Para personil ISBIM yang dimotori Achi Breyvi Talanggai bersama sejumlah seniman, pecinta seni di Sulut usai pertunjukan digelar.


Pemerintah dan Aktivis Nasi Bungkus Dihantam ISBIM

  • Dari 'Nyanyian Kemerdekaan' Hingga 'Tumbal Itu Belum Mati' 

Kreativitas seniman sastra Bumi Nyiur Melambai kembali tersaji di panggung Balai Bahasa Sulawesi Utara. Kali ini giliran Institut Seni Budaya Independen Manado (ISBIM) unjuk gigi. 'Nyanyian Kemerdekaan' dan 'Tumbal Itu Belum Mati' jadi penggebrak. Ledakan apresiasi pun mengalir deras.

Seniman, Budayawan hingga masyarakat umum tupah ruah dalam Aula Balai Bahasa Sulut, Sabtu (29/7). Menikmati  pembacaan puisi, eksperimental puisi, musikalisasi puisi dan pentas menolong yang disajikan para seniman dari rumah ISBIM yang dimotori kreator handal, Achi Breyvi Talanggai.

"Karya 'Tumbal itu belum mati' sisi lain seorang Wijhi Tukul ketika dia berkontemplasi tentang apa yang ia lewati sebagai seorang penyair demonstran," kata Achi Breyvi Talanggai, menjelaskan karyanya yang dilakonkan Marcelino 'Koko' Silouw-aktor yang terlihat cukup mengocok emosi penonton malam itu.

Selain mengkritisi kebijakan pemerintah pusat (Orde Baru), menurutnya karya itu juga mengkritisi fenomena aktivis di negeri ini. Ketika demonstrasi jadi bahan jualan para aktivis nasi bungkus atau aktivis bayaran.

"Selain itu monolog ini merespon sisi seorang Wijhi sebagai suami dan ayah.  Bagaimana dikemudian hari, seandainya ia betul masih hidup, ia begitu bersedih tak bisa hidup bersama isteri dan kedua anaknya," paparnya.

Seniman muda Sulut ini juga mengungkapkan, karya tersebut khususnya lagi memberikan apresiasi kepada para tokoh aktivis pejuang keadilan yang terus berjuang sampai hari ini.

"Selain itu juga bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada Wijhi Tukul dkk, yang telah berjuang melawan Orba. Juga untuk mengenang dan menolak lupa peristiwa 'Kudatuli' dan penghilangan banyak aktivis," tandas mantan Direktur Umum Theater Club Manado ini.

Apresiasi dan sejumlah catatan kritis ikut mengiringi pentas yang dikibarkan ISBIM itu.

"Secara khusus, salut untuk musikalisasi puisi 'Nyanyian Kemerdekaan'," ucap seniman Sulut, Amato Assagaf, usai pertunjukan tersebut.

Ketua Dewan Kesenian Sulut, Kamajaya Al Katuuk, yang diberi kesempatan untuk memberikan catatan apresiasi, mengangkat jempol untuk ISBIM dan Achi yang mengotaki.

"Achi Breyvi Talanggai, seorang pegiat seni pentas yang produktif di Manado. Kali ini Achi menggelar 'paket' pertunjukannya dengan mendasarkan kreativitasnya pada puisi. Mulai dari baca puisi, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, dan monolog dengan menampilkan sosok Wiji Thukul sebagai episentrum pentas," urai Kamajaya.

"Jadi, kali ini Achi memang tengah menjadikan puisi sebagai pusat gempa, dengan tujuan untuk mengguncang kesadaran penonton," tandasnya.

'Mner Kama' yang tampak ikut terbenam dalam pentas itu mengakui jika penonton betul-betul seperti terpanggang dalam open gagasan.

"Kata-kata yang sarat dengan pesan merangsek imajinasi dan tentu sebagaimana hakikat puisi yang hiruk dengan pesan, maka yang digedor adalah kesadaran, terutama nalar. Maka saya, sempat mengobservasi, penonton yang hadir, sepertinya malah menikmati pembakaran atau imajinasi diri tersebut. Terhipnotis," aku Kamajaya.

Di ujung ulasannya, akademisi dan budayawan Sulut ini sempat melontarkan nada apresiasi untuk Balai Bahasa Sulut.

"Sebagai sebuah pementasan standar, upaya Balai Bahasa Sulut, yang menyiapkan panggung dan uang pengganti produksi, pantas dicatat. Program yang sudah beberapa tahun dijalankan ini jelas bermanfaat. Apalagi pelibatannya bersifat representasi dari berbagai sanggar, grup atau komunitas," sebut Kamajaya.

Kepala Balai Bahasa Sulut, Supriyanto Widodo menjelaskan, pentas tersebut merupakan pentas kedua dari sepuluh pementasan yang diagendakan Balai Bahasa dalam kegiatan Pentas Sastra di tahun 2017.

"Kami berharap, para pencinta seni bahkan masyarakat umum bisa terus menikmati pementasan-pementasan selanjutnya," harapnya.

Promotor program Pentas Sastra, Deisy Wewengkang menambahkan, kegiatan ini lahir dari Balai Bahasa untuk memberi ruang bagi para sastrawan,  penyair,  pencinta sastra di Sulut.

"Apalagi potensi sumber daya manusia di Sulut sangat luar biasa," tutur Wewengkang. (Rikson Karundeng)

Komentar

Populer hari ini

Sponsors