‘PEMBULLY’ OD-SK AKAN DIPOLISIKAN

Manado, MS

Polemik kunjungan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), Fahri Hamzah ke Sulawesi Utara (Sulut), kans berbuntut panjang. Cibiran, cercaan dan hujatan warga terhadap Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur, Steven Kandouw (OD-SK), di media sosial (medsos), berpotensi digugat secara hukum.

Ancaman itu, disinyalir dilayangkan juru bicara (jubir) Gubernur Olly Dondokambey, Bidang Media Massa, Victor Rarung (VR),  lewat akun Facebook (FB) pribadinya, Minggu (14/5) kemarin. Itu menyusul maraknya kicauan bully serta hate speech (ujaran kebencian) terhadap OD-SK di medsos, pasca Fahri Hamzah diterima oleh orang nomor satu dan nomor dua di Bumi Nyiur Melambai tersebut.

Dalam kicauan yang ditengarai berasal dari FB pribadinya, VR menyebut pihaknya telah mengumpulkan semua bukti di medsos yang berisi hate speech terhadap OD-SK. Dan siap melaporkannya ke aparat hukum. “Semua status di medsos, FB twitter, Path sejak kemarin sampai hari ini tim kami sudah menyimpan akun2 yang melakukan makian dan hinan ke pemerintah provinsi sulut, gubernur dan wagub sulut. sesusi uu ite telah terjadi pelanggaran serius terhadap kewibaan pemerintah provinsi sulut, gub dan wagub. besok lapporan segera dilaporkan ke polda sulut.cc ,mabes polri. cq kapolri,” tulis akun FB yang menggunakan nama Victor Rarung.

Warning VR yang kini menjadi viral di medsos itu, menuai reaksi tajam dari berbagai elemen warga Sulut. Nada kritis dan sikap perlawanan netizen datang bersahut-sahutan. Termasuk dari orang-orang dilingkaran OD-SK.

Mayoritas tidak sependapat dengan ancaman yang diduga berasal dari FB juru bicara OD tersebut. Ketua Fraksi PDIP di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut, Teddy Kumaat, ikut angkat suara.

Politisi Moncong Putih menegaskan, ancaman yang ditulis VR lewat FB itu, disebut bukan atas arahan dari Gubernur OD, melainkan inisiatif pribadi dari VR. “Itu bukan petunjuk Pak Gubernur, tapi inisiatifnya (VR, red) sendiri,” ketus Kumaat.

“Kami sudah menegurnya dan meminta untuk menghapus postingan itu. Dan dia (VR, red) sudah melakukannya (menghapus, red),” sambung mantan Wakil Walikota Manado itu.

Teguran itu, lanjut Kumaat disampaikan tak lama setelah VR memposting tulisan yang berisi ancaman di akun FB miliknya tersebut. “Kami sebenarnya sudah cepat memberitahukan kepadanya (VR, red), tetapi mungkin sudah terlanjur disebarkan oleh pengguna media sosial lainnya,” terang mantan wakil Wali Kota Manado itu. 

“Sekali lagi, kami tegaskan Pak Gubernur tidak pernah memberi petunjuk atau arahan seperti itu (Melaporkan warganya yang melakukan  hate speech di medsos,red),” tandasnya.

Sementara dari pantauan harian ini, tulisan ancaman yang diduga dari akun FB milik VR tersebut, telah hilang. Diduga telah dihapus oleh sang pemiliknya.

Viktor Rarung sendiri saat coba dikonfirmasi sulit dihubungi. Sosok yang biasanya selalu berada di Kantor Gubernur mendampingi OD, Senin (15/5) kemarin, tak terlihat. Nomor handphone yang juga bisa dipakai, lagi tidak aktif.

Menariknya muncul pula broadcast tentang kesiapan dari sejumlah pengacara  yang siap mengadvokasi secara sukarela bagi masyarakat yang diancam akan dilaporkan ke aparat kepolisian tersebut.

Diketahui, bully hingga hate speech yang mengarah ke OD-SK, menghujani medsos, mulai Sabtu (13/5) hingga Minggu (14/5). Itu diakibatkan keputusan OD-SK untuk menerima kehadiran Fahri Hamzah yang datang dengan kapasitas Wakil Ketua DPR RI.

Disatu pihak kelompok massa menolak kedatangan Fahri. Bahkan massa sampai melakukan unjuk rasa hingga ke bandara Sam Ratulangi Manado.  Sosok yang dicap intoleran serta kontra terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu, dinilai tak pantas diterima di Sulut.

Meski begitu, Gubernur dan Wagub sulit memenuhi aspirasi warga, karena sesuai protap, Gubernur sebagai kepala daerah harus menyambut Fahri karena status kunjungannya sebagai pejabat negara. Tak ayal sempat terjadi aksi saling dorong dan nyaris berujung bentrok  antara massa pendemo dengan aparat keamanan di depan kantor Gubernur.

