Ryamizard Ryacudu

NEGARA JAMIN NATAL SULUT BEBAS TERORIS

Manado, MS

Angin segar menyapa Bumi Nyiur Melambai. Rentetan isu terorisme yang sempat memicu kekhawatiran masyarakat, ditepis. Departemen pertahanan negara menjamin stabilitas keamanan di wilayah Sulawesi Utara (Sulut), khususnya dalam perayaan Natal dan Tahun Baru nanti. Kabar melegakan itu disampaikan Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia (RI) Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu.

"Saya rasa Sulut tak terlalu masalah ya, aman-aman saja," kata Menhan dalam wawancara usai tampil sebagai narasumber pada acara Sarasehan Gebyar Aksi Bela Negara Nasional di Gedung Wale Ne Tou Tondano, Kabupaten Minahasa, Senin (11/12) kemarin.

Pernyataan itu dilontar Ryacudu saat ditanya terkait pengamanan dari Kementerian Pertahanan di wilayah Sulut untuk mengantisipasi terorisme, khususnya menjelang Natal.

"Saya sudah keliling di Marawi, apa segala macam, tidak ada masalah," tambah orang nomor satu di Departemen Pertahanan Negara itu.

Sebagai salah satu wilayah perbatasan, Sulut memang santer diisukan sebagai jalur keluar masuk teroris yang bermarkas di negara tetangga. Seperti pada akhir Agustus 2017 silam, heboh soal teroris kembali menyeruak saat aparat berhasil meringkus seorang Warga Negara Asing (WNA) berkebangsaan Filipina yang kedapatan memiliki senjata api.

Peristiwa itu sempat memunculkan spekulasi banyak pihak bahwa jaringan radikal Maute Filipina yang berafiliasi dengan State of Iraq and Syria (ISIS) mulai menyusup ke jazirah utara Selebes. Imbasnya, masyarakat dibuat resah. Banyak yang dilanda kecemasan akan hadirnya aksi-aksi teror khususnya menjelang perayaan Natal.

 

MEGA: KEKELUARGAAN KUNCI NEGARA KUAT

Tak hanya soal terorisme saja, isu konflik radikalisme yang sering membelenggu kesatuan bangsa dibahas dalam acara Sarasehan Gebyar Aksi Bela Negara Nasional di Gedung Wale Ne Tou Tondano. Megawati Soekarno Putri selaku Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKPPIP) menyebut bahwa negara kuat karena adanya kebersamaan dan kekeluargaan antara seluruh elemen bangsa yang plural.

"Keluarga itu yang paling kecil dari kelompok kehidupan masyarakat ini, tapi kekeluargaanlah yang bisa membuat suatu negara kuat untuk menangkal setiap aksi terorisme, radikalisme dan berbagai gerakan yang bertujuan memecahbela persatuan bangsa," sebut Megawati.

Sulawesi Utara disebutnya harus berbangga karena jadi tuan rumah acara nasional Bela Negara. Untuk itu, Presiden RI ke-5 itu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih melekatkan lagi semangat gotong royong, sebab hal itu disebut bisa memperkuat semangat bela negara.

"Mari kita lekatkan gotong royong dalam memperkuat semangat bela negara," kata Mega, sapaan akrabnya.

Gotong royong bagi dia adalah budaya bangsa yang tidak membeda-bedakan satu sama lain. Sebab konflik seperti aksi terorisme atau radikalisme terjadi karena tidak kuatnya budaya dan gotong royong.

"Jadikanlah Pancasila sebagai alat perekat dan dasar negara. Itulah bagian kita dalam bela negara, bukan hanya sekedar seminar dan diskusi saja," jelas putri Presiden RI pertama, Soekarno itu.

Senada diungkap Gubernur Sulut Olly Dondokambey. Pentingnya menanamkan rasa cinta Pancasila dinilai jadi alasan diselenggarakannya program Bela Negara.

"Kenapa sekarang ada bela negara, itu muncul dari kementerian pertahanan agar masyarakat memahami program ini. Kita paham di era milenial ini, Pancasila sudah mulai hilang dari pendidikan. Butuh semangat bela negara untuk kembali membangkitkan kecintaan terhadap Pancasila," ujar Olly.


KAPOLRI INSTRUKSIKAN BERSIHKAN PREMAN

Sejalan dengan pernyataan Menteri Pertahanan Indonesia, Ryamizard Ryacudu, Polri pun siap menghalau segala bentuk aksi terorisme dan tindakan kriminal di penghujung tahun 2017 ini. Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2018, Polri tingkatkan pengamanan melalui Operasi Lilin. Langkah itu untuk mencegah  tindak terorisme, aksi mafia sembako, kemacetan lalu lintas, kejahatan jalanan, hingga aksi premanisme.

Malah Kapolri Jenderal Tito Karnavian menginstruksikan seluruh jajarannya untuk membasmi preman-preman yang kerap mengganggu keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.

Tak hanya itu, Kapolri pun memastikan pejabat polisi wilayah setempat yang tak mampu memberantas preman, akan dicopot dari jabatannya. "Yang nggak bisa bersihkan (preman), ya saya copot," tegas Tito di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pekan lalu.

