Para Kepsek SMP Negeri di ruangan Komisi D DPRD Manado, belum lama ini.(foto: devy kumaat)

Minim Guru PNS, Sekolah Gunakan Tenaga Honorer

Manado, MS

Efek belum dicabutnya moratorium Pegawai Negeri Sipil (PNS) mulai dirasakan. Di dunia pendidikan khususnya sekolah, kondisi ini sangat dirasakan. Dikhawatirkan, persoalan ini mengancam kualitas serta kuantitas lembaga penyelenggara pendidikan.
Buktinya, dalam tahun terakhir ini para guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah memasuki purnabakti, melejit. Mengantisipasi hal itu, pihak sekolah cenderung menggunakan guru honorer untuk mengisi kekosongan jam belajar.
Reaksi kritis mengalir dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manado. Menyikapi dinamika itu, sejumlah wakil rakyat menyayangkan jika masih banyak guru yang bersatus honor sekolah. Karena secara otomatis, anggaran honornya akan dibebankan pada Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Oleh sebab itu, pihak sekolah bersama Pemerintah Kota (Pemkot) diharapkan bersinergi untuk merubah status guru honorer agar bisa naik berstatus Surat Keputusan (SK) Walikota, agar gaji akan dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
"Kondisi itu sedapatnya dikendalikan oleh daerah saja sehingga kebutuhan sekolah seperti untuk UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) yakni komputer dapat terpenuhi tahun-tahun mendatang," ujar Sekretaris Komisi D DPRD Manado Sonny Lela, Rabu (4/7) kemarin.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Manado Dijana Pakasi menilai, kekurangan guru dialamatkan pada sekolah top yang ada di Kota Manado. Tingginya minat masuk pada sekolah ternama membuat sekolah itu mengalami over capacity. Akibatnya, guru yang terbatas membuat sekolah tersebut kewalahan. "Kemungkinan ini terjadi karena guru ASN kurang sedangkan yang honorer belum mendapat porsi lebih. Tapi itu sebatas dugaan sementara saja jika melihat kondisi di lapangan," kata Wakil Ketua Komisi D Dijana Pakasi, Rabu (4/7) kemarin.
Terpisah, Kepala Sekolah (Kepsek) SMP Negeri 7 Manado Syerly Waworuntu menjelaskan, proses mengajar guru honor di kelas sudah ditentukan. Menurutnya, masing-masing staf diberi waktu mengajar, meski beban kerja tidak melampaui guru ASN. "Di sekolah kami, ada 4 guru honorer dan saat mengajar sesuai kebutuhan di mana itu meliput jam dalam sepekan. Artinya, beda dengan yang lain," ungkapnya.(devy kumaat)


Komentar