Ilustrasi tarian Kawasaran dari Minahasa. (Insert: Fanny Legoh)

Ormas Adat Merebak, Deprov Ingatkan Susupan ‘Kepentingan’

Pertumbuhan Masyarakat Sadar Budaya Meningkat

 

Laporan: Arfin Tompodung

Eksistensi masyarakat yang sadar atas adat dan budayanya di tanah Minahasa, dinilai makin meninggi. Fenomena itu nampak ketika banyaknya organisasi masyarakat (Ormas) adat yang bermunculan. Penghuni gedung cengkih ikut beri support. Meski begitu, kelompok-kelompok ini diminta mawas. Jangan sampai ditunggangi kepentingan negatif oknum-oknum tertentu.   

Kian menjamurnya Ormas adat dan budaya di Tanah Toar Lumimuut ini, diapresiasi legislator Sulawesi Utara (Sulut), Fanny Legoh. Ia mendukung kelompok-kelomok yang mengangkat nilai-nilai lokal kedaerahan di  Bumi Nyiur Melambai. “Kebangkitan Ormas-Ormas adat dan budaya itu harus kita apresiasi. Ini pertanda ada perkembangan kesadaran masyarakat untuk melestarikan adat dan budayanya sendiri,” kata Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut itu, baru-baru ini, di kantor dewan Sulut.

“Sekarang kalau saya lihat, kelompok-kelompok Kawasaran sudah banyak. Ada tarian-tarian yang dahulunya belum pernah ditampilkan sekarang sudah mulai muncul,” tambah legislator yang giat mengangkat kebudayaan itu.

Walaupun demikian, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini mengingatkan, agar  setiap Ormas adat dapat waspada. Jangan sampai semangat melestarikan kebudayaan dimasuki kepentingan. Kecintaan dan ketulusun mengangkat budaya daerah harus terus dipelihara. “Hanya saja, jangan sampai itu kemudian dibawa ke kepentingan-kepentingan tertentu atau ditunggangi,” kuncinya.

Senada diungkap pegiat budaya, Andrey Tandiapa. Bagi dia, pelestarian adat dan budaya baiklah dinyatakan dalam kesungguhan untuk mengangkat nilai-nilai warisan leluhur. “Semakin banyaknya kelompok-kelompok adat/budaya sekarang ini harus didukung. Tapi perlu hati-hati jangan kemudian ada yang ‘dipolitisir’ atau ditunggangi oknum tertentu,” tukasnya, Kamis (16/3) kemarin.

Diketahui sebelumnya, dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemerintah Provinsi Sulut, sempat menegaskan untuk memverifikasi kembali Ormas yang ada di Sulut. Kepala Badan (Kaban) Kesbangpol Sulut, Evans Steven Liow telah menjelaskan, data yang dikantongi Januari lalu, di Sulut ada 200-an Ormas. Namun yang terlihat ‘jelas’, angkanya jauh lebih kecil dari itu. Ia pernah menyampaikan akan mengklasifikasi juga Ormas adat di Sulut. “Begitu juga dengan ormas adat, kita akan bikin klasifikasi sendiri,” jelas Liow di awal Januari 2017 lalu.

Ia pun berharap, ke depan tidak ada lagi kisruh ormas adat. “Kita menyampaikan ke kabupaten dan kota. Contoh Minahasa, Pak Gubernur minta duduk bersama dengan Minut, Bitung, Manado, Minsel, Mitra, Tomohon, untuk lembaga adatnya apa? Jangan samua bilang kita mewakili lembaga adat Minahasa, lembaga adat Minahasa mana dulu? Samua bilang tonaas, tonaas mana dulu? Kita berharap ini bisa diluruskan,” ujar Liow. (*)

 

 

 

Banner Media Sulut

Komentar