Massa meminta Fahri yang tengah berada di Kantor Gubernur, untuk dipulangkan. Suasana berubah kondusif ketika massa mengetahui Fahri diantar ke bandara Sam Ratulangi dan meninggalkan Sulut.

 

ISU MENGGUNTING DALAM LIPATAN MENGENCANG

‘Serangan’ bertubi-tubi lewat medsos dan pembentukan opini publik negatif yang kini mendera Olly Dondokambey (OD), tuai keprihatinan dari sederet militan Moncong Putih. Ketua DPD PDIP Sulut itu dinilai mulai ditinggalkan orang-orang dekatnya.

Sindiran tajam itu didendangkan Paul Adrian Sembel (PAS), lewat akun FB pribadinya. Ia menilai ada oknum-oknum di lingkaran OD, yang mulai menjauh dan menjaga jarak. “Torang pe Gub deng Wagub dorang so mulai serang-serang . Begitu no tu resiko jadi orang politik, apalagi so jadi pemimpin. Mar kita lia ini so berlebihan no.  Kita lia ini sagala putar bale (isu) yang berkembang. Dapa lia ada yang mulai ba jaoh tidak setia deng so ba jaga jarak. Kong rupa nda parduli dorang pe bos (OD, red) orang laeng so goyang-goyang,” tulisnya dalam logat Manado.

Ia pun menyebut ada benalu yang menempel ke OD. “Dari pertama kwa kita memang so lia, disekitar pa bos banyak penikmat, penjilat yang 'batempel' sama deng benalu. Cuma suka dia pe manis, cari-cari fasilitas, jabatan, deng proyek. Giliran bos 'diserang' dorang nda siap jadi pelindung, mengawal apalagi gentle mau bersikap tameng,” sambung mantan legislator Tomohon dari Fraksi PDIP itu.

Sosok yang dikenal vocal itu pun ikut mengkritisi pejabat di pemerintahan OD-SK maupun elit di PDIP. “Di pemerintahan banyak ni pejabat-pejabat, di partai banyak pimpinan elite. Kong ada dimana ngoni? Bicara kwa beking pencerahan dank toch? Konk dank, makan gaji buta? Kita pe hati so grel (hatiku memang terusik). Kong ngoni pe karja apa dang?  Mengklarifikasi saja nda, apalagi harus memposisikan diri sebagai thin-thank (pemikir),” tulisnya lagi.

“Pancuri tulang dang. Ini loyalis-loyalis semu so mulai ja dapa lia.  Sebelum terlambat memang so musti evaluasi kwa dari skarang. jangan ni 'duri' jadi abses. Sebab kalo so infeksi alias 'ba nana', somo lebe parah toh? Istilah orang pande, dia meramba kejaringan yg lain sehingga merusak system,” sembur PAS.

Sebagai kader PDIP, ia pun mengaku memiliki pengalaman seperti itu.  “Kita kwa so banyak pengalaman soal bagini. Orang jago bilang, dalam istilah politik dapa lia ada yang 'menggunting dalam lipatan' stouw kang,” kuncinya.

Kritik PAS terhadap sesama kader dan pejabat di pemerintahan OD SK tergolong cukup sukses. Itu menyusul berbondong-bondongnya kader PDIP dan pejabat teras di Pemprov Sulut, mengganti profil di medsos dengan foto pasangan OD-SK. Malah tak sedikit kader maupun pejabat yang mulai intens melakukan pencerahan dan klarifikasi atas kehadiran Fahri Hamzah. Malah ada yang kembali mengingatkan program brilian yang sudah dan tengah dijalankan OD-SK untuk kepentingan masyarakat Sulut.

 

SARAN GUNAKAN RUANG DIALOG

Sikap represif yang coba dipertontonkan juru bicara (jubir) Gubernur Olly Dondokambey Bidang Media Massa, Victor Rarung (VR),  terhadap masyarakat yang melakukan hate speech kepada OD-SK, dinilai kurang pas.

Berbagai saran konstruktif pun dilantunkan sejumlah pemerhati. Salah satunya datang dari Andry Harits Umboh. Mantan Legistator Minsel dari Fraksi PDIP itu, menyarankan agar penyelesaian persoalan dilakukan lewat dialog.

Saran terbuka itu disampaikan lewat akun FB pribadinya dan ditempel di dinding pribadi FB Victor Rarung. “Dear rekan Viktor Rarung. Saya tahu bung sangat dekat dengan Pemprov saat ini, khususnya Pak Gub dan Wagub, izin memberikan masukan. Menurut saya, alangkah lebih elok dan elegannya kalau para pemilik akun tsb, daripada dipolisikan, diundang saja ke Gedung Manguni, dan diberikan kesempatan seluas luasnya untuk berdialog dgn Gub dan Wagub,” tulisnya.

Ia sadari Pemprov ingin memberikan efek jera kepada pada  akun tersebut.  Namun hal itu dianggap tak efektif, bahkan cenderung mengekalkan rasa pahit. “Sebab  akun-akun  tersebut  dalam konteks tersebut (yang menyampaikan hate speech kepada OD-SK, red) dapat dikatakan murni beremosi ria karena kekecewaan yg sangat mendalam,” terangnya.

“Jadi, sekali lagi, ini hanya sebatas saran, sebaiknya mereka diundang untuk berdialog. Toh dalam konteks sosial pemerintahan, mereka juga adalah sahabat-sahabat dan mitra kerja dari Pemprov,” sambungnya.

Forum dialog dinilai dapat digunakan oleh Pemprov untuk mengklarifikasi sejelas jelasnya dan berkomitmen untuk membangun Sulut ke depan. Ia berharap saran itu dapat diteruskan kepada Gubernur dan Wagub.

Tanggapan serupa datang dari Taufik Tumbelaka, pemerhati politik pemerintahan Sulut. Ruang dialog dinilai merupakan suatu solusi yang terbaik untuk menyelesaikan dinamika tersebut. “Di Sulut dari dulunya sudah terbiasa melakukan penyelesaian masalah lewat dialog. Ada semboyan dulu yang menyebut, tidak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan di meja makan. Itu ciri khas kita (Sulut,red),” terang jebolan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tersebut.

Pun begitu, Bang Taufik sapaan akrabnya, menyarankan VR untuk memberikan klarifikasi. Apa benar itu tulisannya dan FB miliknya. “Kalau memang benar FB miliknya dan tulisannya, harus  diberi penjelasan, apa itu atas inisiatif sendiri atau ada arahan dari pimpinan. Supaya tidak,” ujarnya.

Peristiwa ini pun dinilai jadi catatan penting bagi orang dilingkaran OD. Khususnya yang ada di ring 1. “Mestinya orang dilingkaran OD, harus lebih tahu menahan diri. Kalau tidak bisa menjadi pereda masalah, sebaiknya tidak melakukan tindakan yang akan menambah panas suasana,” tanggap Putra Gubernur Pertama Sulut itu.

“Artinya orang terdekat Olly, mestinya mampu menyesuaikan dengan pola pikir Olly.  Setahu saya Olly itu selalu mengedepankan dialog, sebagaimana juga dengan partainya yang dikenal sebagai partai yang demokratis dan memihak kepada wong cilik,” tandasnya.

 

OD ‘MENTAHKAN’ ANCAMAN VR, POLISI BELUM TERIMA LAPORAN

Sejumlah ‘serangan’ menyasar Gubernur Olly Dondokambey di medsos. Gubernur pun menampik akan melakukan langkah hukum terhadap pihak-pihak yang menyerangnya di medsos.  Termasuk menepis kicauan juru bicaranya, Victor Rarung (VR) di FB,  yang sempat mengancam akan menggugat hukum warga yang melakukan hate speech terhadap OD.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Olly Dondokambey, ketika dikonfirmasi Senin (15/5) kemarin. “Tidak ada niat saya untuk menuntut ke ranah hukum. Termasuk bagi mereka para penyebar informasi hoax/tidak benar di medsos. Karena yang saya tahu orang yang membuat hoax kepada saya, dia belum tahu apa yang dia buat. Kalau dia sudah tahu itu salah yang dia perbuat, dia akan berdoa dan meminta maaf kepada Tuhan," ucap Gubernur.

 

Sebelumnya, ketika postingan bernada ancaman dengan akun Victor  Rarung beredar di medsos, Minggu (14/5), Media Sulut sudah coba mengontak staf pribadi Gubernur Olly Dondokambey tersebut namun hp-nya dalam keadaan tidak aktif. Demikian juga kontak WA-nya.

 

Ditempat terpisah, Kabid Humasnya Kombes Pol Ibrahim Tompo, ketika dikonfirmasi harian ini, Senin kemarin mengaku belum menerima informasi adanya laporan pelanggaran UU IT dari pihak Gubernur maupun Wakil Gubernur Sulut.

"Saya belum menerima info seperti itu. Nanti kita cek besok (hari ini, red) ya, di bagian Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT)," singkatTompo.

Senada disampaikan Kapolresta Manado, Kombes Pol Hisar Siallagan. Mantan Kapolres Bolmong mengaku belum menerima laporan tersebut. "Saya belum menerimanya," tutup Pati berdarah Batak itu.

Diketahui dalam postingan yang diduga dari akun VR, menyebut akun-akun warga Sulut yang melakukan makian dan hinaan ke pemerintah Provinsi Sulut, Gubernur dan Wagub Sulut sedianya akan dilaporkan ke aparat kepolisian, Senin hari ini. (tim ms)

 

Banner Media Sulut

Komentar