Suasana saat pelaksanaan ritual Sumolo.

Pahumungen ne Waraney dan Ritual Sumolo


‘Tempat Kumpul Aman Serta Nyaman’

 

Manado, MS

Pahumungen ne Waraney nama tempat itu. Adalah sebuah wadah bertemu yang dibangun pegiat budaya Rinto Taroreh pada rumahnya di Desa Warembungan, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa.

Pahumungan ne Waraney terdiri dari dua  bagian. Tempat  pertama berada di posisi bawah, sebagai penyimpanan pakaian serta perlengkapan tari Kawasaran. Di dalamnya ditata seperti galeri. Ruangan dicat merah, dipadukan dengan simbol-simbol tua Minahasa. Dipajang juga buku-buku bacaan bahkan koleksi foto Minahasa. 


Sedangkan bagian kedua ada di atasnya. Tempat itu dibangun layaknya pondok atau ‘sabuah’ dalam sebutan Minahasa. Dindingnya dari bambu dan beratapkan ‘katu’. Nuansanya terasa seperti di kebun. Di dalamnya berisi mesin jahit karena di situ khusus untuk pembuatan pakaian Kawasaran. “Jadi ‘pahumungan’ diambil dari bahasa setempat (Warembungan, red). Kata itu dipakai juga saat mendirikan kampung Warembungan. Pahumungen berarti tempat berkumpul waraney yang aman dan nyaman. Itu ada bilangannya bahwa tempat ini untuk berbagi pengetahuan. Kalau tempat berbagi pengetahuan itu nyaman maka pengetahuan lebih gampang untuk dicerna,” kata Rinto Taroreh saat wartawan harian ini, berkunjung ke rumahnya, Senin (14/8) lalu.

 “Ruangan tersebut sengaja dikemas seperti galeri karena image masyarakat sekarang tentang Kawasaran itu menakutkan. Makanya, setelah kita masuk pada ruangan bawah itu terasa nyaman,” sambung penggerak kelompok Kawasaran Waraney Wuaya itu.

Minggu (13/8) lalu, ‘Pahumungen ne Waraney’ baru saja diresmikan. Penahbisan untuk membuka tempat ini, digelar dalam bentuk upacara adat Minahasa yang disebut ‘Sumolo’.  Ritual adat Minahasa itu, dipimpin Anton Sulu (70-an), seorang imam atau wailan dari Kelurahan Kakaskasen Tomohon yang masih terikat keluarga dengan tuan rumah. “Jadi karena kita di sini ‘makawale’ berarti kita yang mengundang maka yang harus memimpinnya tonaas atau wailan lain, etikanya memang begitu,” jelas Rinto.


Upacara adat ‘Sumolo’ artinya untuk memasang lampu atau pasang api. Selama 3 hari apinya tidak bisa dipadamkan. Api adalah simbol kehidupan. “Itu bermakna, di tempat tersebut sudah mulai ada aktifitas yang baru,” tambah Rinto.

Ritual Sumolo ini terdiri dari beberapa bagian. Pertama kali dimulai dengan meminta kepada Empung Wailan Wangko atau Tuhan Yang Maha Kuasa. “Jadi pertama itu ‘mengalei’ atau meminta petunjuk Empung Wailan Wangko. Itu dimulai dari atas sini (pondok, red). Kemudian dilanjutkan dengan ‘mangorai’. Itu semacam kidung-kidung pujian, jadi meminta kepada ‘Yang di Atas’ dengan nyanyian,” ungkapnya.

Saat ‘mangorai’ diundang pula ‘tua-tua’ untuk hadir. ‘Orangtua’ kemudian akan memberikan petunjuk.  “Mungkin ada yang salah atau seperti apa, bagaimana dia punya ke depan nanti tempat ini. Setelah itu ada kurban persembahan berupa ayam. Itu dikhususkan. Jadi waktu itu turun di bawah. Kalau dalam istilah Minahasa disebut ‘Rumages’. Darah ditaruh di tiang-tiang kemudian dibuat melingkar. Ini tanda pengorbanan kepada ‘Yang di Atas’. Dari bawah kemudian balik kembali di sini (Pahumungen bagian atas, red),” tutur Taroreh.

Setelah memasuki malam, lampu kemudian dipasang.  Lampu itulah yang tidak boleh dipadamkan selama 3 hari. “Jadi acara itu dari sore sampai malam, mulai sekitar jam 4 sore. Setelah pasang lampu, ada nyanyian-nyanyian kidung waraney. Dipimpin Angki Woseke dari Wailan Tomohon. Dia membawakan doa ‘mazani’ atau nyanyian kidung-kidung pujian orangtua,” ucapnya.

Kemudian ada nasihat-nasihat menggunakan bahasa Tombulu dan dilanjutkan dengan makan bersama di daun ‘laikit’. Acara paling terakhir adalah ‘rumamba’. “Dari awal dan akhir diiringi tarian Kawasaran. Jadi ‘rumamba’ salah satu bagian dari ‘sumolo’. Rumamba hiburan terakhir dan sekaligus mengusir sesuatu yang tidak baik di tempat itu dan menguji tempatnya,” papar Taroreh.

“Harapannya, tempat ini jadi ‘papendangan’, ‘paayoan’ atau rumah belajar bersama. Kalau di tempat ini akan belajar akan lebih fokus. Aktivitas di tempat ini khusus untuk diskusi budaya,” tutupnya. (arfin tompodung)

Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.

Manado