Menurutnya, ada berbagai jenis preman yang meresahkan masyarakat. Seperti tukang todong, copet, jambret, tukang bius, tukang buat onar, dan kriminal konvensional lainnya. Calo juga termasuk. "Itu perintah saya. Bersihkan pelabuhan, bandara, stasiun dari calo, kemudian dari copet, jambret, tukang todong, tukang bius, dan segala macam tindak premanisme yang meresahkan dan mengancam masyarakat. Bersihkan!" perintahnya.

Tito menyatakan sudah mengumpulkan semua kepala kepolisian daerah se-Indonesia. “Segala kerawanan harus diantisipasi untuk melewati pergantian tahun dengan aman,” lugasnya lagi.

Tak hanya itu, oknum atau kelompok masyarakat dilarang melakukan razia (sweeping) di malam perayaan Tahun Baru 2018. Alasannya, Indonesia adalah negara yang menghargai keberagaman. "Pengamanan juga di kegiatan-kegiatan keagamaan. Ini negara Bhinneka Tunggal Ika, negara yang menghargai keberagaman. Ini juga sama, tidak boleh ada sweeping segala macam," tegasnya.

Pelarangan sweeping tak akan dilakukan dengan cara represif. Tito memerintahkan para polisi mengedepankan cara-cara persuasif.  Namun, jika terjadi pelanggaran, tetaplah harus ditegasi. "Lakukan dengan cara-cara soft, pendekatan ke semua tokoh. Kalau ada yang melanggar, lakukan penegakan hukum," tandasnya.


POLDA SULUT JALANKAN INSTRUKSI KAPOLRI

Instruksi Kapolri siap dijalankan jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Sulut. Penegasan itu dilontarkan Kapolda melalui Kabid Humas Kombes Pol Ibrahim Tompo.

Menurutnya, Polda Sulut sendiri akan tetap maksimal untuk menjaga kamtibmas. Terutama di momen perayaan Natal dan Tahun Baru.

“Kita sependapat dengan apa yang disampaikan Menteri Pertahanan. Dalam hal keamanan, kita akan berupaya semaksimal mungkin. Karena untuk menciptkan keamanan, kontribusi semua lini dibutuhkan. Harapanya masyarakat bisa hidup tentram dengan tertibnya lingkungan,” aku Tompo, Senin (11/12).

Segala bentuk premanisme dan tindakan kriminal lain, akan ditindak tegas sehingga instruksi Kapolri bisa diamankan secara maksimal.

"Keamanan natal, aman. Sampai saat ini tidak ada indikator yang menunjukkan gangguan kamtibmas yang signifikan. Sebelumnya kita sudah membuat operasi cipta kondisi dan operasi pekat. Namun jelang Natal kita akan membuat operasi kembali," jelasnya.

 

SULUT JANGAN LENGAH

Jaminan lembaga yang bertanggungjawab terhadap keamanan negara soal keamanan di Sulut saat perayaan Natal dan Tahun Baru, jangan meninabobokan. Warning itu ditegaskan tokoh pemuda Sulut, Nedine Sulu.

“Jaminan keamanan yang diberikan Menhan dan Kapolda Sulut jangan membuat kita lengah. Karena kejahatan apapun berpotensi terjadi di Sulut kapan saja,” pinta Sulu.

Masyarakat Sulut harus tetap waspada dan proaktif untuk terlibat dalam usaha menjaga keamanan dan kedamaian di bumi nyiur melambai. “Jangan juga kita lepas semuanya ke aparat keamanan. Sebab peran masyarakat sangat penting. Mari kita saling bahu membahu untuk menjaga keamanan daerah kita. Contoh kecil, hindari ujaran kebencian di media sosial,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan wakil rakyat Sulut, Kristovorus Deky Palinggi. Ancaman terorisme tetap mengintai perayaan Natal. Langkah pengamanan Polri pun kencang diserukan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut juga ikut mendorong keterlibatan seluruh stakeholder keamanan agar bersatu. 

Pihak pemerintah, aparat kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) diharapkan bisa bekerjasama dalam memperketat pengamanan. Apalagi kondisi dunia yang dinilai lagi bergoyang pasca keputusan Presiden Amerika Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

“Ini harus ada perhatian serius kepolisian. Utamanya mencegah terjadi provokasi antara sesama kita di Indonesia, khusunya di Sulut,” tutur Wakil Ketua Komisi I DPRD Sulut ini, Senin (11/12).

 

Ia mengungkapkan, meski Sulut dikenal daerah yang rukun namun antisipasi keamanan mutlak harus dilakukan. Tak hanya aparat kepolisian dan TNI, masyarakat pun diajak untuk bersama-sama menjaga stabilitas keamanan di daerah ini.

“Karena kita tahu dalam tradisi di Sulut setiap perayaan Natal yang menjaga itu bukan hanya aparat kepolisian melainkan juga umat beragama Muslim. Tradisi yang baik ini harus dipertahankan. Perlu juga ada peran dari FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) dan BKSAUA (Badan Kerjasama Antar Umat Beragama), lembaga-lembaga sosial lainnya,” tegasnya.

Peran organisasi masyarakat (Ormas) yang ada di Sulut juga ikut didorong legislator daerah pemilihan Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara itu. Mereka disebutnya sebagai ujung tombak pengamanan di Sulut.

“Ormas-ormas juga sangat membantu. Baik ormas kepemudaan, ormas keagamaan maupun ormas adat. Supaya di waktu perayaan Natal, bisa berjalan dengan baik seperti biasanya,” pungkasnya. (tim ms)

 


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.