Undangan FGD ‘Perempuan dan Kitab Suci’.

Menyelisik Masalah ‘Perempuan dan Kitab Suci’

  • Hari Ini, ‘Mapatik’ Gelar Focus Group Discussion

Manado, MS

Isu seputar perempuan kembali jadi topik untuk diperbincangkan. Hari ini, Senin (4/8), di Aula Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Komunitas Penulis Muda Minahasa ‘Mapatik’ bakal menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema ‘Perempuan dan Kitab Suci’.

Maksud kegiatan tersebut di antaranya untuk mendapat pengetahuan tentang tafsir apa kata Kitab Suci baik Alkitab, Al'Quran dan Hadis terhadap perempuan. Selain itu juga dalam rangka melakukan sharing wawasan Kitab Suci tentang perempuan. “Juga untuk melakukan refleksi teologis dan dialogis tentang kitab suci mengenai perempuan demi tercapainya keadilan gender dalam masyarakat,” kata Eka Egetan salah satu penyelenggara kegiatan ini, Minggu (3/8), di Kelurahan Kolongan Tomohon.

Director Komunitas ‘Mapatik’, Rikson Karundeng mengungkapkan, kerangka acuan diskusi tersebut adalah dalam rangka pembebasan kaum perempuan. Upaya pembebasan ini dipandang tidak lepas dari ‘kemauan besar’ laki-laki dan perempuan untuk memposisikan diri terhadap ketimpangan gender yang ada dalam masyarakat. “Membebaskan perempuan berarti juga membebaskan laki-laki. Gender berarti karakteristik atau ciri-ciri laki-laki dan perempuan oleh budaya, interpretasi agama, struktur dan politik. Karakteristik atau ciri-ciri ini menciptakan pembedaan antara laki-laki dan perempuan yang disebut pembedaan gender,” ungkap jurnalis ini.

Pembedaan gender menurutnya, mengakibatkan peranan sosial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pembedaan gender ini membuat posisi perempuan lebih rendah dari laki-laki yang sudah dimulai sejak keduanya itu dibesarkan dan cenderung berkelanjutan. “Misalkan sejak masih bayi, anak laki-laki dan perempuan sudah mengalami perawatan dan berbeda,” tutupnya.

Selain hal tersebut, legitimasi agama melalui tafsir terhadap Kitab Suci condong mengarah kepada cara pandang patriarkhi. Kitab suci mempunyai peran yang cukup signifikan dalam proses pembentukan karakter umatnya secara keseluruhan. Cara pandang patriakhi terutama dalam konteks masyarakat hari ini, mau tidak mau menguntungkan pihak laki-laki saja. “Misalnya dalam konteks Indonesia, fenomena peran politik perempuan sangat minim. Masalah yang dihadapi oleh kaum perempuan yakni ada dugaan bahwa di dalam menafsir ‘Kitab Suci’ terutama hak perempuan dalam politik, masih ada diskriminasi dalam arti di sini bahwa masih ada upaya-upaya untuk ‘merumahkan’ kembali perempuan yang sudah ada di publik atas nama agama,” ucapnya lagi.

Sementara, Lefrando Gosal yang juga penyelenggara kegiatan ini menjelaskan, status yang setara bagi perempuan dan peluang-peluang dalam aktivitas-aktivitas sesungguhnya telah mendapat dasar yuridis. Terutama kehadiran Undang-Undang (UU) Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik dan UU No 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. “Ini merupakan perkembangan yang cukup bagi kondisi feminisme di Indonesia. Akan tetapi keterlibatan perempuan dalam dunia politik dengan memberikan kuota 30 persen masih bersifat tidak menguntungkan bagi kaum perempuan atau dengan kata lain bahwa kuota 30 persen perempuan di parlement masih ada pembatasan,” ucap Gosal.

Berdasarkan hal ini maka dipandang penting untuk perlu lagi menafsir apa kata kitab suci tentang perempuan. “Misalkan di dalam PERUATI (Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi) ada program, nama, metode atau perspektif baru membaca Kitab Suci (Alkitab) yakni Membaca Alkitab dengan Mata Baru (MAdMB), lebih banyak menggunakan perspektif perempuan dan gender. Argumentasinya adalah pengalaman perempuan selama tidak dianggap dan menjadi perspektif dan karenanya, perempuan menjadi korban ketidak-adilan gender dalam bebagai aspek,” tandas Gosal seraya menambahkan kegiatan dimulai pukul 14.00 WITA.

Adapun peserta diskusi yang turut diundang dalam kegiatan ini di antaranya, Rusli Umar (Intelektual Muda NU, Ketua GP ANSOR Manado), Taufik Bilfaqih (Akademisi IAIN Manado, Ketua Lesbumi NU Sulut), Asri Rasjid (Ulama Muslim, Ketua Ahlul Bait Indonesia Sulut), Meliza Mamangkey (Aktivis Perempuan, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), Nedine Helena Sulu (Aktivis Perempuan, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), Fredy Wowor (Pegiat Mawale Movement, Pascasarjana Teologi UKIT), Ivan Kaunang (Akademisi UNSRAT, Direktur IKBM), Denni Pinontoan (Teolog, Akademisi UKIT, Pegiat Mawale Movement), Fernando Durant (Pascasarjana Teologi UKIT), Dona Linda Datulangi (Guru Agama, Pascasarjana Teologi UKIT), Debby Momongan (Aktivis Perempuan, Sinode Am Sulutteng), Ahmad Rajafi (Ulama Muslim, Lembaga Batsul Masail NU Sulut), Muhammad Ya'qub S (Ulama, Ahmadiyah Sulut), Siti Wulandari Mamonto (PMII Tondano), Nina Rochmania (PMII Tondano), Ima Umanahu (PMII Tondano), Essy Mamonto (Metanarasi), Yardi Harun (Metanarasi), Ananda Lamadau (Metanarasi), Herki Robot (Metanarasi), Pdt. Augustien Kaunang (Teolog, Akademisi UKIT) Pdt. Richard Siwu (Teolog, Sosiolog, Rektor UKIT), Greenhill Weol (Director Mawale Cultural Center, Pascasarjana Teologi UKIT), Rikson Karundeng (Teolog, Jurnalis, Director Komunitas MAPATIK), Pdt.J.P. Setlight (Akademisi UKIT, Ketua BPD PERUATI Minahasa), Pdt. Marlyn Wongkar (PERUATI) danPdt. Ruth Ketsia Wangkai (Ketua BPP PERUATI). (arfin tompodung)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado