Waruga yang berada di lokasi perkampungan tua Tuis. (foto: andrey tandiapa)

Membuka Tirai Perselisihan Mawale dan Tuis

 Jejak Leluhur Yang Tersimpan di Bumi Lopana 

 

Laporan: Arfin Tompodung

Bentangan alam lokasi Perkemahan Karya Pemuda GMIM (PKPG) 2018, di Desa Lopana, ternyata menyimpan banyak nilai sejarah. Keberadaan situs budaya seperti waruga dan batu penanda kampung, membuktikan bahwa kompleks itu pernah menjadi pemukiman tua. Meski tengah berlangsung cukup lama namun kisah para leluhur di wanua ini, masih tertanam dalam ingatan warga setempat. 

Desa Lopana kini masuk di Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan. Dari cerita tutur masyarakat, dahulunya sejumlah penduduk Lopana tinggal di bagian perkebunan Mawale dan Tuis yang sebelumnya adalah dua perkampungan berbeda.  Kedudukannya berada tepat di lahan kegiatan PKPG 2018 yang digelar baru-baru ini.

 “Ini sebenarnya ada dua kampung. Satu Mawale dan yang satu lagi kampung Tuis. Sekarang ini pemukimannya sudah tidak ada. Masih ada batu-batu (waruga, red) di situ. Di Tuis ada, di Mawale lagi ada,” ungkap Femi Kumokong, Selasa (12/6), seraya mengaku masih menyimpan buku sejarah kampung Lopana karena suaminya mantan Sekretaris Desa.

KETIKA SUNGAI DICEMARI

Kisah paling diingat masyarakat Desa Lopana ialah perseteruan antara Wanua Mawale dan Tuis. Tempat tinggal mereka berdekatan, hanya saja terpisah oleh sebuah sungai yang mengaliri dua pemukiman itu. Hingga suatu waktu, salah satu di antaranya mengotori aliran air tersebut.

 Pertengkaran dipicu saat ada warga dari kampung Tuis yang buang air besar di ‘kuala’ itu. Sementara, posisi pemukiman Tuis secara geografis, berada lebih di atas aliran sungai ketimbang Mawale. Otomatis kotorannya melewati kampung Mawale.

 “Jadi ada orang Tuis yang ada buang air besar di kuala. Kemudian ada orang yang membuat heboh perbuatan ini, sehingga diketahui penduduk Mawale,” ucap Maxi Karundeng mantan perangkat desa di Lopana.

Kejadian itu memicu konflik  antara kedua kampung bahkan berujung perang. Sebagian penduduk Tuis dikejar Mawale sampai ke daerah Mariri Lama. Mereka yang kemudian menetap di sana hingga beranak cucu. Mariri Lama sekarang telah masuk di Kecamatan Poigar, Kabupaten Bolaang Mongondow.

 “Sebelum dikejar Mawale, pertama kali terjadi perang lebih dahulu karena hukum adat waktu itu, tidak boleh mengotori sungai. Dulu sungai masih bersih, orang Minahasa ja pake minum akang. Beda dengan sekarang, kuala-kuala banyak sudah kotor,” tutur Maxi, saat diwawancarai, Sabtu (16/6).

 “Sebenarnya kisah ini selalu disimpan. Tidak diceritakan. Namun harusnya mesti diceritakan karena  di situ awal terjadi masalah antara Mawale dengan Tuis. Jadi dulu, kalau kuala sudah dicemari bisa memicu perang,” tambahnya.

NAMA TUIS DAN MAWALE

Awal disebut Mawale dan Tuis masih diketahui masyarakat Desa Lopana. Nama kedua kampung tua ini terambil dari  bahasa daerah orang Minahasa.

Sesuai data yang diperoleh dari warga sekitar, dahulunya di sebagian wilayah perkampungan Lopana, banyak ditumbuhi tanaman Tuis. Inilah kemudian yang jadi penyebab sehingga nama Tuis diberikan kepada salah satu perkampungan lama itu.

 “Dulu di situ banyak tumbuhan-tumbuhan yang orang bilang Tuis. Ini yang jadi sebab dinamakan perkampungan itu Tuis. Cuma ini tumbuhan sekarang sudah jarang terlihat di sekitar situ,” jelas Karundeng.

 ‘Mawale’ merujuk kepada pemukiman tua itu sendiri, sebagai rumah tempat tinggal mereka. Hanya saja menurut Karundeng, penduduk di sana berangsur-angsur pindah. “Kalau Mawale kan berasal dari kata ‘wale’ yang artinya ‘rumah’. Tempat dimana pertama kali dorang (mereka) babangun (membangun) akang rumah namun akhirnya sekarang sudah tidak ada (pemukiman Mawale, red),” tuturnya seraya menambahkan, kalau luas tanah Mawale sekitar 25 hektare.

Sementara, menurut Femi Kumokong, penyebutan awal Mawale bukanlah seperti itu. Pertama kali kampung itu diucap dengan kata ‘Umawale’. “Sesuai yang kita baca, pengucapan Mawale itu menggunakan Umawale, cuma sekarang dorang kurang ja bilang Mawale,” beber dia.

Waruga di lokasi kampung tua Mawale yang sudah kehilangan penutup atasnya bahkan isi di dalamnya. (foto: andrey tandiapa)

Waruga di lokasi kampung tua Mawale yang sudah kehilangan penutup atasnya bahkan isi di dalamnya. (foto: andrey tandiapa)

LELUHUR KUMASEH

Arti dari kata Lopana menurut Karundeng adalah ‘rata’. Itu karena struktur tanah  yang ada di sekitar situ  terbilang datar. Masyarakat Desa Lopana meyakini, sejumlah penduduk di pemukiman yang kini mereka tempati, datang dari Mawale dan Tuis. Kemudian bercampur dengan yang tinggal di bagian Desa Pondang. Kini hanya sedikit saja nama para leluhur kampung-kampung itu diketahui warga Desa Lopana.

Diakui Karundeng, tidak semua penduduk Tuis lari ke Mariri. Ada sebagian darinya menetap dan kemudian berpindah ke pemukiman Desa Lopana sekarang ini. “Jadi ada dari Tuis turun dan sebagian Mawale turun (ke Lopana, red), menjadi satu dengan orang-orang yang dari Pondang. Jadi tidak semua penduduk Tuis lari ke Mariri,” ujar Karundeng.

Leluhur pertama kali yang menetap di Lopana adalah Kumaseh. Seorang lelaki yang datang dari bagian Pondang. Dialah menjadi pendiri kampung bahkan hukum tua (kumtua) pertama di desa tersebut. “Jadi sebenarnya, dahulu kampung Lopana ini (lokasi pemukiman Lopana sekarang, red) ditempati penduduk dari Pondang . Karena sebelum jadi kampung, pemukiman Lopana yang sekarang ini adalah tempat barter. Ada yang bawa ikan, ada yang tukar dengan kelapa. Kalau leluhur dari Mawale dan Tuis yang datang kemari sudah tidak tahu namanya. Kumaseh so kurang jadi kumtua pertama di pemukiman Lopana sekarang ini,” katanya.

 “Jadi waktu dorang samua (Mawale, Tuis dan Pondang, red), ja badatang di sini (pemukiman Lopana sekarang, red), dorang kase badiri ini kampung. Batu penanda kampung Lopana masih ada,” urai Karundeng.

  Batu penanda kampung yang ada di Desa Lopana, sudah pernah digeser karena pembangunan jalan. (foto: andrey tandiapa)

Batu penanda kampung yang ada di Desa Lopana, sudah pernah digeser karena pembangunan jalan.  (foto: andrey tandiapa)

Kumaseh kemudian menikah dengan seorang perempuan yang juga berasal dari Pondang. Ketika Kumaseh kawin dengan gadis itu, dirinya memberikan sebagian tanah Lopana ke Pondang. “Makanya batas Lopana sebelumnya ada di Pondang,” ucap dia.

Sesudah kepemimpinan Kumaseh, telah banyak kumtua berganti sampai pada sekarang ini. Bahkan kini, kepemerintahan Lopana sudah terbagi dua yakni Desa Lopana dan Desa Lopana 1 dengan kumtua yang berbeda. “Setelah Kumaseh, ada beberapa juga yang menjadi Kumtua seperti Pua dan Mewengkang. Kumaseh jadi Kumtua di Desa Lopana sekitar 1900-an, sementara masa Tuis dan Mawale sekitar 1800-an. Nanti ketika mereka pindah kemari (Desa Lopana sekarang, red) kemudian masuk 1900-an,” kuncinya. (**)


Komentar