WASPADA. Peredaran obat kedaluwarsa telah menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Inzet dr Ria Papalapu MKes. (Foti.Ist)

Obat Kedaluwarsa Teror Siau

Keterbatasan Informasi, Kesehatan Masyarakat Terancam

 

Oleh: Haman PALANDUNG

WILAYAH kepulauan kerap menjadi sasaran tindakan melawan hukum. Akses terbatas diiringi pengetahuan masyarakat yang cenderung masih kurang, memicu sederet persoalan. Sebut saja peredaran obat yang sudah habis jangka waktunya atau kedaluwarsa.

Seperti yang terjadi di wilayah Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro. Belakangan, daerah yang dijuluki Negeri Pala ini digemparkan dengan maraknya peredaran obat kedaluwarsa. Itu ditemukan di warung-warung kecil. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat menjadi resah. Desakan inspeksi dari pihak terkait termasuk pemerintah dan aparat penegak hukum, lantang dikumandangkan.

Warga Kampung Sawang, Kecamatan Siau Timur Selatan Santy Sarame, mengaku khawatir jika kejadian tersebut terjadi di Sitaro. "Karena keterbatasan pengetahuan pemilik warung, bisa jadi dimanfaatkan oknum distributor obat yang tidak bertanggung jawab menjual obat kedaluwarsa. Jika ini terjadi, nantinya yang menjadi korban adalah masyarakat," terang Santy, Senin (13/11).

"Apalagi di sini, jarang dilakukan pemeriksaan obat di warung-warung oleh dinas terkait. Saya harap, hal seperti ini dapat diperhatikan, jangan sampai lalai. Lebih baik mencegah, jangan nanti sudah ada korban lalu diobati," tambah dia.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepulauan Sitaro, dr Ria Papalapu MKes, mengakui keterbatasan akses dan sarana pendukung menjadikan Sitaro rawan peredaran obat palsu.

"Sebab Kabupaten Kepulauan Sitaro, tidak hanya di Siau saja. Tapi meliputi Kepulauan Tagulandang dan Biaro. Hal ini menjadi kendala sebab pemeriksaan warung yang menjual obat akan memakan waktu lama," ungkapnya.

Ia pun mengimbau agar masyarakat untuk tidak sembarangan mengkonsumsi dan membeli obat. Menurut dia, ada baiknya membeli obat di Apotek. Namun, jika memang sudah terdesak, masyarakat harus teliti dengan memeriksa tanggal kedaluwarsa serta kemasan obat, apakah masih bagus atau tidak. ”Jika menemukan kejanggalan, disarankan untuk tidak membeli dan segera dilaporkan kepada pemerintah setempat untuk ditindaklanjuti," ujarnya.

Pengamat pemerintahan, Rolly Toreh mendesak, pemerintah provinsi dan kabupaten untuk segera turun tangan menyikapi persoalan ini. Menurut dia, penggunaan obat kedaluwarsa akan berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. “Ini membutuhkan perhatian semua pihak. Kami berharap, BBPOM (Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan) Manado untuk turun ke wilayah Siau. Semakin cepat semakin bagus supaya tidak ada korban,” tandas Rolly. Selanjutnya, pengawasan optimal dari Dinas Kesehatan di Kabupaten Kepulauan Sitaro. “Jika tidak dilakukan pengawasan maka itu akan membahayakan warga. Minimal setiap tiga bulan turun memantau perdagagan obat baik di apotek maupun warung-warung. Dengan begitu, kekhawatiran masyarakat akan hilang soal peredaran obat kedaluwarsa ini,” kunci dia.(**)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado