnya.

Ia menyatakan, hingga saat ini FPI belum membuat laporan terkait pidato Megawati dalam Hari Ulang Tahun ke-44 PDIP, Selasa (10/1) silam." FPI belum ada membuat laporan soal Megawati," tandasnya.

Diketahui, Rizieq Shihab sempat menuding Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri telah menistakan Agama. Malah dalam orasi di Mabes Polri, Rizieq meminta polisi untuk melakukan proses hukum terhadap Megawati atas dugaan penodaan agama.

Ia malah sempat mengancam akan melaporkan Megawati ke Mabes Polri. Namun ancaman Rizieq dibalas oleh Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto. Ujung-ujungnya Rizieq melunak dan minta dimediasi dengan Mega oleh Polri, namun ditolak oleh PDIP.  "Sekiranya Bapak Rizieq Syihab memang akan berhadapan dengan Ibu Ketua Umum Partai, maka sebagai Sekjen Partai saya tegaskan bahwa kami siap berhadapan dengan Pak Rizieq," ucap Hasto beberapa waktu lalu.

Hasto menegaskan, kader PDIP akan membela kehormatan dan martabat Megawati sebagai ketua umum Partai. "Lebih-lebih, Pak Rizieq selama ini telah mengobarkan rasa kebencian dan memecah belah bangsa," tegasnya.

Jika Rizieq keberatan dengan pidato Mega, pihaknya mempersilakan menempuh melalui jalur hukum. PDIP akan menyiapkan pembela hukum terbaik. Hasto juga menyinggung aksi FPI membubarkan program pengobatan gratis yang digelar Djarot Saiful Hidayat. Dia hanya mengingatkan Rizieq bahwa PDIP memiliki batas kesabaran. Jika FPI terus melakukan tindakan main hakim sendiri, PDIP tak takut berhadapan dengan mereka.

"Jangan biarkan negeri yg damai ini diinjak injak oleh mereka yg bermaksud memecah belah bangsa. Ada batas kesabaran dari kami, dan pesan yang ingin saya sampaikan ke Bapak Rizieq adalah kami tidak takut. Kami siap berhadapan jika mereka terus bertindak main hakim sendiri," ucapnya.

Tidak hanya itu, PDIP juga siap berada di garda terdepan bagi siapapun yang akan merongrong kewibawaan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla.

"PDI Perjuangan akan membela pemerintahan yg sah dan konstitusional dari berbagai bentuk ancaman, termasuk tindakan makar. Seluruh anggota, kader dan simpatisan Partai harap menjaga suasana tenang, taat hukum, dan jangan melakukan tindakan kekerasan," tegasnya kala itu.(dtc/cnn/mrd)

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado