Panibe Uluna Koya

Penanda Ruang Hidup Yang Terlupakan

Panibe Uluna Koya

Oleh: Arfin Tompodung (Jurnalis, Pegiat Mawale Cultural Center)

 

Air beriak mengalir dari sebuah mata air Uluna yang jernih bening, namun sedikit bertaburan botol plastik dan sampah plastik saset-saset shampo. Sementara angin berdesis di sela-sela rimbunnya dedaunan pohon-pohon besar, yang tampak telah berdiri tegak sejak dulu. Berdiri di bawah naungan dahan-dahannya memberikan kesejukan tersendiri.

Pada pinggiran mata air itu berdiri sebuah batu. Ditanam para leluhur Minahasa. Seakan memberikan suatu pertanda. Mereka menyebutnya "Watu Panibe".  Berada di Kelurahan Koya Kecamatan Tondano Selatan.

 

Hati terasa sedih melihat keadaannya yang terabaikan. Sepi di sebuah kandang ayam milik warga. Sang pemilik rumah pun tidak mengetahui makna dan keberadaannya. Tapi syukurlah batu ini tidak dikeluarkannya. Sebab kata pemilik rumah, batu ini sangat unik, kelihatan dari bentuk yang datar seperti sedang berdiri sehingga ia mempertahankannya.

 

"Kita nentau ini kwa apa, kita cuma lia dia pe bentuk pe gaga skali jadi kita nda kase kaluar," kata James Tiwow. Panibe itu berada di halaman rumahnya.

 

Watu Panibe adalah batu penanda untuk mendirikan kampung di kalangan orang Minahasa. Sama halnya dengan Watu Tumotowa di Tontemboan dan Watu Tumou di Tonsea. Biasanya watu Panibe berada di posisi berbukit, pohon-pohon yang rindang dan dekat dengan aliran air. Watu Panibe ada untuk menjaga keseimbangan alam.

 

"Biasanya tu batu-batu badiri kampung orang-orang tua ja kase di ada pohon basar ato ada aer. Itu dorang ja kase tanda for mo jaga tu keseimbangan alam," kata Eka Egeten, salah satu pegiat di Mawale Movement.

 

Pakar sejarah dan budaya, Fendy Parengkuan mengatakan, Panibe atau Panimbe adalah batu pendirian kampung yang didirikan leluhur. Jika ada ritual atau upacara di kampung, itu biasanya dilaksanakan di Watu  Panimbe.

 

"Panibe atau Panimbe adalah batu berdiri kampung yang didirikan leluhur. Jika ada ritual atau upacara di kampung, itu biasanya beking di Panimbe," jelas Parengkuan.

 

Denni Pinontoan, akademisi  yang menekuni  budaya Minahasa menjelaskan, watu seperti Panibe atau Tumotowa awalnya adalah batu penjuru Wanua (Kampung). Tanda dari tumani atau pendirian kampung oleh para Dotu atau leluhur. Ia kemudian menjadi pusat ritual kampung yang dipimpin Walian (Pemimpin Agama). Watu Tumotowa menjadi penanda ruang hidup.

 

"Watu berdiri kampung adalah penanda ruang hidup, antara Wanua sebagai wilayah pemukiman dan lahan pertanian, serta kesatuan kosmis dengan alam dan Tuhan oleh komunitas atau wanua tersebut," terang Pinontoan. (**)


Komentar

Update berita mediasulut.co

Masukkan email anda untuk berlangganan berita terbaru dari kami.